3 Oktober 2022

Penulis : Mochamad Efendi

Dimensi.id-Semua orang pasti ingin diperlakuan sama secara adil dalam pelayanan kesehatan. Namun demikian semua orang juga ingin dapat pelayanan terbaik. Pelayanan nomor satu adalah harapan setiap orang. Tapi hidup dalam sistem kapitalis hanyalah mimpi bagi kebanyakan orang. Pelayanan kelas satu hanya untuk segelitir  orang yang punya uang dan kekuasaan.

Itulah fakta bahwa egalitarian dalam pelayanan kesehatan adalah mimpi bagi rakyat jelata. Pelayanan kesehatan dibuat berjenjang mulai dari kelas miskin sampai pada kelas VIP tidak hanya berbeda pada fasilitas kamar tapi juga pelayanan dari petugas kesehatan. Perilaku yang kasar sering ditunjukkan pada pasien dari keluarga miskin mulai dari kata-kata yang tidak simpati sampai perlakuan yang berbeda karena tidak mampu membayar dengan harga tinggi.

Pelayanan kesehatan adalah kebutuhan dasar yang harusnya dijamin oleh negara secara gratis dalam sistem Islam, tetapi kapitalis demokrasi, negara lepas tangan dan mengembalikan semua urusan pada rakyat. Dengan alasan taawun atau gotong royong, rakyat disuruh menanggung biaya pelayanan kesehatan melalui perusahaan asuransi. Pelayanan berjenjang, dari kelas miskin sampai kelas orang kaya sesuai dengan jumlah iuran yang dibayarkan.

Seorang bidan puskesmas di Kabupaten Tangerang menjadi sorotan netizen. Penyebabnya, sang bidan terkesan merendahkan pasien BPJS Kesehatan dengan sebutan miskin, distatus WhatsApp (WA) pribadinya. Bidan berinisial D ini juga menyebut pasien miskin tersebut tidak punya malu karena berobat hanya membayar Rp3.000 dan lahiran gratis, tetapi membuli bidan yang sudah menolongnya lahiran itu. “Kebanyakan yang berobat dan lahiran di Kemiri itu pasien ekonomi ke bawah. Tapi kalu lihat komennya jadi netizen ngebuli bidan PKM Kemiri bikin kuping jadi panas,” tulis D, dikutip dari statusnya, Kamis (25/6/2020).

Fenomena diatas terjadi karena ada jenjang dalam pelayanan kesehatan yang harusnya setiap orang mendapat pelayanan terbaik jika penjaminan dilakukan oleh negara, bukan perusahaan ansuransi yang berfikir untung rugi. Mindset yang tertanam dalam pemikiran kapitalis bahwa palayanan kesehatan didasarkan pada jumlah besaran uang  yang dibayar. Hanya orang yang bisa membayar iuran dalam jumlah besar yang layak dapat pelayanan terbaik, sementara mereka yang iurannya kecil dapat pelayanan ala kadarnya. Meskipun mereka tidak tidak mendapatkan pelayanan yang memuaskan, mereka tidak boleh protes. Pelayanan yang buruk bisa berakibat fatal. Sering, penanganan yang lambat bisa mengancam jiwa seorang pasien yang perlu ditangani segera mengingat kondisi kesehatan yang buruk.

Pelayanan kesehatan nomor satu hanya mimpi bagi rakyat miskin dalam sistem kapitalis demokrasi. Dihina dan dilecehkan menjadi hal biasa bagi orang miskin karena banyak orang kaya yang mati rasa. Mereka hanya berfikir mengumpulkan harta tapi tidak peka dengan orang lain. Ratusan milyard hanya dikuasai oleh satu orang, sementara yang miskin hidup dalam kesulitas untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Itulah tabiat dasar orang-orang berfikir kapitalistik yang menyanjung dan memuja kekayaan bahkan rela mengorbankan idealismenya untuk mendapatkan semua itu.

Sungguh sangat berbeda dalam kehidupan yang Islami. Harta bukan segalanya, tapi titipan yang nanti dimintai pertanggung jawaban. Bahkan celaka bagi yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya dan enggan menafkankan rezeki yang Allah anugrahkan di jalanNya.

Pelayanan kesehatan adalah kebutuhan dasar yang harus dijamin oleh negara pada sistem Islam. Keselamatan dan nyawa rakyat adalah skala prioritas bukan status sosial mereka. Pemimpin benar-benar perduli dengan urusan rakyatnya bukan pencitraan dan pansos agar terkesan peduli dengan rakyat, padahal tidak, mereka hanya peduli untuk mempertahankan kekuasaan. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat akan terwujud dalam sistem Islam.

Keamanan dan kesejahteraan seluruh rakyat menjadi tanggung jawab negara. Negara ada untuk menjamin kehidupan rakyat agar merasa aman dan sejahtera. Jadi dalam sistem Islam tidak ada lagi perbedaan pelayaanan kesehatan karena rakyat berhak mendapatkan pelayanan yang terbaik. Tidak ada lagi perbedaan antara Si Miskin dan Si Kaya kerena semua akan diperlakukan sama dalam pelayanan kesahatan dengan pelayanan terbaik, kelas satu untuk semua rakyat.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: