30 September 2022

Penulis : Merli Ummu Khila, Kontributor Media dan Pemerhati Kebijakan Publik

Dimensi.id-“Perbedaan orang berani dan orang gegabah adalah dari tingkat persiapan dan kesiapan dirinya”

Setiap keputusan pemerintah pasti akan berimbas pada masyarakat. Setiap kebijakan seharusnya sudah dalam pengkajian yang matang, dengan melibatkan pendapat ahli dan masyarakat. Sehingga ketika keputusan tersebut dijalankan tidak akan menemui banyak kendala.

Demi menyelamatkan perekonomian, pemerintah sejak awal Juni lalu sudah memberlakukan pelonggaran PSBB dengan new normal life atau kelaziman baru. Kebijakan yang sudah diterapkan di beberapa negara ini dinilai beberapa ahli terlalu gegabah. Resiko yang harus diambil terlalu besar karena kurva penyebaran pandemi Covid-19 ini belum landai bahkan cenderung semakin tinggi.

Seperti dilansir Bisnis.com, Sejumlah pakar dan praktisi kesehatan menduga pembukaan sembilan sektor ekonomi dan wacana adaptasi kebiasaan baru atau AKB di tengah masyarakat menyebabkan kenaikan kasus Covid-19 di atas seribu per hari pada sepekan terakhir.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra menuturkan sikap gegabah pemerintah dalam membuka kembali sembilan sektor ekonomi dan penerapan AKB menimbulkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat ihwal pencegahan penyebaran transmisi lokal virus corona.

“Inilah risiko pembukaan sektor-sektor tersebut, kita sekarnag mengalami kenaikan kasus secara konsisten di atas 1.000 per hari. Lonjakan ini terjadi di berbagai wilayah seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah yang cukup signifikan,” kata Hermawan melalui pesan suara kepada Bisnis, Jakarta, pada Minggu (21/6/2020).

Seperti diketahui Pemerintah Indonesia melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 (Gugus Tugas Nasional) mencatat penambahan kasus terkonfirmasi

positif COVID-19 per 07/07/2020. Positif 66.22, sembuh 30.785, serta yang meninggal 3.309.

Melonjaknya angka pengangguran sama halnya dengan penyebaran virus. Kurva semakin tinggi dan belum ada tanda-tanda melandai. Tentu saja hal ini sangat berimbas pada perekonomian. Angka pengangguran pun melonjak tak terkendali.

Rakyat sangat berharap ada bantuan atau minimal keringanan berbagai tagihan di masa sulit saat ini. Namun kenyataannya jauh dari harapan. Jangankan meringankan beban rakyat. Pemerintah justru membebani rakyat dengan berbagai tagihan yang membengkak. Dari tarif listrik, PDAM, BPJS serta naiknya harga kebutuhan dasar.

Beratnya beban hidup diperparah oleh PHK massal. Kehilangan mata pencarian merupakan pukulan terberat dalam sebuah keluarga. Tidak bekerja sama artinya tidak ada pemasukan untuk memenuhi kebutuhan.

Dari setiap kebijakan, pemerintah selalu mengatasnamakan kesejahteraan rakyat. Namun kenyataannya rakyat terus diperas dengan tagihan dan pajak ini itu demi menutupi defisit anggaran. Berbagai program dijalankan namun tidak satupun yang menyejahterakan.

Justru banyak program yang dibuat serampangan. Dengan menelan dana besar namun minim manfaat. Pada akhirnya rakyat yang harus menelan pil pahit. Secara tidak lansung menjadi korban penanggung hutang negara.

Ketidakberdayaan rezim mengelola negara menjadi bukti bahwa sumber masalahnya ada pada sistem. Terbukti dari sekian banyak negara yang terdampak, hampir semuanya tidak bisa survive. Bahkan sebuah negara adidaya seperti Amerika dan China ikut kelimpungan. Apalagi negara berkembang seperti Indonesia.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sistem Kapitalisme dan Sosialisme memang sudah menunjukkan tanda-tanda kehancuran. Collapsnya dua negara adidaya Amerika dan China menjadi bukti kongkrit bahwa sistem kedua negara tersebut begitu rapuh. Sistem perekonomian yang didominasi oleh sektor non riil berupa interest dan saham sangat rentan krisis.

Jika bicara sistem maka harus ada perubahan yang pundamental untuk sebuah harapan baru. Sistem yang menjadi alternatif pengganti berupa tatanan hidup baru. Sistem yang tentu saja bukan hasil dari pemikiran manusia seperti yang kapitalisme dan sosialisme.

Terbukti bahwa manusia tidak akan bisa menciptakan aturan dalam bernegara. Seperti halnya kapitalisme yang menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk mengeruk keuntungan. Kepentingan rakyat tidak akan pernah menjadi prioritas.

Jika menoleh pada sejarah hampir seabad yang lalu. Islam pernah merajai percaturan politik ekonomi global. Menguasai tiga benua selama puluhan abad lamanya jauh melampaui kekuasaan Barat. Menjadi mercusuar peradaban di segala aspek.

Tidak ada pilihan kecuali kembali pada kehidupan Islam. Menyelesaikan masalah wabah bagi negara khilafah adalah permasalahan cabang. Ketika sistem dibangun merujuk pada aturan Sang Maha Pengatur maka kesejahteraan adalah keniscayaan.

Dr. Musthafa As Siba’i dalam kitab Min Rawa’i Hadhratina memuat perkataan sejumlah tokoh dalam mengomentari tentang peradaban Islam maupun barat. Jacques C. Reister mengatakan, “Selama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradaban yang tinggi”.

Kelak kekhalifahan itu akan kembali menguasai dunia. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadist Rosullullah Saw : … Selanjutnya  akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18430), Abu Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya (no. 439); Al-Bazzar dalam Sunan-nya (no. 2796)).

Wallahu’alam bishawab

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: