3 Oktober 2022

Penulis : Yuniasri Lyanafitri

Dimensi.id-Dua puluh lima tahun telah berlalu mengenang pembantaian Srebrenica. Tepatnya pada tanggal 11 Juli 1995. Lebih dari 8.000 laki-laki dewasa dan anak kecil muslim Bosnia dibunuh dengan keji dalam waktu kurang dari dua minggu. Sementara itu, lebih dari 50.000 para pengungsi wanita dan anak-anak perempuan diperkosa secara sistematis. Peristiwa bengis tersebut terjadi akibat dari penyerangan perebutan Kota Srebrenica di Bosnia-Herzegovania oleh unit-unit pasukan Serbia Bosnia. (news.detik.com 11/7/2020)

Pasukan Serbia Bosnia yang dipimpin oleh Ratko Mladic melakukan penyerangan terhadap Bosnia-Herzegovania untuk menciptakan Serbia Raya dengan mengeluarkan Bosniak Muslim dari wilayah tersebut. Kebijakan penyerangan tersebut dikenal sebagai pembersihan etnis. Karena saat itu Republik Sosialis Bosnia dan Herzegovania adalah wilayah multi etnis yang terdiri atas Bosniak Muslim, Serbia Ortodoks, dan Kroasia Katolik. (news.detik.com 11/7/2020)

Selama penyerangan tersebut dari tahun 1992 hingga 1995, pasukan PBB tidak bisa berbuat banyak. Bahkan, mereka dipaksa mundur dan menyerah. Mereka hanya bisa menyaksikan tanpa melakukan perlawanan apapun. Organisasi besar dunia yang memiliki kekuatan militer di seluruh dunia, dengan mudah jatuh atas pasukan pemberontak. (news.detik.com 11/7/2020)

Begitulah umat Islam ketika tidak memiliki sebuah pelindung. Setelah diporak-porandakannya khilafah Turki Utsmani, umat Islam di seluruh dunia bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya. Umat dengan mudah dicerai berai dan ditindas oleh kekuatan lain. Umat menjadi korban dalam setiap perang yang dilakukan oleh negara-negara yang memiliki kekuasaan besar di dunia untuk memenuhi kepentingannya. Umat juga akan menjadi korban yang selalu ditekan hingga mereka tidak sempat untuk memikirkan kebangkitan umat.

Hal itu juga berlaku pada peristiwa Srebrenica. Hanya umat Islam yang mengalami penindasan, pembunuhan, dan pelecehan. Organisasi besar dunia seperti PBB dan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis tidak bisa melindungi umat dengan upaya penuh dan maksimal. Perlindungan yang dilakukan seperti hanya untuk formalitas belaka. Mereka menyerah dengan mudah.

Ditambah lagi, area save heaven yang disediakan oleh PBB untuk menampung para pengungsi perang, nyatanya tidak memberikan rasa aman. Karena faktanya pasukan Serbia Bosnia dapat dengan mudah membantai warga muslim di area aman tersebut. Selain itu, PBB juga terbukti memasok lebih dari 30.000 liter bensin untuk pasukan Serbia Bosnia yang mengangkut muslim laki-laki Bosniak ke kuburan massal mereka.

Dari tragedi tersebut, membuktikan bahwa PBB tidak memberikan perlakuan yang adil kepada negara yang penduduknya mayoritas kaum muslimin. Bahkan PBB menjadi alat legitimasi untuk melegalkan perbuatan segelintir orang atau sekelompok orang dalam mewujudkan kepentingannya dengan menindas Islam dan kaum muslimin. Kekejaman yang tersistem ini bukan hanya dirasakan oleh Srebrenica. Tetapi juga dirasakan oleh kaum muslimin di Suriah, Myanmar, Turkistan Timur, Afganistan, Somalia, Thailand Selatan, Filipina, Irak, Republik Afrika Tengah, Palestina, dan Yaman hingga saat ini.

Kehinaan dan penindasan ini akan terus dirasakan oleh kaum muslimin di dunia jika kekuasaan global masih dipegang oleh ideologi kapitalis. Ideologi yang berasaskan material. Ideologi yang melindungi kekuasaan para pemegang modal (kapital) untuk mewujudkan kepentingan pribadi atau golongan. Ideologi yang melegalkan perbuatan para kapital walaupun harus mengorbankan banyak nyawa manusia. Maka tidak mengherankan, kamp-kamp perlindungan yang diberikan PBB pada kaum muslimin Bosniak, tidak mempunyai pengaruh apapun.

Karena pada dasarnya, ideologi kapitalis ini akan terus menerus berusaha menindas Islam dan kaum muslimin. Mereka tidak akan membiarkan Islam menuju kebangkitannya. Walau hanya secercah cahaya kebangkitan yang tampak, mereka akan berusaha mati-matian untuk meredupkan bahkan mematikan cahaya itu. Upaya tersebut akan terus dilakukan termasuk melakukan berbagai penyerangan, baik berupa fisik atau non fisik.

Penyerangan fisik berupa penindasan dan penyiksaan terhadap kaum muslimin di seluruh dunia. Seperti yang dirasakan oleh kaum muslim Bosniak dulu dan berbagai negara muslim lain hingga kini. Penyerangan non fisik berupa upaya menjauhkan kaum muslimin dengan ajaran Islam. Upaya tersebut dengan menghilangkan berbagai hal yang bisa mengingatkan kaum muslimin dengan kegemilangan Islam. Termasuk memberikan tsaqofahnya sebagai landasan dalam berpikir dan bersikap.

Para penganut ideologi kapitalis juga melakukan pembodohan massal pada kaum muslimin seluruh dunia sehingga mereka sebagai seorang muslim tidak mengenal dan mengetahui sejarah Islam dan Islam itu sendiri sebagai solusi dan pelindung kehidupan. Sehingga kaum muslimin akan terombang-ambing dalam lautan masalah kehidupan yang dikendalikan oleh para kapital.

Oleh karena itu, sudah seharusnya kaum muslimin sadar bahwa mencari perlindungan dari lembaga peradilan para kaum elit kapital hanya akan berujung kesia-siaan. Padahal Islam memiliki pelindung sendiri yaitu khilafah Islamiyah. Khilafah lahir dari hukum syara’ yang memiliki dua fungsi utama yaitu sebagai raa’in dan junnah bagi umat. Kedua fungsi ini dijalankan hingga 14 abad lamanya. Khalifah sebagai raa’in atau pemimpin tunggal kaum muslim di seluruh dunia memiliki tanggung jawab penuh dalam mengurusi segala urusan umat. Rasulullah saw. bersabda, “Imam (khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR. Al Bukhari)

Khalifah sebagai pemimpin pengurus rakyat berarti memanggul amanah yang dibebankan kepadanya oleh umat. Maka khalifah harus menjaga amanah itu sesuai dengan hukum syara’. Memanggul amanah ini digambarkan dengan jelas oleh sikap Umar Bin Khattab yang memanggul sekarung gandum untuk diberikan kepada seorang ibu dan anak-anaknya yang menderita kelaparan. Khalifah Umar bertanggung jawab atas amanah yang diberikan padanya dengan tanggannya sendiri karena keterikatannya dengan hukum syara’. Beliau dengan sigap mau memanggul beratnya sekarung gandum hanya untuk seorang wanita dan anak-anak.

Sedangkan khalifah sebagai junnah berarti dia adalah pemimpin yang berperan sebagai pelindung dan perisai umat. Seperti sabda Rasulullah saw. “Sesungguhnya al-Imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang dibelakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan kekuasaan)nya.” (HR. Al Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Khalifah sebagai junnah adalah menjadi pemimpin yang terdepan dalam menghadapi musuh untuk mengalahkannya. Seperti sebuah tameng yang berada di depan untuk melindungi orang yang ada di belakangnya. Sebagaimana dijelaskan oleh al-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, “(Imam itu perisai) yakni seperti as-sitr (pelindung), karena Imam (khalifah) menghalangi/mencegah musuh dari mencelakai kaum Muslimin, dan mencegah antar manusia satu dengan yang lain untuk saling mencelakai, memelihara kemurnian ajaran Islam, dan manusia berlindung di belakangnya dan mereka tunduk di bawah kekuasaannya.”

Sedangkan makna (yuqaatilu min waraa’ihi) yakni : kaum Muslimin akan berperang bersama dengannya (al-khalifah) dalam memerangi orang-orang kafir, para pemberontak, khawarij dan seluruh kelompok-kelompok pembuat kerusakan dan kezaliman secara mutlak.

Begitu hebat dan mulianya kepemimpinan Islam yang benar-benar menjadi pemimpin dan pelindung umat. Pemimpin (khalifah) yang akan berusaha semaksimal mungkin agar umatnya tidak didzalimi oleh musuh-musuh Islam. Maka hanya dengan adanya khilafah, tragedi Srebrenica dan tragedi-tragedi kejam lainnya yang dialami oleh umat muslimin di dunia akan berakhir. Dan seluruh kaum muslimin akan terjaga kehidupannya dan segala urusannya.

Wallahu’alam bish showwab

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: