5 Oktober 2022

Penulis :  Westi Annita Sari, Alumni Universitas Gunadarma

Dimensi.id-25 tahun yang lalu, tepatnya 11 Juli 1995, kekejaman terburuk pasca perang dunia kedua terjadi di daerah Srebrenica yang merupakan tempat berlindung puluhan ribu Muslim dari serangan tentara Serbia di timur laut Bosnia. Pembantaian massal menimpa sekitar 8.000 laki-laki dan remaja Muslim Bosnia oleh pasukan Serbia pimpinan jenderal Ratko Mladic. Sedangkan 25.000-30.000 Muslimah, anak-anak dan orang tua diusir dari tempat tinggalnya.

Kejadian ini bermula sejak Bosnia Herzegovina mendeklarasikan kemerdekaannya pada 1992 pasca referendum dan diakui oleh pemerintahan AS dan Eropa. Namun pemerintahan Serbia yang tidak menyetujui hasil referendum ini berusaha melakukan pembersihan etnis atas Muslim Bosnia. Umat Muslim terpaksa mengungsi di kamp-kamp pengungsian akibat kekejaman yang dilakukan oleh tentara Serbia.

Srebrenica adalah salah satu kamp pengungsian terbesar dan dinyatakan sebagai zona aman oleh PBB serta dijaga oleh 400 penjaga perdamaian dari Belanda. Namun, saat pembunuhan massal itu pasukan PBB tidak mampu berbuat apapun dengan dalih kalah persenjataan dari pasukan Serbia. Bahkan pengadilan memutuskan bahwa Belanda turut bertanggung jawab atas pembantaian tersebut. “Pasukan Belanda bertindak di luar hukum dengan mengevakuasi 350 orang (keluar dari pangkalan PBB),” kata pengadilan sebagaimana dikutip oleh kantor berita Reuters.

Dalam sejarahnya, Balkan merupakan wilayah yang kerap berkonflik. Selama berabad-abad rakyatnya menyaksikan pertumpahan darah, eksploitasi dan ketidakamanan hingga datanglah Islam yang membawakan kedamaian, kesejahteraan dan keamanan di tengah-tengah mereka. Penaklukan pertama ke wilayah Balkan dimulai oleh pasukan Sultan Orhan I yang hidup pada masa Khilafah Abbasiyah pada 1352 ketika pasukannya berhasil merebut Kastil Tzympe di Bulgaria. Sejak saat itu hingga pertengahan abad ke-16, Balkan berada di bawah dominasi Islam melalui tangan Pemerintahan Utsmani. Ketenangan, keamanan dan kesejahteraan yang mereka peroleh sejak kedatangan Islam mengakibatkan berbondong-bondongnya rakyat di sana untuk memeluk Islam secara sukarela.

Segala perselisihan antara berbagai kepercayaan Kristen pun berakhir di bawah pemerintahan Islam. Bahkan, salah satu sekte Kristen yang paling radikal, Bogomil, masuk Islam dan membentuk komunitas Muslim dari etnis Slavia. Catatan sejarah membuktikan bahwa orang-orang non-Turki dan non-Muslim di Balkan menjalani masa yang paling damai, paling bebas dan paling mudah di bawah pemerintahan Islam.

Tapi, ketika kekhilafahan runtuh dan racun nasionalisme merebak di penjuru dunia, rakyat Balkan berbalik lagi kepada nasionalisme yang kemudian mengabaikan nilai-nilai  kehidupan Islam, mereka terjatuh kembali ke dalam kegelisahan, marginalisasi, rasisme, kampanye asimilasi dan medan peperangan berdarah serta pembantaian.

Tragedi kemanusiaan yang terus saja terjadi di era yang semakin modern ini,  ketika informasi bisa tersebar dengan luas dan cepat, ilmu pengetahuan dan  teknologi semakin maju, namun seperti tidak ada yang mampu untuk mengatasi tragedi-tragedi tersebut. Semua ini tidak lain adalah buah dari paham nasionalisme dan model negara bangsa yang dianut oleh negara di seluruh dunia saat ini. Manusia disekat oleh jati diri bangsa dan ras tertentu sehingga konflik dan separatisme adalah keniscayaan, ketidakadilan dan hilangnya rasa kemanusiaan merupakan hal yang lumrah.

Pemerintah-pemerintah dunia saat ini tentu mengetahui kekejaman yang diterima kaum Muslim di seluruh dunia namun hanya bisa memberikan rasa iba, mengutuk, memberi bantuan seadanya tanpa ada aksi nyata untuk menyelesaikan tragedi ini. Banyak pula yang berkilah bahwa masing-masing negara punya permasalahan yang lebih utama untuk mereka tangani. Lalu, siapa yang mampu melindungi umat Muslim? Sedangkan Muslim secara individu atau kelompok pun tidak memiliki kekuatan untuk membantu secara utuh.

Sikap ini tentu sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam. Dalam Islam persatuan umat Muslim adalah hal yang utama, ashabiyyah adalah hal yang dilarang sebagaimana sabda Rasulullah: “Bukan dari golongan kami orang-orang yang menyeru kepada ashabiyyah (nasionalisme/sukuisme), orang yang berperang karena ashabiyyah serta orang-orang yang mati karena ashabiyyah.” (Abu Dawud)

Tidak berhenti pada tragedi Srebrenica, sesungguhnya umat Muslim sampai pada detik ini di seluruh penjuru dunia masih menerima kekejaman, penindasan dan ketidakadilan. Tengok saja Muslim Rohingya, Xinjiang, Palestina, Suriah hingga Muslim minoritas di negeri-negeri Barat.  PBB yang menyematkan diri sebagai lembaga internasional yang menjunjung tinggi hak asasi manusia nyatanya tak mampu berbuat apa-apa. Lembaga ini hanyalah kedok untuk menguatkan cengkeraman Barat di seluruh dunia.

Umat Muslim yang menempati urutan kedua sebagai jumlah pemeluk agama terbesar di dunia dengan jumlah sekitar 1,6 miliar manusia juga tak mampu berbuat apa-apa melihat saudaranya dianiaya sedemikian rupa. Bahkan para pemimpin negeri Muslim dengan tega mengusir saudara seiman yang berusaha mencari perlindungan ke negera mereka.

Padahal Rasulullah SAW bersabda: Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam.” (Shahih Muslim No. 4685)

Rasulullah juga bersabda: “Seorang Mukmin satu dengan Mukmin yang lain laksana satu bangunan-satu bagian memperkuat bagian yang lain.” (HR Bukhari)

Lalu, mengapa terjadi sebaliknya? Apa yang salah dengan umat Muslim saat ini? Dalam sejarah masa keemasan Islam, yaitu sejak negara Islam ditegakkan oleh Rasulullah di Madinah hingga runtuh pada masa kekhilafahan Utsmani pada 1924 M, nyawa seorang Muslim dianggap sangat berharga.

Dalam sejarah penerapan Islam, negara menerapkan sanksi yang tegas bagi siapapun yang menumpahkan darah seorang Muslim ataupun yang melecehkan kemuliaan seorang Muslim. Bahkan siap berperang untuk membela nyawa dan kemuliaan Muslim. Negara Islam dapat memiliki kekuatan yang begitu besar karena sistem Islam yang dianutnya, menjadikannya negara yang kuat, mandiri, tidak bergantung pada negara lain, memiliki visi dan misi yang jelas sehingga mampu menjadi negeri adidaya yang ditakuti oleh para pembenci Islam. Inilah kunci jawaban dari permasalahan yang mendera kaum Muslim saat ini.

Tragedi kemanusiaan yang menimpa kaum Muslim ini hanyalah salah satu contoh bukti dari urgensi penerapan Islam secara kaffah dalam bingkai khilafah ala minhajin nubuwwah. Tidak ada institusi yang mampu menjaga jiwa-jiwa kaum Muslim kecuali khilafah, negara yang berfungsi sebagai pelayanan (raa’in) dan pelindung rakyat (junnah). Negara yang mampu mengangkat derajat dan martabat kaum Muslim serta mewujudkan rahmatan lil alamin. Institusi negara yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan mampu berdiri selama sekitar 13 abad. Sudah saatnya kaum Muslim berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkan kembali khilafah serta mencampakkan ide-ide kufur seperti nasionalisme dan melepaskan diri dari lembaga internasional pro kufur seperti PBB.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al Maidah: 208) []

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: