5 Oktober 2022

Penulis : Eviyanti ( Pendidik Generasi Dan Member Amk )

Dimensi.id-Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto menyatakan sebagian besar kasus pasien positif virus Covid-19 yang baru ditemukan hari ini kebanyakan berstatus sebagai orang tanpa gejala (OTG).

Seperti yang dilansir oleh cnnindonesia.com, Minggu (12/07/2020), Yurianto menyatakan pasien dengan status OTG sama sekali tak merasakan keluhan dan tak merasakan sakit apapun meski sudah dinyatakan positif Covid-19.

“Secara keseluruhan sebagian kasus baru yang kita dapatkan pada hari ini, adalah kasus baru yang tidak ada indikasi untuk dirawat di rumah sakit,” kata Yurianto dalam konferensi persnya di Kantor BNPB, Jakarta, Minggu (12/7).

Melihat hal itu, Yurianto berpandangan pasien Covid-19 dengan status OTG wajib melaksanakan karantina mandiri secara ketat. Hal itu bertujuan agar tak menjadi sumber penularan bagi orang lain. Yurianto pun menyatakan beban Rumah Sakit tak terdampak sampai saat ini meski kasus baru positif  Covid-19 mengalami peningkatan.

“Ini yang kemudian kita lihat kasus beban layanan rumah sakit tidak meningkat meskipun kasus baru kita temukan lebih banyak,” kata dia.

Diketahui, jumlah kasus positif virus Covid-19 di Indonesia mengalami penambahan sebanyak 1.681 orang per Minggu (12/7). Sehingga, total pasien positif di Indonesia secara kumulatif mencapai 75.699 kasus. Dari total itu, sebanyak 35.638 orang dinyatakan sembuh dan 3.606 orang lainnya meninggal dunia.

Yurianto juga mencatat total ada beberapa provinsi yang mengalami penambahan kasus pasien sembuh lebih banyak dibandingkan kasus positif per hari ini. Provinsi itu diantaranya Bali dengan 59 sembuh dan 48 kasus positif  baru. Banten dengan pasien sembuh 50 dan kasus baru sebanyak 12. Yogyakarta dengan pasien sembuh 2 orang dan penambahan kasus baru 1 orang.

Lalu, Jambi dengan pasien sembuh sebanyak 9 dan nihil kasus baru. Kalimantan Barat dengan 12 orang sembuh dan 3 kasus baru. Kalimatan Selatan dengan total sembuh 107 orang dan kasus baru sebanyak 77 orang. Lalu Kepulauan Riau dengan 7 orang sembuh, 5 kasus baru.

World Health Organization (WHO) kembali memperbarui, ringkasan ilmiah Transmisi SARS-CoV-2 yang diterbitkan sejak 29 Maret 2020. Isinya terkait, COVID-19 bisa menular melalui udara dan pola pencegahannya. Sebelumnya, 239 ilmuwan dari beragam negara mendapati, virus ini bisa menular melalui udara. Hal itu berdasarkan riset mereka yang bertajuk: It is Time to Addressairbone Transmission of COVID-19.

Temuan-temuan baru terhadap sebaran virus COVID-19 semestinya diiringi tindakan nyata pemerintah untuk memastikan putus rantai penularan. Sementara, pemerintah mengkonfirmasi temuan PBB bahwa ada peluang sebaran melalui udara (airbone), tidak ada kebijakan antisipasi terhadap pekerja kantoran, pegawai BUMN bahkan PNS. Semua rekomendasi berpulang pada kesadaran dan kehati-hatian individu. Pemerintah semestinya juga tidak menganggap sepele kasus OTG karena alasan tidak membebani RS, karena OTG terutama dari kalangan millennial di era pelonggaran bisa menjadi sumber ledakan baru.

Ini menjadi bukti ketika negara mengadopsi sistem yang bukan berasal dari Islam, yakni sistem kapitalis, liberalis, dan sekularis. Dimana dalam sistem ini tidak mementingkan urusan nyawa dan kemaslahatan rakyatnya. Sistem yang hanya mementingkan urusan yang akan menguntungkan mereka saja dan dengan segala kebijakan yang membingungkan serta selalu menyengsarakan rakyat.

Saatnya kembali pada sistem yang akan menjadi rahmat bagi seluruh alam, yakni sistem Islam. Islam menjadikan negara sebagai junnah (perisai) yang akan melindungi rakyatnya dan berupaya meminimalisasi korban yang berjatuhan akibat wabah seperti saat ini. Ketika telah diketahui ada wabah yang menyerang, negara akan segera menyatakan daerah itu diisolasi, sehingga wabah tersebut tidak akan menyebar keluar daerah.

Sebagaimana sabda  Rasulullah saw. “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR. Bukhari)

Maka dengan begitu tidak akan ada sebutan OTG atau orang tanpa gangguan, serta korban pun dapat diminimalisasi. Sudah saatnya umat manusia meninggalkan sistem kapitalisme, dan beralih pada sistem Islam. Sistem sahih yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, dan telah terbukti selama 13 abad berkuasa di dunia. Selama itu pula kesejahteraan dirasakan. Pemerintahan Islam akan bekerja maksimal menjalankan fungsi riayah dan junnah bagi rakyatnya. Dan melahirkan peradaban yang mulia.

Wallahua’lam bishshawaab

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: