30 September 2022

Penulis : Meitya Rahma, Pegiat literasi. Anggota komunitas Revowriter.

Dimensi.id-Ternyata bukan cuma corona saja yang bisa menular, resesi pun juga bisa menular. Macam virus saja, resesi bisa menular dari negara satu ke negara lain. Negara terangga kita, Singapura mengalami resesi yang nantinya bisa berimbas ke negara kita. Negeri Singa ini memiliki korban corona terbesar kedua setelah China. China sebagai negara ekonomi terbesar kedua di dunia pun terkena resesi akibat pandemi korona. Maka Indonesia dan negara negara lain sebagai mitra dagangnya pun terkena  dampaknya. Terbukti bukan jika resesi ini macam korona yang bisa menular kemana saja?

Dampak virus corona pada perekonomian akan terasa dalam jangka pendek..Ekonomi global melemah akibat pandemi Covid-19. Sebagian besar negara maju dan berkembang berpotensi mengalami resesi pada perekonomiannya, tak terkecuali Indonesia. Ampuhnya virus Corona dan resesi ini mirip, sama sama melumpuhkan sendi perekonomian. Resesi sendiri merupakan penurunan aktivitas ekonomi secara signifikan dan berlangsung setidaknya dalam dua kuartal beruntun (CNBCnews.com). Suatu negara dikatakan mengalami resesi jika produk domestic bruto (PDB) mengalami kontraksi atau minus dalam 2 kuartal beruntun secara tahunan atau year-on-year (YoY). Sementara jika PDB minus 2 kuartal beruntun secara kuartalan atau quarter-on-quarter (QoQ) disebut sebagai resesi teknikal. Melansir The Balance, ada 5 indikator ekonomi yang dijadikan acuan suatu negara mengalami resesi, yakni PDB riil, pendapatan, tingkat pengangguran, manufaktur, dan penjualan ritel (kompas.com).

Pada dasarnya resesi adalah hal yang biasa. dalam siklus perekonomian,tapi imbas dari resesi ini membuat perekonomian negara terpuruk. Jangankan Indonesia sebagai negara berkembang, Amerika sebagai negara Adi daya pun juga pernah mengalaminya., AS  sudah mengalami 33 kali resesi sejak tahun 1854 (CNBCnews.com).  Resesi Singapura kali ini adalah yang terburuk,karena pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi, pengangguran pun naik makin banyak. Hal ini juga dialami oleh negara kita, pandemi memberi dampak PHK besar besaran yang membuat lemah perekonomian rakyat. Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadikan Singapura sebagai barometer untuk pemerintah dalam memproyeksikan pertumbuhan ekonomi, di tengah mewabahnya epidemi virus corona (CNBC.news). Indonesia terakhir mengalami resesi pada tahun 1998 dan mungkin akan terulang di tahun ini karena pandemi yang tak ada ujungnya. Pandemi membuat perekonomian di setiap negara mengalami  penurunan.

Arus perdagangan  (ekspor ataupun impor) melemah, sektor  pariwisata pun tak luput terkena dampak.  Semua ini  mendorong penurunan pendapatan masyarakat yang kemudian berdampak pada penurunan pengeluaran konsumsi rumah tangga. Maka masyarakat berpenghasilan menengah turun kelas menjadi masyarakat pra sejahtera. Bisa dibayangkan seperti apa masyarakat Indonesia nantinya. Beban perekonomian sebelumnya demi sudah membuat masyarakat  susah, ditambah resesi ekonomi yang akan terjadi di Indonesia bahkan seluruh dunia. Korona  dan Resesi masing masing merupakan virus yang mematikan, efeknya luar biasa bagi dunia. Resesi mematikan perekonomian,Korona juga mematikan perekonomian dan juga manusia. Lalu  adakah solusi untuk mengatasi resesi ini.

Resesi ekonomi global ini selain pandemi sebagai penyebabnya, sistem bunga ribawi yang masih digunakan di masing masing negara juga memberi kontribusi dalam resesi global ini.  Riba era modern ini dapat berupa: 1) sistem bunga; 2) sistem uang kertas; 3) sistem perbankan cadangan fraksional; 4) sistem leverage; 5) turunan; dan 6) sistem kartu kredit Sistem Perbankan Cadangan Fraksional, Suku Bunga dan Uang Fiat. Ini telah menjadi akar penyebab utama krisis keuangan. Ketiga unsur ini adalah pilar utama sistem keuangan konvensional yang mengandung riba dan dilarang dalam perspektif ekonomi Islam (Fatih, dalam L Anas,2017). Keuangan ribawi merupakan produk sistim kapitalis, maka solusi dari resesi ini bukan dengan hutang berbunga dan berjangka. Ini sama saja tidak akan menyelesaikan masalah,yang ada malah semakin parah. Untuk itu cara untuk keluar dari  jeratan resesi akibat sistim ribawi ini adalah dengan menstabilkan sistim moneter. Upaya menstabilkan sistem moneter dengan dua cara  ( Fatih, dalam L Anas,2017):  

1.Mengubah dominasi dolar dengan sistem moneter berbasis dinar dan dirham yang merupakan alat tukar yang adil dan terukur. Dalam perjalanan sejarah penerapannya, dinar-dirham sudah terbukti sebagai mata uang yang nilainya stabil karena didukung oleh nilai intrinsiknya. Selama ini mata uang dolar sering dijadikan alat oleh Amerika Serikat untuk mempermainkan ekonomi dan moneter suatu negara. Bahkan Amerika sebagai pencetak dolar bisa dengan mudahnya bisa membeli barang-barang dari negara-negara berkembang dengan mata uang dolar yang mereka miliki.

2. Mengganti  perputaran kekayaan di sektor non-riil atau sektor moneter yang menjadikan uang sebagai komoditas menjadi ke arah sektor riil.  Sektor ini, selain diharamkan karena mengandung unsur riba dan judi, juga menyebabkan sektor riil tidak bisa berjalan secara optimal. Karena itu ketika sektor non riil ditutup atau dihentikan maka semua uang akan bergerak disektor riil sehingga roda ekonomi akan berputar secara optimal.

Selain hal diatasi, dalam sistem ekonomi Islam juga dikenal tiga jenis kepemilikan: kepemilkan pribadi; kepemilikan umum dan kepemilikan negara. Benda-benda milik umum tersebut tampak dalam tiga hal: (1) yang merupakan fasilitas umum; (2) barang tambang yang tidak terbatas; (3) sumberdaya alam yang sifat pembentukannya menghalangi untuk dimiliki oleh individu. Kepemilikan umum ini dalam sistem ekonomi Islam wajib dikelola oleh negara dan haram diserahkan ke swasta atau diprivatisasi. Dengan demikian negara memiliki kemandirian dan  ketahanan perekonomian dalam negri. Sehingga terhindar dari ketergantungan terhadap hutang dan ketergantungan dari negara lain ( AS misalnya).  Maka perekonomian negarapun terhindar dari resesi dan juga terhindar dari hutang.

Namun penerapan sistim ekonomi semacam ini tidak akan bisa diterapkan di negri kita yang memakai sistim ekonomi kapitalis. Sebab ekonomi kapitalis tidak akan pernah bisa disandingkan dengan sistim ekonomi Islam untuk saling beriringan. Jika ingin terhindar dari resesi ini maka sistim ekonomi Islam menjadi satu satunya penyelesaian. Dalam penerapannya sistim ekonomi Islam membutuhkan Supra sistim yaitu Khilafah/ sistim pemerintahan Islam. Khilafah akan mengatur semua lini kehidupan (ekonomi,sosial,politik,dll) berdasarkan syariat Islam. Pandemi dan Resesi bak virus yang akan mengancam stabilitas negara. Sudah saatnya mencari solusi alternatif yang lebih jitu untuk mengatasinya.  Sistim kapitalis yang diterapkan di seluruh negara terbukti  tidak bisa menyelesaikan resesi maupun pandemi. Kini saatnya membuktikan bahwa Islam merupakan real solusion bagi pandemi dan Resesi ini. Semoga solusi Islam bisa diterapkan secara global agar pandemi dan resesi bisa teratasi.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: