5 Oktober 2022

Penulis : Rina Tresna Sari, S.Pd.I (Pendidik Generasi Khoiru Ummah dan Member AMK)

Dimensi.id-25 tahun telah berlalu, tragedi genosida atas pembantaian muslim Srebrenica di Bosnia. Dilansir dari BBCNews.com, 11/7/2020, Mantan Sekretaris Jenderal Kofi Annan menyatakan, “Pada tanggal 11 Juli 1995, unit-unit pasukan Serbia Bosnia merebut kota Srebrenica di Bosnia-Herzegovina. Dalam waktu kurang dari dua minggu, pasukan mereka secara sistematis membunuh lebih dari 8.000 Bosniaks (umat Muslim Bosnia) – pembunuhan massal terburuk di tanah Eropa sejak akhir Perang Dunia Kedua”.

Tragedi Srebrenica dan perang Bosnia memakan ribuan korban. Namun, apa yang diperbuat oleh negara lain yang mayoritas muslim, tak lantas membuat negara-negara menurunkan bala bantuan berupa kekuatan pasukan. Agar bisa membantu saudara semuslimnya. Tak berbeda dengan itu, PBB yang notabenenya organisasi internasional seharusnya menyelesaikan permasalahan perdamaian, nyatanya tak mampu berbuat lebih dari yang diharapkan.

Pasukan penjaga perdamaian PBB yang memegang senjata ringan, yang ada di wilayah yang dinyatakan sebagai “daerah aman” PBB, tidak melakukan apa-apa ketika kekerasan berkobar di sekitar mereka. Mantan Sekretaris Jenderal Kofi Annan kemudian menyatakan, “Tragedi Srebrenica akan selamanya menghantui sejarah PBB.”

Mengapa hal ini bisa terjadi? Mana kekuatan kaum muslim yang disebut Allah SWT sebagai umat terbaik? Tidak mampukah menjadi terhormat di mata dunia?

Sebagaimana firman Allah SWT dalam (QS. Ali Imron: 110) yang artinya :

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron: 110).

Fakta bicara sebaliknya. Umat Islam menjadi korban pembantaian dan diskriminasi hampir di belahan dunia dimana mereka tinggal. Akar permasalahannya terletak pada sistem dan ideologi yang digunakan oleh negara. Sistem kapitalisme-sekularisme sebagai biang keterpurukan. Ini menjadikan sekat nasionalisme sebagai pembatas yang nyata.

Sistem ini memaksa negara tidak mencampuri urusan negara lain. Yang boleh dilakukan hanya sebatas memberikan bantuan finansial dan bahan pokok yang dibutuhkan. Selebihnya dianggap intervensi berlebihan.

Paham nasionalisme telah menjadi penyebab negeri-negeri muslim yang pernah menjadi bagian dari kekhilafahan, kini bebas mengatur diri sendiri dengan aturan yang dibuat sendiri. Lalu mengadopsi kesepakatan-kesepakatan internasional. Termasuk yang paling dasar adalah nasionalisme, yang diawasi dan diatur dengan perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Hal ini yang membuat negara-negara barat dengan mudah menguasai dan menjajah negeri-negeri muslim yang telah mereka ubah menjadi nation state dengan berbagai macam dalih. Salah satunya adalah penawaran investasi yang sebenarnya hanya menguntungkan negara-negara investor.

Umat Butuh Islam

Islam memiliki konsep alternatif untuk menggantikan nasionalisme yang menjadi sekat terpisahnya kaum muslim dunia sehingga tidak memiliki kekuatan yang akhirnya teraniaya, bahkan nyawa ribuan muslim sama sekali tidak berharga, padahal Allah SWT menyatakan nyawa seorang muslim lebih berharga dari dunia ini, seperti hadist Rasulullah yang artinya:

Sungguh lenyapnya dunia masih lebih ringan disisi Allah dibandingkan terbunuhnya satu orang muslim.”(HR. At Tirmidzi, An Nasaai, dan Ibnu Majah).

Tragedi Srebrenica dan perang Bosnia menjadi pelajaran penting bagi umat ini. Bahwa tanpa khilafah negeri muslim akan terus menjadi medan pertarungan kepentingan negara besar yang tak segan mengorbankan ribuan nyawa muslim. Tragedi ini juga menjadi bukti tidak adanya perlakuan adil PBB terhadap negara berpenduduk muslim. Bahkan, PBB menjadi alat melegitimasi kebengisan segelintir penjahat untuk memuaskan nafsu kedengkiannya terhadap Islam dan kaum muslim, juga hendaknya menjadi pelajaran penting bagi kita. Bahwa kaum muslimin butuh perisai, tameng dan pelindung yang akan senantiasa menjaga mereka dan berperang untuk mereka hingga menciptakan keamanan tanpa ada teror dari pihak musuh. Semua hanya akan terjadi bila kita kembali menerapkan Islam sebagai aturan kehidupan yang akan melindungi jiwa, harta, keturunan, akal kehormatan, agama dan hal lainnya agar tidak terenggut musuh-musuh Islam. Di samping tetap berjalan sesuai fitrah, membawa ketentraman bagi jiwa dan memuaskan akal.

Wallahu a’lam bishshawab.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: