5 Oktober 2022

Penulis : Sri Wedari

Dimensi.id-Tak pernah sepi berita tentang keadaan perempuan, mulai dari pelecehan seksual, pemerkosaan hingga yang tak kurang tragisnya pembunuhan. Menimpa perempuan baik dari golongan usia belia (kanak- kanak), remaja hingga usia dewasa. Bertolak dari nyaringnya gaung yang dihembuskan kaum liberal yang diadopsi dalam tatanan sistem kita hari ini bahwa perempuan adalah bagian dari pembangunan, perempuan harus diberi hak yang sama dengan laki- laki dalam berpartisipasi dalam ranah publik, kesetaraan gender menjadi pembelajaran penting yang harus disosialisasikan hingga kepelosok negeri dan pemberdayaan perempuan untuk ikut menyumbang bagi meningkatnya perekonomian.

Tanpa disadari justru hal ini membawa sumbangsih besar bagi derita kaum perempuan seperti dijelaskan oleh Sosiologi Universitas Sumatera Utara Harmona Daulay, “Meningkatnya angka perceraian beberapa tahun belakangan ini disebabkan tingginya eksistensi perempuan di dunia kerja yang membuat perempuan lebih independen dan mandiri dari sisi ekonomi, mampu memenuhi keungannya sendiri namun di sisi lain waktu yang berkurang untuk melakukan tugas-tugas-nya sebagai istri dan ibu diperparah semakin terkikisnya fungsi-fungsi keluarga dalam masyarakat, hingga membuat berkurangnya nilai kesakralan berumah tangga di tambah kurangnya pemahaman agama tentang nilai- nilai dalam sebuah pernikahan. Fatalnya dalam setiap percerain selalu membawa dampak negatif bagi anak anak hasil perceraian walau pun perceraian dengan cara baik baik tetap kata Harmona berdampak buruk bagi sikologis anak anak. Sayangnya hal ini diabaikan oleh kebanyakan pasangan yang bercerai. (Republika.co.ID)

Tingginya angka perceraian hingga menembus angka 3457 kasus kurun waktu tahun 2019 hingga 2020. (kaldera.Id)

Ini baru untuk Kota Medan belum lagi kota-kota lainnya di seluruh Indonesia. Penyebabnya beragam dari mulai ekonomi hingga kekerasan dalam rumah tangga (kdrt) yang dipicu dari perselingkuhan pun juga tidak sedikit.

Komnas perempuan sendiri mencatat ada 406,117 kasus yang terjadi di tahun 2019 terdiri dari 329 kasus kekerasan seksual pada wanita dewasa dan 1849 kasus kekerasan seksual pada anak baik laki laki dan perempuan sungguh memilukan. Tak kalah runyamnya diera fandemik justru meningkat 3 kali lipat yang biasanya perbulan berkisar 30 kasus meningkat jadi 90 kasus, mencapai tiga ratus persen. (Kompas.com)

Sungguh kepiluan yang diambang batas, bagaimana bangsa ini bisa memiliki generasi yang kuat, cerdas, tangguh dan berakhlak mulia bila pegangan mereka sudah tidak ada, teladan dari ayah bunda sudah sirna.

Imbas perceraian ini mendatangkan persoalan baru baik bagi pribadi yang mengalaminya yang disana ada perempuan ( istri) ada laki- laki ( suami) dan ada anak – anak buah dari pernikahan yang sudah hancur. Maka tak jarang peran ibu dan peran ayah pun tergantikan orang lain, sebab ibu yang harusnya mengasuh, menjaga putra putrinya kini harus bekerja bahkan tak jarang harus bekerja di luar daerah bahkan sampai harus jadi tenaga kerja wanita( TKW) keluar negeri. Banyak kasus pelecehan bahkan pemerkosaan kepada anak- anak terjadi disebabkan tidak adanya penjagaan, pengawasan dari orang tua sebab orang tuanya bekerja.

Di tambah bebasnya akses media internet yang dengan mudah didapati tanpa batas usia. Konten pornografi bersilewaran mengundang birahi, benar-benar pemicu terjadinya pelecehan. Sepanjang tahun 2016-2020 pelecehan hingga pemerkosaan terjadi mulai dari pelecehan diangkutan umum, pemerkosaan siswi SMP pulang dari sekolah digilir hingga mati dan mayatnya dibuang tanpa belas kasihan. (Kompasiana.com)

Seolah perempuan tiada penjaga dan pelindung. Kebebasan yang diimpikan justru menjadi bumerang yang mematikan. Kecantikan, keindahan yang Allah anugerahkan justru mengundang kecelakaan bagi perempuan. Sebab semua perlindungan yang disyariatkan untuk dilakukan justru di abaikan. Berpakaian minim, mengumbar aurat jadi kebanggaan. Pergaulan bebas antara laki- laki dan perempuan jadi hal yang biasa, hingga memicu perselingkuhan dan perzinahan yang pada ahirnya perempuanlah yang menanggung beban paling berat.

Di satu sisi perempuan diberi kesempatan seluas luasnya untuk berkiprah dalam percaturan ekonomi, politik, budaya dan lini lini lainnya. Hanya sayangnya aspek penting justru dilupakan, kalau perempuan tetaplah perempuan makhluk mulia yang Allah ciptakan dengan segala potensi kelebihan dan kekurangan dengan fitrahnya yang Allah sertakan. Sayangnya dalam sistem liberal hari ini semua fitrah itu terabaikan bahkan sengaja dihilangkan demi tercapainya tujuan misi kaum kapital liberal.

Islam Memuliakan Perempuan

Islam menghapus diskriminasi antara laki laki dan perempuan dengan memuliakan perempuan yang sebelumnya tradisi bangsa arab jahiliyyah membunuh bahkan mengubur hidup hidup anak anak perempuan yang lahir. Islam pula yang menghapuskan perbudakan, hingga wanita-wanita kala itu bisa hidup merdeka tanpa diskriminasi hingga hari ini, apapun suku dan bangsanya, apapun warna kulitnya semua sama dihadapan Allah sang pencipta,yang membedakan nilai seseorang hanyalah sebab iman dan takwanya. Sejarah mencatat dengan tinta emas bagaimana di masa kejayaan Islam pada masa Kehilafahan Abbasiyah seorang Kholifah Mu’tasim Billah membela kehormatan seorang wanita muslimah yang dilecehkan dengan menarik kainnya (roknya) menyebabkan tersingkaplah aurat bagian kaki wanita tersebut. Apa yang dilakukan sang Khalifah? Sungguh diluar dugaan dan belum pernah dilakukan diera kini yang sangat mengedepankan, mengagungkan hak azazi manusia (HAM).

Sang khalifah mencari para lelaki yang telah berani melecehkan seorang wanita yang seorang wanira biasa ( rakyat biasa) dengan mengerahkan bala tentara kekhilafahan dari Baghdad pusat ibu kota kekhilafahan hingga ke Amuria (Turki saat ini). Sebab pelakunya adalah orang-orang Roma Amuria (dalam kitab Al- kamil fi al-Tarikh karya Ibn Al-Atir). Sungguh sikap pemimpin yang luar biasa menjaga kehormatan walau hanya seorang wanita, tanpa membedakan dari mana wanita itu berada dan bagaimana status sosialnya.

Bercermin dengan kondisi hari ini sungguh membuat fikiran dan hati kita bergolak. Betapa inginnya kita kalau perempuan-perempuan mendapatkan kebaikan, keistimewaan dalam penjagaan para pemimpin yang mencontoh sang khalifah Mu’tasim billah. Namun hal ini tidak akan pernah terjadi selama sistem kapitalis liberalis yang dijadikan acuan dalam menjalankan negeri ini.

Solusinya hanya satu, yaitu bebaskan perempuan dari cengkraman kapitalis liberalis dengan menerapkan kembali Islam kaffah yang pasti melepaskan perempuan dari derita yang tak berujung, kepada kebahagiaan yang hakiki sebab syariat Islam sesuai fitrah penciptaan perempuan dan Islam pastinya Rahmatallil’aalamiin.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: