5 Oktober 2022

Penulis : Tri S, S.Si (Penulis adalah Pemerhati Perempuan dan Generasi)

Dimensi.id-Pandemi Covid-19 telah menyebabkan berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia, mengalami krisis ekonomi pada tahun ini. Ketidakpastian mengenai kapan berakhirnya pandemi ini dikhawatirkan akan membuat perekonomian semakin jatuh. (REPUBLIKA.CO.ID, 27/04/2020).

Kepala ekonom CIMB Niaga, Adrian Panggabean, melihat krisis ekonomi global 2020 ini memiliki karakteristik yang berbeda jika dibandingkan krisis 1997-1998 maupun krisis ekonomi 2008. Menurutnya, dibutuhkan solusi global untuk bisa mengatasi krisis ekonomi yang terjadi saat ini.

Adrian menjelaskan, krisis ekonomi 2020 memiliki tiga dimensi besar yakni wabah Covid-19, kebijakan sosio-politik untuk menekan penyebaran Covid-19 melalui social distancing dan phisical distancing, serta pengaruh negatif bagi perekonomian dunia. Ketiga kombinasi tersebut saling berhubungan satu sama lain.

Adrian memaparkan, tingkat pengaruh ekonomi ditentukan oleh bagaimana kebijakan sosial distancing maupun phisical distancing akan dilakukan dan berapa lama durasinya. Sementara kebijakan social distancing akan ditentukan oleh kemampuan negara negara di dunia untuk mengatasi Covid-19.

Berdasarkan dari keterangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Adrian mengatakan vaksin untuk menangani pandemi Covid-19 diperkirakan baru bisa dilakukan 12-18 bulan ke depan. Artinya, solusi global terhadap krisis ekonomi sekarang baru akan terjadi pada pertengahan 2021 atau pertengahan tahun depan.

Adrian mengatakan masalah yang dihadapi dalam menangani krisis ekonomi 2020 ini adalah terjadinya polarisasi di dunia. Polarisasi itu antara lain terjadinya persaingan antara Rusia dengan OPEC, rivalitas antara China dan Amerika Serikat, Eropa versus Eropa,  negara kaya dan negara miskin.  Polarisasi inilah yang membuat solusi secara global menghadapi sejumlah kendala yang harus terlebih dahulu diatasi.

Selain berkarakter imperialisme, karakter peradaban kapitalisme yang tidak kalah buruk dan berbahaya adalah mengakui nilai materi semata. Ditengah pandemi seperti saat ini pemerintah justru mengedepankan untuk menyelematkan perekonomian dibanding keselamatan rakyatnya.

Dinyatakan Syaikhul Islam Al ‘Aaalim Taqiyuddin An Nabhani rahimahullah, dalam tulisannya berjudul Al Hadharah Al Islamiyah, buku An Nizhamul Islam, “Oleh karena itu tidak akan ditemukan dalam peradaban Barat nilai moral, atau nilai spiritual, atau nilai kemanusiaan, kecuali nilai materi saja.”

Sehingga, aspek ekonomi yang hanya membahas aspek materi dan manfaat dalam sistem ekonominya, menjadi fokus bahkan mengatasi urusan kesehatan dan nyawa manusia. Bahkan, kesehatan sendiri tidak lebih dari jasa yang harus dikomersialkan. Di saat yang bersamaan, ia fokus pada fungsinya sebagai pelayan korporasi dan pelaksana agenda hegemoni Barat, khususnya ekonomi.

Ditegaskan sekretaris Jenderal PBB Antonio Gutteres, “Semua yang kita lakukan baik saat krisis maupun sesudahnya harus dengan fokus yang kuat untuk membangun ekonomi dan masyarakat yang lebih setara, inklusif, dan berkelanjutan yang lebih tangguh dalam menghadapi pandemi, perubahan iklim, dan berbagai tantangan global lainnya yang kita hadapi.”

Sementara, pembangunan ekonomi, dan masyarakat yang lebih setara, inklusif, dan berkelanjutan, yang selama ini dipraktikkan hanyalah mengedepankan nilai materi sehingga tidak ada yang tersisa kecuali kesengsaraan umat manusia.

Islam Solusi Tuntas Hadapi Masalah Ditengah Pandemi

Peradaban Islam adalah satu-satunya peradaban berkarakter mulia, pemberi rasa tenteram dan ketenangan bagi kehidupan umat manusia. Karakter yang begitu sempurna telah ditegaskan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya, “Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan penyejahtera bagi seluruh alam.” (TQS Al Anbiya [21]: 107).

Lebih dari pada itu, keberadaan peradaban Islam yang berdasarkan akidah Islam menjadikannya sebagai satu-satunya peradaban yang sesuai fitrah bani insan. Di samping karena gambarannya tentang kehidupan sebagai aktivitas yang berjalan sesuai dengan perintah dan larangan Allah dan arti kebahagiaan berupa rida Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Semua hal ini meniscayakan dalam peradaban Islam terwujud nilai materi, spiritual, kemanusiaan, dan moral secara serasi. Ini di satu sisi, di sisi lain menihilkan aspek hegemoni bersamaan dengan terwujudnya fungsi negara yang sahih. Sehingga, manusia pada posisi mulia di tengah pesatnya kemajuan sains dan teknologi. Buah manis keharmonisan peradaban Islam dengan kebenaran sains.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan dalam QS Al Isra (17): 70, yang artinya, “Kami telah memuliakan anak-anak Adam.” Tidak sekadar konsep, peradaban Islam dengan karakternya yang mulia sebagai pewujud kesejahteraan seluruh alam, benar-benar telah teruji selama puluhan abad dan di dua per tiga dunia. Ini semua telah diukir oleh tinta emas peradaban sejarah.

Hari ini, dengan karakternya yang begitu sempurna, peradaban Islam adalah satu-satunya harapan dunia. Pembebas dari pandemi Covid-19 yang berlarut-larut. Juga pembebas dunia dari agenda hegemoni. Baik di Timur oleh Cina dan sekutunya, maupun di Barat oleh AS dan sekutunya. Berikut dengan lembaga internasional seperti WHO, PBB, WB, IMF, dan korporasi raksasa dunia yang menjadikan kesehatan dan nyawa manusia sebagai objek hegemoni.

Pada gilirannya, peradaban Islam –Khilafah– akan membawa dunia pada puncak kesejahteraan untuk kedua kalinya dengan izin Allah SWT. “Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan din yang benar agar dimenangkan-Nya atas semua din. Dan cukuplah Allah sebagai saksi…” (TQS Al Fath[48]: 28).

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: