30 September 2022

Penulis : Uswanas Ily, The Voice Of Muslimah Papua Barat

Dimensi.id-Media social dihebohkan dengan pernyataan Unilever melalui akun instagramnya yang menyatakan dukungan terhadap LGBT. “Kami berkomitmen untuk membuat kolega LGBTQI+ kami bangga dengan kami seperti kami. Itulah sebabnya kami mengambil tindakan bulan Pride ini dengan: Menandatangani Deklarasi Amsterdam untuk memastikan semua orang di Unilever memiliki akses ke tempat kerja yang benar-benar inklusif. Bergabung dengan Open for Business untuk menunjukkan bahwa kami bermaksud bisnis dengan inklusi LGBTQI + sebagai bagian dari koalisi global.

Meminta Stonewall untuk mengaudit kebijakan kami dan mengukur bagaimana kami maju dalam tindakan kami. Inisiatif-inisiatif ini hanyalah permulaan. Keragaman kita sebagai manusia adalah yang membuat kita lebih kuat. Inklusi untuk semua adalah apa yang akan membuat kita lebih baik.”  Tertulis tanggal 19 Juni 2020

Sontak postingan ini mengundang komentar pro dan kontra para netizen, termasuk netizen Indonesia yang menyuarakan pemboikotan terhadap produk-produk unilever. Unilever bukanlah satu-satunya perusahaan yang menyatakan sikap mendukung LGBT, beberapa perusahan besar dunia pun telah menyatakan dukungan terhadap LGBT misalnya pernyataan yang dilontarkan mantan CEO Starbucks, Howard Schultz, yang saat itu tengah memimpin sebuah rapat bersama investor, menyatakan bahwa Starbucks sepenuhnya akan mendukung pernikahan sesama jenis atau LGBT. Pernyataan sensasional Schultz ini menyusul keputusan yang dibuat Tim Cook, CEO Apple Inc., yang secara gamblang menyatakan diri sebagai seorang gay alias homoseksual.

Urutan pertama dalam daftar ini adalah raksasa media sosial Facebook. Mark Zuckerberg secara terbuka melalui akun pribadinya menyatakan dukungan terhadap komunitas LGBT di seluruh dunia. Tidak hanya itu, beberapa kali Mark Zuckerberg menegaskan bahwa Facebook tidak akan menolerir kebencian terhadap orientasi seks seseorang. Ia sempat menulis status Facebook yang menjelaskan komitmen itu. “Kami mengubah peta hubungan menjadi setiap warna untuk bulan kebanggaan LGBT. Kita masih punya jalan yang panjang untuk mencapai kesetaraan, tapi kita bergerak ke arah yang benar. Kami berkomitmen untuk tetap membuat Facebook tempat yang aman bagi komunitas LGBT dan seluruh orang di seluruh dunia.”

Selain Mark Zuckerberg, sekitar 90 CEO dari industri media dan digital di Amerika menandatangani sebuah komitmen yang membela kelompok LGBT saat pemerintah negara bagian North Carolina membuat peraturan diskriminatif terhadap kelompok LGBT. Peraturan negara bagian North Carolina itu adalah membatasi akses kelompok LGBT dalam menggunakan toilet. Jack Dorsey, CEO Twitter, termasuk yang ikut serta memberikan komitmen dukungan terhadap kelompok LGBT. Twitter juga memiliki peraturan yang menyebutkan perlindungan terhadap orang dengan orientasi seks dan melarang penyebaran kebencian terhadap LGBT. (www.tirto.id)

Tidak hanya menyatakan dukungan namun perusahan-perusahan besar ini pun kerap melakukan tindakan-tindakan berani dalam menentukan sikap meraka sebagai pendukung kelompok LGBT. Paypal yang dengan beraninya menarik kembali rencana pembukaan anak perusahaan di Charolatte akibat pemerintah setempat memberlakukan aturan yang menurut pihak Paypal adalah kebijakan diskriminatif bagi kelompok LGBT.

PayPal ( PYPL ) mengatakan tidak akan lagi membuka fasilitasnya di Charlotte, yang diperkirakan akan mempekerjakan 400 orang. “Menjadi majikan di North Carolina, tempat anggota tim kami tidak akan memiliki hak yang sama di bawah hukum, tidak bisa dipertahankan,” kata CEO PayPal Dan Schulman dalam sebuah pernyataan. “Undang-undang baru ini melanggengkan diskriminasi dan melanggar nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang merupakan inti dari misi dan budaya PayPal.” (money.cnn.com

Dukungan serta sikap-sikap yang diambil oleh perusahaan-perusahaan besar di dunia ini bukanlah tanpa alasan karena jika menilik pada sistem Kapitalistik yang menjadi landasan ekonomi dunia pengambilan kebijakan harus didasari keuntungan yang sebesar-besarnya maka jelas sudah bahwa perusahaan besar dunia ini mengambil langkah memberi dukungan pada kelompok-kelompok ini untuk meningkatkan penjualan mereka. Saat ini LGBT menjadi salah satu kelompok yang diperhitungkan dalam dunia perdagangan dan perindustrian karena mempunyai pasaran yang sangat besar dan bisa menguntungkan perusahaan.

Dilansir dari tirto.id, Komunitas LGBT merupakan sebuah pasar yang sangat besar. Witeck Communications menyebut kemampuan membeli komunitas LGBT di Amerika senilai $830 miliar pada 2013. Data terbaru yang dirilis Witeck pada 2016 menunjukkan bahwa kemampuan membeli komunitas LGBT di pasar Amerika Serikat meningkat menjadi 917 miliar dolar. Angka yang cukup besar inilah yang menjadi incaran dari perusahaan-perusahaan yang berbasis di Amerika. (www.tirto.id)

Laporan dari Outnow memperkirakan jika perusahaan – perusahaan di Amerika menerapkan kebijakan yang mempertahankan dan mengembangkan orang – orang dari komunitas LGBT ini maka akan ada tambahan 9 Milyar dollar Amerika per tahun kepada perokonomian, selain itu World Bank juga mencatat India kehilangan potensi pendapatan sebesar 32 Juta US dollar/ Tahun akibat tidak membuat kebijakan – kebijakan yang mengakomodasi komunitas LGBT. (kumparan.com)

Dalam sistem kapitalisme, minat pasar sangat diperhitungkan dalam membuat kebijakan. Maka tak heran jika LGBT mendapat ruang special dan dukungan dari perusahaan besar bahkan mereka ikut mengkampanyekannya pada produk-produk yang mereka tawarkan.

Besarnya komunitas ini bukan dengan tidak sengaja, melainkan dengan asuhan dan perawatan dari sebagaian besar Negara-negara di dunia termasuk Indonesia yang menganut sistem kapitalisme dan melahirkan liberalism sebagai sistem socialnya sehingga komunitas ini dengan pesat membesarkan tubuhnya. Kebebasan yang dituhankan oleh sistem ini membuat para kaum LGBT merasa terlindungi dengan jaminan kebebasan berekspresi termaksud mengekspresikan kecendurungan seksual mereka. Masyarakat yang ada pada sistem ini pun telah teredukasi dengan toleransi pada komunitas ini dan mengganggap bahwa LGBT bukanlah suatu masalah besar dan bukan penyimpangan seksual.  Orang-orang yang menganggap LGBT adalah sebuah penyimpangan dituduh sebagai radikal, intoleransi dan diskriminasi. Bahkan beberapa Negara akhirnya membatalkan kebijakannya yang dianggap diskriminasi terhadap komunitas LGBT agar bisa menjalin kerjasama yang menguntungkan dengan perusahaan-perusahaan besar yang mendukung komunitasnya.

Dengan membiarkan tumbuh pesatnya komunitas ini sama saja dengan memancing kemurkaan Allah SWT,

“Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kriminal itu. Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampaui batas.” [Al-A’raaf: 80-81].

Maka persoalan LGBT harus diselesaikan secara sistemis dan menyeluruh yaitu dengan mengubah sistem kapitalisme liberalis kepada sistem Islam karena Islamlah satu-satunya sistem yang bisa menghilangkan LGBT melalui peran Negara, masyarakat dan individunya dengan menggunakan aturan dari Nya.

Pertama, meningkatkan keimanan dan ketakwaan pada tataran Keluarga dan masyarakat. Karena keluarga berperan penting dalam menjaga keimanan. Melalui kurikulum pendidikan formal maupun non formal. Melalui berbagai media yang dimiliki oleh negara, agar suasana keimanan tercapai kondusif.

Kedua, Negara harus mengembalikan fungsi media sebagai penerangan. Menutup akses media cetak maupun elektronik yang berkontribusi menyebarluaskan opini LGBT, pornografi dan pornoaksi.

Ketiga, menerapkan hukum dan sanksi sesuai syariat Islam. Sehingga memberikan efek jera. Hal ini didasarkan kepada hadits Rasulullah SAW: “Siapa saja yang kalian temukan melakukan perbuatan kaum Luth (liwath) maka hukum matilah baik yang melakukan maupun yang diperlakukannya” (HR. Al-Khomsah kecuali an-Nasa’i).

Bagi lesbian, gay dan biseksual bisa dihukum mati. Dengan cara dijatuhkan dari gedung tertinggi. Sedangkan bagi transgender jika tidak sampai melakukan sodomi maka akan dikenai hukuman ta’zir. Ketika aturan Islam diterapkan maka LGBT akan bisa diberantas. Lingkungan keluarga, masyarakat dan negara akan sangat sehat. Maksiat sekarat. Kehidupan akan semakin bermartabat. Sudah seharusnya kita berjuang untuk menerapkan Islam kaffah dalam setiap aspek kehidupan. 

Allahu a’lam bii showab.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: