3 Oktober 2022

Penulis : Al Azizy Revolusi (Editor dan Kontributor Media)

Dimensi.id-Sejumlah aksi massa menolak Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) terjadi di Medan dan Makassar.

Organisasi Perempuan Muslim Sumatera Utara melakukan deklarasi tolak di Medan. Sementara Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) Sulsel melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor DPRD kota Makassar.

Kedua aksi tersebut menuntut pencabutan dan pembatalan RUU HIP dari program legislasi nasional (Prolegnas) 2020. (Republika.co.id, 30/6/2020)

Hadirnya RUU HIP ini dinilai tidak tepat dibahas di tengah masa pandemi. Sebab, hal itu bukanlah menjadi urgensi untuk dibahas saat ini.

Guru besar filsafat Pancasila, Prof. Suteki, menyatakan, keberadaan Rancangan UU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) yang sekarang dibahas oleh DPR, justru berpotensi mendowngrade Pancasila itu sendiri. Alasannya karena Pancasila yang selama ini menjadi norma dasar (ground norm), dengan menjadi sebuah UU, malah menurunkan derajat Pancasila menjadi norma biasa. Padahal secara filosofis, Pancasila merupakan norma dasar (ground norm), sebagai sumber dari segala sumber hukum. (faktabanten.co.id, 7/6/2020)

Sesungguhnya, inilah wajah asli demokrasi. Ketika hak membuat hukum (Undang-undang) diberikan kepada manusia (rakyat) yang ‘katanya’ diwakili oleh anggota dewan, maka seluruh produk hukum yang dihasilkan bukan membawa pada kemaslahatan, justru menuju kehancuran.

RUU HIP telah membuktikan bahwa Pancasila bukanlah hal yang harga mati. Sebab ia bisa saja berganti menjadi Trisila bahkan Ekasila, apabila RUU ini disahkan oleh DPR RI. Semua slogan ‘harga mati’ benar-benar akan mati harga.

Oleh karena itu, seluruh penolakan terhadap RUU ini mesti ditujukan bukan untuk membela Pancasila. Tapi untuk membela Islam. Menolong agama Allah. Sebab Allah mempersyaratkan pertolongan-Nya dengan aktivitas menolong agama-Nya.

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muĥammad:7)

Pancasila secara faktual tak berdaya menghadapi hegemoni Kapitalisme dalam bidang ekonomi. Secara historis, Pancasila hanya dijadikan palu godam oleh rezim untuk menggebuk lawan politiknya dengan label ‘anti Pancasila’. Lucunya, saat Pancasila hendak diubah  dengan RUU HIP, pihak yang mengaku Pancasilais tak berkomentar apa-apa.

Justru pihak yang hari ini dituduh ‘anti Pancasila’-lah yang menolak RUU HIP. Namun bukan untuk membela Pancasila, tapi membela Islam. Bukan untuk mengklaim diri ‘Pancasilais’, tapi untuk memperjuangkan tegaknya hukum Allah di bumi Nusantara tercinta ini. Wallahua’lam bish-shawab.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: