5 Oktober 2022


Penulis : Siti Masliha, S.Pd, (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Dimensi.id-Innaliillahi wa Inna ilaihi rojiun. Telah berpulang kembali pejuang pandemi dari Surabaya. Soerang dokter peserta program dokter spesialis (PPDS) kembali dilaporkan meninggal dunia setelah dinyatakan positif Covid-19. Kali ini, dr. Putri Wulan Sukmawati, dokter residen Ilmu Kesehatan Anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) yang menjalankan praktiknya di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, Jawa Timur harus berpulang.

“Iya benar [meninggal karena COVID-19],” kata Wakil Ketua Satuan Tugas Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya untuk Covid-19 Arief Bachtiar saat dikonfirmasi Tirto pada Senin (6/7/2020). Arief menjelaskan Putri meninggal dunia pada Minggu (5/7/2020) sekitar pukul 23.00 WIB. Sebelumnya ia menjalani perawatan sebagai pasien Covid-19 di RSUD Soetomo. (tirto.id)

Pejuang pandemi telah banyak yang berguguran. Kekurangan APD (Alat Pelindung Diri) sering dikeluhkan oleh para pejuang pandemi. Padahal APD adalah baju yang wajib di pakai oleh para pejuang pandemi untuk proteksi diri. Mereka orang yang rentan terpapar virus corona.
Mereka rela mengeluarkan biaya sendiri untuk menyediakan APD.

Namun fakta di atas sangat kontra produktif dengan salah satu istri pejabat yang ada di negeri ini. Masker istri KSAD Jenderal Andika Perkasa, Diah Erwiany Trisnamurti Hendrati Hendropriyono mencuri perhatian pengguna media sosial. Lantaran, bentuknya yang unik dan harganya yang tidak murah. Tak tanggung-tanggung, harga di pasaran bisa mencapai Rp 22,05 juta.

Masker yang dipakai Diah merupakan masker buatan CleanSpace Technology, sebuah perusahaan masker berteknologi tinggi asal Australia. Berdasarkan laman cleanspacetechnology.com, masker unik istri KSAD tersebut dilengkapi teknologi perangkat medis terbaru. “Respirator CleanSpace memanfaatkan teknologi perangkat medis terbaru untuk perlindungan dan kinerja tinggi dibandingkan respirator pelindung perawatan kesehatan tradisional,” kata Dr Alex Birrell, CEO CleanSpace Technology, dikutip dari laman resminya, Selasa (7/7/2020).

Masker ini memiliki sertifikat EN12942, NIOSH, CE Mark serta tahan terhadap debu dan cairan. Produk ini bahkan mengklaim diri menjadi perlindungan yang lebih baik dibanding Powered Air Purifying Respirator (PAPR).

Masker ini diprioritaskan untuk para tim medis yang diharuskan menggunakan alat pelindung diri (APD) yang lengkap. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan keamanan, kenyamanan, dan perlindungannya. (DetikFinance Selasa, 07 Jul 2020)

Para pejuang pandemi sangat minim proteksi diri. Mereka orang yang rentan terpapar virus corona. Namun faktanya pemerintah tutup telinga. Kekurangan APD terjadi di mana-mana. Anggaran yang digembar-gemborkan untuk penanganan corona hanyalah angin lalu belaka. Buktinya sampai hari ini proteksi diri untuk para penjuang pandemi belumlah terealisasi. Tak sedikit dari mereka menerima bantuan APD dari sumbangan pribadi ataupun lembaga.

Selain proteksi diri para penjuang pandemi yang belum mendapatkan haknya yaitu berupa tunjangan. Tak sedikit dari mereka yang menggadaikan barang-barangnya untuk menyambung hidup keluarganya. Miris, mereka rela berkorban jiwa dan raga demi menyelamatkan manusia namun kesejahteraan mereka tidak diurusi oleh penguasa.

Ini kondisi negeri kita saat ini. Kesehatan adalah barang yang langka. Tak semua orang dapat menikmatinya. Bagi mereka yang punya modal raksasa dapat membeli fasilitas kesehatan tanpa adanya kendala. Namun bagi si miskin papa harus berjuang hanya untuk mendapatkan sarana kesehatan yang ada. Kapitalisme kesehatan telah marasuk jauh ke tubuh penguasa saat ini. Mereka rela menyerahkan kesehatan kepada pihak swasta dan asing sehingga layanan kesehatan diperjual belikan bak dagangan di pasaran. Padahal sejatinya layanan kesehatan adalah hak seluruh rakyat Indonesia tanpa pandang bulu. Hal ini sebagaimana  dalam UUD 45 Pasal 28H Ayat (1): Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.

Akibat kapitalisasi kesehatan telah memandulkan peran pemerintah. Rumah Sakit (RS) swasta banyak berdiri di negeri kita sedang rs pemerintah mati suri. Layanan kesehatan yang seharusnya mengutamakan keselamatan manusia sekarang yang diutamakan adalah modal. Tak sedikit cerita di negeri ini pasien yang ditolak di rs karena tak punya modal. Padahal kondisi pasien tersebut sudah meregang nyawa. Di mana hati nurani penguasa??

Jelas kapitalisme telah merenggut nyawa manusia. Modal raksasa adalah yang menjadi tuhannya. Dia bisa menguasai dunia dan dapat menghalalkan segala cara. Selama ini corona yang menjadi tumbal, padahal monster yang sebenarnya adalah kapitalisme yang di emban oleh negara kita.

Jelas Kapitisme telah menampakkan kebohongan dan keborokannya. Berharap pada sistem ini sama saja kita menuhankan produk buatan manusia. Saatnya kita beralih kepada sistem buatan sang pencipta.

Dalam sistem Islam kesehatan merupakan kebutuhan asasi dan harus di kecap oleh manusia dalam hidupnya. Kesehatan termasuk masalah pelayanan umum dan kemaslahatan hidup terpenting. Negara merupakan pihak yang berkewajiban mewujudkan pemenuhan keduanya untuk seluruh rakyatnya tanpa terkecuali, baik orang kaya maupun miskin, muslim maupun non muslim.

Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah, Beliau pernah membangun tempat pengobatan untuk orang-orang yang sakit dan pembiayainya dengan harta dari Baitil Maal. Umar Bin Khatab telah memberikan sesuatu dari Baitul Maal untuk membantu kaum yang terserang penyakit lepra di jalan menuju Syam.

Selain jaminan kesehatan untuk rakyat, dalam sistem Islam juga menjamin kesejahteraan para Tenaga Kesehatan. Hal ini bisa kita lihat dalam sejarah Islam. Seorang dokter di negara Islam mendapatkan bayaran tinggi. Misalnya, ada seorang dokter Kristen di masa kekuasaan Islam, Ibn Tilmidz, memiliki pendapatan tahunan yang jumlahnya lebih dari 20 ribu dinar.

Ada pula kisah tentang Muhadzdzab al-Din Ibn al-Naqqasy. Ia merupakan seorang dokter dari Baghdad, Irak, pada abad ke-11. Ia pernah pergi ke Kota Damaskus untuk mencari pekerjaan. Sayangnya, ia belum berhasil mendapatkan pekerjaan yang diharapkannya. Al-Naqqasy kemudian memutuskan untuk bergegas ke Mesir yang saat itu di bawah kekuasaan Dinasti Fatimiyah. Ia menemui seorang dokter kepala di istana dan mengutarakan maksudnya. Gayung pun bersambut, ia mendapatkan pekerjaan di sana.

Lalu, al-Naqqasy mendapatkan imbalan tiap bulan sebesar 15 dinar. Ia pun mendapatkan apartemen lengkap dengan perabotannya, seperangkat pakaian mewah, dan seekor keledai terbaik.

Begitulah cara Islam memberikan jaminan kesehatan kepada rakyatnya. Selain itu tenaga kesehatan kesejahteraannya dijamin dan sangat diperhatikan oleh negara

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: