30 September 2022

Penulis : Sartini Ummu Fadhillah (Aktivis Muslimah Peduli Umat)

Dimensi.id-Berbagai media masih saja ramai membicarakan terkait melonjaknya tagihan listrik. Bagaimana tidak? Kenaikan tarif dasar listrik melonjak ditengah pandemi yang berdampak pada perekonomian masyarakat. Alhasil masyarakatpun benar-benar menjerit tercekik atas kenaikan tagihan listrik yang begitu fantastis.

PLN pun angkat bicara atas berbagai keluhan masyarakat yang menuduh bahwa PLN secara diam-diam memberlakukan duplikasi sehingga terjadi lonjakan tagihan tarif listrik yang signifikan. Hingga menuding bahwa kenaikan terjadi disebabkan adanya subsidi silang antara pelanggan golongan tertentu dengan golongan yang lain.

Pihak PLN pun mengklarifikasi bahwa, lonjakan tagihan listrik belakangan ini melonjak bukan karena kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Kenaikan tagihan lebih disebabkan ada selisih dan kenaikan konsumsi listrik saat work from home (WFH) atau kerja dari rumah.

Pihak PLN pun meluruskan bahwa lonjakan tagihan yang dialami sebagian pelanggan tidak disebabkan oleh kenaikan tarif. Bukan juga disebabkan subsidi silang antara pelanggan golongan tertentu dengan golongan yang lain. Namun lebih kepada pemakaian listrik yang lebih besar dari biasanya. Terlebih masa pandemi masyarakat diminta untuk stay at home. Maka pemakaian listrik pun tak seperti biasa, namun lebih besar dari biasanya.

Listrik pun mencekik rakyat di masa pandemi.

Penderitaan rakyat seolah tak ada habisnya. Benar saja, ditengah wabah yang tak kunjung mereda, sulit mendapatkan pekerjaan, PHK di mana-mana. Namun, seabrek kebijakan pemerintah kian menyulitkan rakyatnya. Masalah datang bertubi-tubi di masa pandemi yang membuat miris hati. Sederet kebijakan tersebut diantaranya seperti kenaikan iuran BPJS, dan iuran PP tampera dan lain sebagainya.

Maka wajar saja jika kondisi saat ini sangat membuat dilema rakyat. Kenaikan tarif listrik yang berlipat yang dialami masyarakat sangat siknifikan. Sekelas anak Sultan saja berteriak. Sebut saja seperti Nikita Mirzani, Raffi Ahmad dan sederet orang-orang tersohor negeri ini saja menjerit dan mengeluhkannya, aparah lagi masyarakat yang tak sekelas dengan anak sultan?

Maka, Penulis menganalisa, bahwa ada dua faktor yang meyebapkan masalah kenaikan ini:

Pertama; Semenjak covid-19 melanda, rakyat di anjurkan harus beraktifitas dari rumah. Termasuk sekolah, melakukan aktifitas kantor dan pekerjaan-pekerjaan lainnya yang membutuhkan listrik semisal memakai laptop, komputer yang membutuhkan charger dan lain sebagainya.

Kedua; Adanya kenaikan listrik terencana oleh para kapitalis (swastanisasi) secara diam-diam yang dilanggengkan oleh pemerintah. Dimana kita ketahui bahwa hal ini bukanlah kali pertama pemerintah dalam mengambil kebijakan yang membebani rakyat ditengah kondisi pemerintah membutuhkan dana yang begitu besar.

Meskipun pemerintah membuat kebijakan membebaskan  pengguna 450 VA dan meringankan separuh pembayaran bagi pengguna 900 VA, ini bukanlah solusi untuk masyarakat. Tidak semua masyarakat pengguna dua golongan di atas orang yang tidak mampu, karna malah hisa jadi sebaliknya.

Maka disini dituntut kecermatan dan ketelitian pemerintah dalam pendataan masyarakat yang tak mampu. Subsidi harusnya diberikan kepada mereka yang benar-benar tak mampu dan butuh dibantu, bukan berdasarkan pada penggunaan berapa VA. Supaya bantuan tersebut tepat sasaran.

Nah, di sini kita bisa menilai sistim yang dianut negara ini adalah sistim pilih kasih. Sehingga ada istilah “anak kandung” ada “anak tiri” Padahal kalau kita lihat kondisi saat ini semua masyarakat kena imbasnya bukan hanya rakyat kecil saja tapi sampai kepada masyarakat sekelas anak sultan juga terkena imbasnya. Kebijakan yang di keluarkan negara bukan berpihak kepada rakyat, tapi justru berpihak kepada segelintir orang.

Pengelolaan Terbaik Listrik Didalam Islam

Islam memiliki aturan yang paripurna (kaffah), karena mengadopsi sistem yang berasal dari Allah subhanahuwata’ala yang menciptakan manusia dan semesta alam ini. Dalam pandangan Islam, listrik merupakan milik umum, dilihat dari 2 aspek :

Pertama; Listrik yang digunakan sebagai bahan bakar masuk dalam kategori ’api (energi)’ yang merupakan milik umum. Nabi Muhammad saw bersabda: “Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: padang rumput (kebun/hutan), air, dan api (energi).” [HR Ahmad].

Termasuk dalam kategori api (energi) tersebut adalah berbagai sarana dan prasarana penyediaan listrik seperti tiang listrik, gardu, mesin pembangkit, dan sebagainya.

Kedua; Sumber energi yang digunakan untuk pembangkit listrik baik oleh PT PLN maupun swasta sebagian besar berasal dari barang tambang yang depositnya besar seperti migas dan batu bara merupakan juga milik umum.

Ketiga; Sumber energi yang digunakan untuk pembangkit listrik baik oleh PT PLN maupun swasta sebagian besar berasal dari barang tambang yang depositnya besar seperti migas dan batu bara merupakan juga milik umum. Abyadh bin Hammal ra. bercerita:

“Ia pernah datang kepada Rasulullah saw. dan meminta diberi tambang garam. Lalu Rosulullah memberikannya. Ketika ia pergi, seorang laki-laki yang ada di majelis itu berkata kepada Rosulullah, “Ya Rosulullah, tahukah Anda apa yang Anda berikan, tidak lain Anda memberinya laksana air yang terus mengalir.” Kemudian Rosulullah menarik pemberiannya dari Abyadh bin Hammal.” [HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Hibban].

Riwayat ini berkaitan dengan tambang garam, bukan garam itu sendiri. Awalnya Rosul saw. memberikan tambang garam itu kepada Abyadh. Namun, ketika beliau diberi tahu bahwa tambang itu seperti “laksana air yang terus mengalir”, maka Rosulullah menariknya kembali dari Abyadh. “Laksana air yang terus mengalir” artinya adalah cadangannya besar sekali. Sehingga menjadi milik umum. Karena milik umum, bahan tambang seperti migas dan batu bara haram dikelola secara komersil baik oleh perusahaan milik negara maupun pihak swasta. Juga haram hukumnya mengkomersilkan hasil olahannya seperti listrik.

Dengan demikian,  listrik tidak boleh pengelolaannya diserahkan pada pihak swasta apapun alasannya. Negara bertanggung-jawab, sedemikian rupa sehingga setiap individu rakyat terpenuhi kebutuhan listriknya baik dari sisi kualitas maupun kuantitas dengan harga murah bahkan gratis (jika memungkinkan). Untuk seluruh rakyat baik kaya atau miskin, muslim maupun non muslim. Dengan prinsip-prinsip pengelolaan listrik inilah, Indonesia dengan sumber energi primer yang melimpah terhindar dari krisis listrik berkepanjangan dan harga yang melangit.

“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rosul apabila Rosul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa Allah menguasai hati manusia, dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan.” [Al Quran, 8:24]. Wallahu a’lam bi shawab.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: