5 Oktober 2022

Penulis : Mia Kartika, S.Pd, Pendidik Generasi dan Pemerhati Ummat

Dimensi.id-Seakan tak pernah ada habisnya, dunia pendidikan kembali menuai polemik.  Sejak Nadiem Makarim diangkat menjadi Mendikbud, memang banyak gebrakan-gebrakan baru yang menambah dinamisnya pendidikan di negara kita. Meskipun tak bisa dipungkiri gebrakannya seringkali memunculkan pro kontra di tengah masyarakat. Seperti diberitakan oleh  lensaindonesia.com 4 juli 2020, Nadiem Makarim mendorong upaya membangun ‘perjodohan’ atau kerjasama antara perguruan tinggi atau Kampus dengan industri. Strategi ini dinilai penting agar perguruan tinggi dan industri bisa terkoneksi untuk saling memperkuat keduanya. Menurut Nadiem, Kampus bisa menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan dunia usaha.

Pemerintah, kata Nadiem, memiliki sejumlah peran yakni sebagai pendukung, regulator, dan katalis. Meski demikian, pemerintah tidak bisa memaksa pihak Kampus dan industri untuk saling bermitra lewat regulasi, melainkan dengan berbagai macam insentif untuk berinvestasi di bidang pendidikan, misalnya lewat penelitian.

Memperkuat hal itu, Kagama.co pada 26 Mei, mengutip pernyataan Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud, bahwa di tahun 2020 akan dipersiapkan perjodohan, yang malah akan menjadi pernikahan antara perguruan tinggi dan kalangan industri. Dirjen Vokasi, Wikan Sakarinto, PhD menyebutkan bahwa perjodohan itu akan berkisar 100an lebih. Satu Kampus dapat berjodoh dengan lebih dari satu industri. Sejalan dengan yang disampaikan Mendikbud dan arahan Presiden Joko Widodo, fungsi pemerintah dalam proyek ini adalah dalam hal sebagai pendukung, regulator dan katalisator.

Pada 27 Mei sore, antaranews.com merilis berita bahwa tujuan utama program ini adalah agar program studi vokasi di perguruan tinggi menghasilkan lulusan dengan kualitas dan kompetensi sesuai DUDI yakni Dunia Usaha dan Dunia Industri.

Sepintas, gebrakan ini begitu memikat, siapa yang tidak ingin ketika lulus kuliah langsung bekerja? Apalagi ketika pandemi saat ini, dimana mencari pekerjaan begitu sulit dan banyak pekerja yang di PHK. Namun jika kita telaah kembali, gebrakan ini justru mengarahkan generasi bermental buruh dan mengejar materi semata. Setelah selesai menempuh pendidikan, orientasi mereka (baca : lulusan vokasi PT) adalah bekerja mencari materi sebanyak-banyaknya. Pada akhirnya mereka menjadi generasi yang kering akan iman dan disibukkan dengan mencari materi.

Apalagi ditambah dengan pernyataan Nadiem yang memiliki mimpi dalam lima tahun ke depan Sekolah Menengah Kejuruan atau SMK akan diminati orangtua siswa dan siswa itu sendiri. Saking tingginya minat itu, dia ingin melihat kepala sekolah SMK menolak peserta didik karena membeludaknya para pendaftar.

“Saya bermimpi itu bisa terjadi, saya bermimpi bisa mendapatkan program-program terakselerasi sehingga dalam waktu yang jauh lebih singkat para siswa mendapatkan D2, atau juga D4. Itu harapan saya untuk mendapatkan value proposition bagi SMK,” kata Nadiem melalui diskusi daring pada Sabtu (27/6).

Sungguh ironis ketika visi pendidikan berorientasi pada industri semata. Akibatnya sistem pendidikan negeri ini kian kehilangan visi pendidikan, kurikulum menyesuaikan keinginan dunia industri dan akan mengikis ketertarikan generasi muda negeri ini terhadap ilmu. Semangat menuntut ilmu akan padam karena mereka akan berpandangan ‘tidak perlu kuliah tinggi, toh nanti ujung-ujungnya bergelut dengan dunia industri’.

Maka, sudah saatnya terjadi perubahan mendasar pada sistem pendidikan di negeri kita. Sebuah Revolusi yang akan mengubah visi dunia pendidikan kita lebih terarah, sehingga generasi yang dihasilkan adalah generasi yng tidak hanya cerdas tapi juga sholeh. Dan hanya Islam yang mampu melakukan perubahan itu.

Dalam Islam, pendidikan  adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis dalam rangka membentuk manusia yang memiliki kepribadian Islam (pola pikir dan pola sikap yang Islami), menguasai pemikiran Islam dengan andal, menguasai ilmu-ilmu terapan (pengetahuan, ilmu, dan teknologi/PITEK) serta memiliki ketrampilan yang tepat guna dan berdaya guna.

Tujuan pendidikan Islam adalah membekali akal dengan pemikiran dan ide-ide yang sehat, baik itu mengenai aqaid, maupun hukum. Islam bahkan telah memberikan dorongan agar manusia menuntut ilmu dan membekalinya dengan pengetahuan. (Q.S. Az-Zumar 9; Al-Mujadalah 11).

Rasulullah sholaLlahu `alayhi wasallam telah mengajarkan bagaimana metode beliau untuk membina para sahabat-sahabatnya. Tentu kita mengenal Al Arqam Bin Abil Arqam yang masih berusia 16 tahun berani menjadikan rumahnya madrasah sebagai wasilah lembaga pendidikan yang dibangun oleh rasulullah pada saat melakukan tahap pembinaan dan pengkaderan dalam dakwah. Jika kita berpikir, kok bisa anak sebelia Ibnu Al Arqam itu mau? Itulah indikator keberhasilan sistem pendidikan dalam Islam.

Siapa yang tidak mengenal Zaid Bin Tsabit? Ketika masih berusia 13 tahun, beliau hanya membutuhkan 17 malam untuk menguasai bahasa Suryani, dan beliau diangkat menjadi translator rasulullah, serta menguasai Kitabullah.

Dan siapa yang tidak mengenal seorang pemuda yang masih berusia 12 tahun telah diangkat menjadi Khalifah pada masa Khilafah `Utsmaniyyah, yang menguasai 6 bahasa, cerdas dalam hal ilmu terapan serta fasih dalam hal tsaqofah Islam, yang dimana ketika beliau baru berusia 21 tahun, beliau berhasil merealisasikan bisyaroh rasulullah, yaitu menaklukkan kota terkuat sepanjang zaman Konstatinopel? Dialah Muhammad Al Fatih.

Inilah buah dari sistem pendidikan Islam. Secara historis, belum pernah ada sistem pendidikan sesukses sistem pendidikan Islam. Negara dalam Islam benar-benar menyadari bahwa pendidikan adalah sebuah investasi masa depan. Tanggung jawab ini dilaksanakan negara dengan membuat berbagai kebijakan yang memudahkan rakyat untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya dengan biaya minim bahkan gratis.

Jadi, satu-satunya harapan kita adalah pada sistem yang sempurna, yang diciptakan oleh yang Maha Sempurna. Sudah dapat dipastikan dan tidak diragukan lagi bahwa sistem tersebut adalah sistem yang pasti sempurna, sistematis, integral dan menjangkau pada seluruh aspek kehidupan termasuk pendidikan. Sehingga visi pendidikan kita tak salah arah.

Wallahu’alam bi ash-shawwab

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: