3 Oktober 2022

Penulis : Merli Ummu Khila, Kontributor Media dan Pemerhati Kebijakan Publik

Dimensi.id-Dahsyatnya efek serangan virus Covid-19 yang melanda dunia. Makhluk renik ukuran 125 nanometer atau 0,125 mikrometer ini mampu memporakporandakan perekonomian global. Amerika yang mempunyai ketahanan ekonomi super power tinggi akhirnya harus takluk. Apalagi negara berkembang seperti Indonesia, yang sebelumnya saja perekonomian sudah morat marit.

Ibarat sekeranjang telur di ujung tanduk, hanya menunggu waktunya pecah berantakan. Begitulah  gambaran nasib rakyat Indonesia saat ini. Ancaman resesi di depan mata. Bayang-bayang mengulang kehidupan suram tahun 1998 silam.

Tidak ada aspek yang tidak terdampak. Karena setiap aspek terintegrasi terutama berhubungan dengan perekonomian. Supply dan demand seolah lingkaran setan.

Pengurangan pasokan mendadak atau supply shock menyebabkan PHK massal. Penurunan supply dikarenakan penurunan demand karena pendapatan masyarakat menurun.

Seperti dilansir oleh detik.com, 18/07/2020, Dalam peluncuran laporan Bank Dunia untuk ekonomi Indonesia edisi Juli 2020, tak ada jaminan bagi ekonomi Indonesia terbebas dari resesi. Ekonomi Indonesia bisa mengalami resesi jika infeksi COVID-19 terus bertambah banyak. Terlebih lagi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa kali mengingatkan para menterinya soal ancaman tersebut.

Berbicara fakta, masyarakat sudah merasakan sendiri kesulitan hidup saat ini. Kalau istilah anak muda madesu atau masa depan suram. Bagaimana tidak, pemerintah sudah kehilangan legitimasi di mata masyarakat. Apa yang mau diharapkan?

Bukan berarti menyalahkan penuh pada rezim ini, karena toh sejak dulu pun masyarakat belum pernah merasakan kesejahteraan. Dari terpenuhi kebutuhan dasar. Terjaminnya kesehatan dan pendidikan. Rezim berganti rezim tidak ada perubahan yang pundamental.

Hal ini terjadi karena perbaikan yang dilakukan hanya sebatas pergantian pejabat pemangku kekuasaan. Legislator yang menggodok undang-undang pun sama. Ibarat tambal sulam. Sibuk membangun infrastruktur, pembangunan sumber daya manusia terbengkalai.

Lebih dari itu, kebobrokan demokrasi pun sudah menjadi rahasia umum. Pemimpin terpilih bukan berdasarkan aspirasi rakyat. Serta tingginya pembiayaan pesta demokrasi menuju kursi kekuasaan, membuat celah kolusi antara calon dan pemilik modal.

Maka bisa dipastikan kelak kekuasaanpun tidak pernah lepas dari kepentingan. Baik kepentingan kolega maupun kepentingan partai  pengusung. Praktik KKN ini seolah menjadi kutukan demokrasi. Siapapun yang terlibat didalamnya akan terjebak KKN.

Lalu apa yang mau dipertahankan dari sistem ini? Sistem kapitalisme sosialisme terbukti tak berdaya menghadapi pandemi. Bertahan sama artinya memperpanjang penderitaan. Mewariskan anak cucu kita kelak sebuah kehidupan yang tidak layak.

Kembali pada kehidupan Islam adalah sebuah harapan terwujudnya kesejahteraan. Mengapa dikatakan kembali? karena dulu sudah pernah diterapkan. Kesejahteraan pernah dikecap oleh milyaran manusia di dua pertiga bumi.

Bukti tingginya peradaban Islam masih tercatat oleh sejarah. Peninggalan kekhilafahan pun masih bisa disaksikan di berbagai negara.

Musthafa As Siba’i dal am kitab Min Rawa’i Hadhratina memuat perkataan sejumlah tokoh salah satunya, Montgomery Watt mengungkapkan, “Cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan Islam yang menjadi ‘dinamo’-nya, Barat bukanlah apa-apa.”

Hal yang sama pernah dikatakan oleh Barack Obama. Dia mengatakan. “Peradaban berhutang besar pada Islam.” Maksudnya adalah peradaban Barat memiliki utang besar kepada peradaban Islam.

Islam adalah sebuah ideologi yang memberi rahmat seluruh alam. Semua makhluk di muka bumi ini tanpa terkecuali. Setiap aspek kehidupan diatur sedemikian rupa oleh Allah Swt. Kita tinggal menerapkan saja. Tidak perlu mengodok aturan seperti sekarang ini.

Perlu pembuktian seperti apalagi untuk meyakinkan masyarakat bahwa sistem Islamlah yang layak diterapkan. Dan yang paling penting bahwa kebangkitan Islam adalah sebuah keniscayaan.

Penerapan sistem Islam merupakan sebuah janji Allah Swt dan kewajiban bagi setiap muslim. Sebuah konsekwensi dari keimanan, karena dalil tegaknya khilafah jelas termaktub dalam Al-Quran, Sunnah, Qiyas dan Ijma sahabat.

Hanya khilafah pilihan tunggal jika memang ingin segera keluar dari problematika yang telah sekian lama membelit dunia ini. Membangun peradaban baru, New order word yang bernama  Daulah Khilafah Islamiyah ala Manhajin Nubuwwah.

Wallahu’alam bishawab

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: