5 Oktober 2022

Penulis : Rut Sri Wahyuningsih, Institut Literasi dan Peradaban

Dimensi.id-Pemerintah Pusat telah mengumumkan 84 pemerintah daerah (pemda) pemenang lomba video simulasi tatanan normal baru alias new normal yang berhak mendapat total hadiah Rp168 miliar.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyebut pemenang pertama diganjar Rp3 miliar, pemenang kedua Rp2 miliar, dan pemenang ketiga Rp1 miliar. Setiap pemda diperbolehkan mengirim video untuk tujuh kategori yang ada (CNN Indonesia, 23/6/2020).

Tito menyebut ada 2.517 video yang diikutsertakan sejak lomba dimulai Jumat (29/5). Video dinilai oleh tim gabungan dari Kemendagri, Kemenkeu, Kemenkes, Kemenpan-RB, Kemenparekraf, Kemendag, Gugus Tugas Percepatanan Penanganan Covid-19, dan Badan Nasional Pengelola Perbatasan. Mantan Kapolri itu bilang lomba ini dibuat untuk mengampanyekan new normal. Sebab menurutnya new normal adalah keniscayaan hingga vaksin virus corona ditemukan.

“Sebagai sesuatu yang baru maka tatanan ini memerlukan tahap pengenalan atau pra kondisi agar seluruh masyarakat siap dan mampu beradaptasi. Pra kondisi ini dilakukan dengan membuat protokol kesehatan di berbagai sektor kehidupan dan melakukan simulasi-simulasi,” ucap Tito. Jawa Timur sendiri memenangkan lomba untuk katagori Klaster Provinsi.

Sungguh tak bisa dielakkan jika pemerintah pandai membuang-buang untuk proyek yang tak penting. Hari ini pandemi belum berakhir,  angka kematian akibat Covid-19  masih sangat tinggi . Dan ironinya Jawa timur justru meraih juara dalam salah satu kategori dalam perlombaan itu. Faktanya dari 12 wilayah Jawa Timur yang berada pada zona merah baru 7 yang berhasil menjadi zona hijau atau kuning. Artinya, simulasi new normal life adalah bentuk pelarian kegagalan pemerintah menangani Pandemi ini.

Nama pemenang memang menjadi hak preogratif para juri , namun jadi teringat pada suatu peristiwa seorang artis yang salah menyebutkan sila Pancasila salah satu sila Pancasila namun ia kemudian menjadi duta Pancasila. Selalu berulang wrong man on the wrong pleace. Hal yang jelas salah dengan kakunya dianggap kebenaran. Memaksa kedustaan menjadi kebenaran adalah keahlian penguasa yang lain.

Inilah wajah penguasa kita yang sembunyi dibalik sistem kapitalisme,  semua amal tidak lain dan tidak bukan berlandaskan pada manfaat semata. Penghamburan uang senilai 168 miliar tidak mereka rasakan sebagai dosa terhadap rakyat atas darah dan keringat mereka.  Melainkan sebagai bentuk sosialisasi new normal life. Dan bahwa keniscayaan kita akan hidup dengan cara tatanan baru atau new normal life hingga ditemukan vaksin Corona adalah pernyataan yang maknanya justru mendorong masyarakat menjadi pasif. Seakan hidup berdampingan dengan virus mematikan adalah kehidupan yang normal.

Lantas apa saja yang sudah dilakukan oleh pemerintah hingga hari ini? Dengan entengnya mengatakan normal Life memang harus dialami oleh rakyat hingga vaksin itu ditemukan . Mengapa tidak kemudian memberdayakan para ilmuwan dan cendekiawan di negeri ini, yang tak sedikit jumlahnya untuk memulai sebuah penelitian menemukan vaksin. Mantan menteri kesehatan Siti Fadilah telah membuktikan bahwa anak bangsa mampu membuat vaksin sendiri.  Hal ini tidak dilakukan sebab Indonesia bukanlah negara ula ( utama) Indonesia hanyalah satelit bagi Amerika dan nyatanya sangat tunduk dan patuh kepada negara yang lebih besar lagi yaitu para kapitalis.

Kita bayangkan saja jika uang 168 miliar itu benar-benar digunakan untuk penanganan pandemi, bukan untuk dibagikan kepada pemenang lomba video simulasi tatanan new normal life, akan ada banyak pihak yang terselamatkan.  Bisa untuk pembelian baju APD hingga nakes tak perlu was-was dalam menangani pasien.  Bisa dibelikan peralatan tes rapid sehingga bisa dilakukan secara gratis kepada setiap masyarakat atau membantu Rumah sakit agar tidak kekurangan ruangan maupun obat-obatan. Dan masih banyak lagi.

Di tengah keadaan yang tidak pasti ini masih saja pemerintah tega melakukan kegiatan yang tidak berkorelasi dengan kesejahteraan umat.  Sampai Kapan umat terus menjadi tumbal dari ketidakpedulian penguasa?  Sangat berbanding terbalik ketika sistem Islam diterapkan dalam kehidupan.  Islam sebagai agama yang sempurna juga mengandung syariat atau pengaturan untuk mengatur setiap kebutuhan manusia.

“Sesungguhnya seorang imam adalah perisai, orang-orang berperang dari belakangnya dan menjadikannya pelindung, maka jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggungjawab atasnya)“ (HR. al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad).

Hadis di atas jelas menggambarkan bahwa seorang Imam, pemimpin atau pemangku kekuasaan mempunyai fungsi sama  selain sebagai perisai juga sebagai pelindung dimana ialah yang berada di garda terdepan mengupayakan agar orang yang berada dipimpin belakangnya yang ia pimpin merasa aman dan mendapatkan kesejahteraan . Kesejahteraan Hakiki bukan virtual Bahkan bukan hasil perlombaan.

Kapitalisme tidak mungkin bisa mengupayakan hal ini sebab landasannya yang memisahkan agama dari kehidupan tidak memungkinkan merumuskan sebuah kebijakan kecuali kebijakan itu menghasilkan manfaat materi. Sedangkan Islam ketika seorang pemimpin beramal memberikan sesuatu yang menjadi hak rakyat , Ia mendapatkan pujian hingga diizinkan Allah mendapatkan surgaNya. inilah perolehan tertinggi yang ingin diraih oleh seorang hamba sebab hanya amal ibadah yang shohih yang bisa membawanya kepada hidup yang abadi.

Maka keadaannya selama agama dipisahkan dalam pengaturan masyarakat akan terus-menerus terjadi keadaan dimana rakyat hanya diberi janji bukan diberi bukti . Wallahu a’lam bishawab

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: