30 September 2022

Penulis : Merli Ummu Khila, Kontributor Media dan Pemerhati Kebijakan Publik

Dimensi.id-Salah satu cara Barat untuk membendung kebangkitan umat adalah menjauhkannya dari ajaran Islam. Cara yang paling efektif tentu saja harus sistematis dan masif. Melakukan propaganda sehingga tidak disadari umat berada dalam sebuah jebakan.

Selalu ada cara bagi musuh Islam melakukan propaganda. Dengan berbagai perangkat serta dukungan kapital demi tercapainya misi mereka. Dengan cara memonopoli media mainstream baik media cetak maupun elektronik. Serta mencari celah menyusup melalui rezim yang berkuasa.

Salah satunya dengan menyasar dunia pendidikan. Seperti diketahui bahwa kurikululum pendidikan agama Islam di negeri yang mayoritas muslim ini justru mendapat porsi yang sedikit. Untuk sekolah negeri, siswa hanya mendapat pelajaran agama selama 2 jam pelajaran per pekan.

Dan hal itu sudah membuat siswa darurat ilmu agama. Keterbatasan waktu ajar serta kurikululum yang hanya terbatas pada masalah ibadah ritual saja. Sehingga siswa kehilangan kesempatan untuk menimba ilmu agama lebih banyak lagi. Kecuali mereka menempuh pendidikan di pondok pesantren.

Misi Barat menyasar dunia pendidikan telah berhasil mengobrak-abrik kurikululum khususnya mata pelajaran agama Islam. Kuatnya upaya pemerintah dalam mengarusutamakan moderasi Islam salah satu buktinya.  Gencarnya perang melawan radikalisme dan kampanye masif Islam moderat.

Seperti dilansir oleh kompas.com, 11/07/2020, Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA) akan menggunakan kurikulum baru untuk Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada tahun pembelajaran 2020/2021. Sesuai dengan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 183 Tahun 2019 tentang Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab di Madrasah.

Salah satu kurikululum yang direvisi yaitu digesernya materi Khilafah dan Jihad menjadi Materi Pelajaran SKI yang sebelumnya menjadi Materi Pelajaran Fikih. Kedua materi yang merupakan salah satu ajaran Islam yang wajib diimani. Sebagaimana keduanya begitu jelas terdapat dalilnya dalam Al-Quran dan Hadist.

Bergesernya kedua materi ini harus dikritisi umat karena akan berbeda esensinya kelak ketika dipelajari dalam Mapel SKI( Sejarah Kebudayaan Islam). Jika materi disampaikan pada Mapel SKI maka siswa tidak sampai ditekankan untuk diimani sebagaimana mestinya.

Anggapan bahwa khilafah dan jihad akan melahirkan radikalisme yang sedang diperangi pemerintah adalah sebuah kesalahan besar. Bahkan definisi dari radikalisme sendiri tidak mampu mereka diskripsikan dengan gamblang. Sering kali statement beberapa pejabat justru blunder.

Upaya mengeliminir materi khilafah dan jihad adalah upaya sekulerisasi yang sistematis. Distorsi Khilafah merupakan propaganda musuh Islam untuk membendung kebangkitan umat. Mencegah umat untuk memahami ajaran Islam secara kaffah.

Khilafah merupakan bentuk pemerintahan Islam yang diwariskan Rosullullah Saw kepada umat Islam. Sistem yang harus selalu diterapkan sebagai wujud ketaatan kepada-Nya. Karena dalam sistem khilafahlah semua syariah Islam bisa diterapkan.

Imam empat mazhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Hanbali), sepakat, bahwa adanya khilafah, dan menegakkannya ketika tidak ada, hukumnya wajib.

Allah Swt berfirman: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sungguh Aku akan menjadikan di muka bumi Khalifah…”[TQS al-Baqarah [2]: 30].

Imam al-Qurthubi [w. 671 H], ahli tafsir yang sangat otoritatif, menjelaskan, “Ayat ini merupakan hukum asal tentang wajibnya mengangkat khalifah.” [Lihat, Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, Juz I/264].

Sedangkan jihad adalah sebuah kewajiban untuk berperang melawan kafir yang menjajah. Dan perintah ini relevan sepanjang masa. Sebagaimana hadist Rosullullah Saw :

Kuda perang itu terpancang di atas kepalanya kebaikan (al-khair) hingga hari kiamat, yaitu berupa pahala dan rampasan perang. (HR. al-Bukhari)

Menjadi semakin jelas bahwa sekulerisme liberal sudah mencengkeram dunia pendidikan.  Dijauhkan dari ajaran Islam serta syariah. Apa jadinya jika generasi muda Islam tidak paham ajaran agamanya? Akhirnya akan mencetak generasi penerus sebagai pembebek Barat sekuler.

Caruk maruk sistem pendidikan inilah yang menjadi biang keladi generasi semakin terbelakang. Upaya sekulerisasi dan distorsi khilafah dan jihad mengancam akidah umat. Moderasi Islam hanya akan mencetak generasi yang mencampakkan hukum-hukum Allah Swt.

Tidak mungkin pendidikan Islam secara kaffah diterima oleh setiap peserta didik muslim dalam sistem demokrasi. Demokrasi hakikatnya memang anti Islam. Sesungguhnya Islam tidak sekedar agama namun juga sebagai sebuah sistem pemerintah yang sama halnya dengan demokrasi.

Disini kita akan merasakan betapa pentingnya peran sebuah kepemimpinan dalam Islam. Sebagai perisai umat dari rongrongan musuh-musuh Islam yang tidak menginginkan persatuan umat. Sebagai penjaga akidah umat serta periayah dalam semua aspek kehidupan tidak terkecuali pendidikan.

Kepemimpinan inilah yang dinamakan khalifah dalam sebuah sistem pemerintahan yaitu Daulah Khilafah Islamiyah sesuai dengan jalan kenabian.

Wallahu’alam bishawwab

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: