5 Oktober 2022

Penulis : Ita Mumtaz

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Asyhadu allailaha illallah

Asyhadu allailaha illallah

Asyhadu anna

Dimensi.id-Suara azan Bilal terputus. Bilal menangis dan tak mampu lagi melanjutkan. Memang semenjak kepergian Rosulullah, setiap kali hendak mengumandangkan Asyhadu anna Muhammadar Rosulullah, ia menangis. Tak kuasa mengingat seorang pribadi agung yang telah mengubah kehidupannya. Dari seorang budak yang nyaris tak berharga layaknya hewan. Menjadi seorang yang bebas merdeka dan sederajat dengan manusia lain. Sebelum menjadi seorang muslim, Bilal adalah seorang budak hitam yang tidak memiliki hak pribadi. Pekerjaannya menggembalakan unta dengan upah hanya 2 genggam kurma.

Bilal yang asli Abbesinia, bersama ibundanya, termasuk serombongan budak yang dibeli untuk dibebaskan oleh Abu Bakar. Bilal waktu itu milik Umayah Ibnu Khalaf, seorang tokoh dari Bani Jumah, didapati dalam keadaan terikat leher untuk dijadikan permainan anak-anak. Dijemur dan ditindih di batu karang, disiksa seperti budak-budak lain yang “terpengaruh ajaran Muhammad.”

Bilal disiksa setelah majikannya tahu ia telah memeluk agama Muhammad. Mereka memaksanya keluar dari Islam, tapi sungguh upayanya tak berhasil. Tanpa ampun Bilal disiksa. Diseret ke tengah padang pasir, ditimpanya tubuh hitam telanjang dengan batu besar. Tapi Bilal tetap kukuh setiap kali mereka berteriak memerintah menyebutkan Latta dan Uzza sembari menahan pedihnya siksa. Bilal hanya mampu mengucapkan “Ahad, ahad.” Hal ini membuat Umayyah dan para algojonya gusar. Segala cara telah mereka tempuh tetapi tetap saja tidak mampu memaksanya mengingkari Islam dan kembali ke agama mereka. “Telah lelah kami menyiksamu seolah-olah kami sendirilah yang disiksa,” kata mereka.

Mereka layak gusar, karena belum pernah menghadapi orang yang begitu berani dan tahan siksa. Umayyah pun khawatir nama baiknya akan tercemar di antara orang Quraisy lantaran terlalu tunduk pada seorang budak hitam.

Bilal yang ditinggal bapaknya di saat belia adalah salah satu dari 15 budak, antara lain Salman dari Persia dan Suhail dari Roma, yang mempunyai peranan besar dalam sejarah Islam.

Ia meninggal tahun 21/25 Hijriyah dalam usia 60 tahun dimakamkan di damaskus. Bilal adalah pribadi yang sederhana dan rendah hati. Setiap kali orang memujinya, ia menundukkan kepala dan air matanya mengalir membasahi pipi. Sambil berkata lirih, “Aku ini hanyalah seorang habsy. Dan kemarin aku adalah seorang budak.”

Padahal banyak pujian terungkap sebagai bentuk rasa hormat padanya. Bila disebut nama Abu Bakar, Umar akan berkata “Abu Bakar adalah pemimpin kita yang telah memerdekakan pemimpin kita.” Siapa yang dimaksud Umar? Tidak lain, dialah Bilal. Khalid Muhammad Khalid dalam kitab Karakteristik 60 Sahabat menyebut Bilal sebagai orang yang “namanya akan dikenal 7 dari tiap 10 orang Islam.”

Bilal ibn Rabah adalah salah satu sahabat yang paling dicintai Rasulullah dan mendapat gelar Muazzinur Rasul. Dialah yang ditunjuk menyuarakan azan pertama dalam sejarah Islam dan juga yang menyerukan azan dari atas Ka’bah di hari pembebasan Makkah. Bilal memang seorang Habsyi yang kurus, tinggi, berwajah tipis dengan rambut tebal, hitam keabu-abuan. Berjalan agak membungkuk dan bersuara teramat kuat. 

Dia pula yang ditugaskan berangkat lebih dulu ketika hijrah ke Madinah, memberi tahu penduduk di sana akan kedatangan Muhammad Rasulullah. Di sana kelak Bilal dipersaudarakan Nabi dengan Ubaidah ibn Harits dan dinikahkan dengan gadis dari keluarga terhormat.

Kisah Bilal mengajarkan kepada dunia tentang persamaan ras dan derajat. Mengungkapkan kepada semesta betapa Islam sejak belasan abad yang lalu telah memiliki konsep persamaan derajat dan hak asasi manusia.

Dalam Islam, kemuliaan manusia distandarkan pada ketakwaan. Bukan berlandaskan keturunan, kekayaan, kekuasaan, jabatan, kedudukan, keindahan fisik, suku, ras, warna kulit, jenis kelamin.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Hujurat 13:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.”

Itulah sebabnya pada suatu hari Rasulullah murka ketika Abu Dzar bertengkar dengan Bilal dan memanggilnya “Hai anak perempuan hitam.” Rasulullah lalu menemui Abu Dzar seraya berkata, “Terlalu, terlalu. Tidak ada kelebihan orang putih atas orang hitam kecuali karena amal salih.” Abu Dzar segera menjatuhkan dirinya ke tanah. Diratakan pipinya dengan debu dan dimintanya Bilal  menginjak kepalanya sebagai tebusan atas kesombongannya.

Berbeda dengan negara kapitalisme, yang menjadikan HAM hanya sebagai jargon palsu yang sarat dengan kepentingan hegemoni mereka.

Saat ini, bahkan pelanggaran HAM seringkali nampak nyata di negara kapitalis. Kasus Floyd beberapa waktu yang lalu adalah bukti betapa diskriminasi ras dan warna kulit masih menggelayuti peradaban Amerika. Negara yang katanya paling menunjung norma persamaan derajat dan selalu gembar-gembor soal HAM.

Untuk itu, umat Islam tak perlu terjebak dalam konsep absurd hak asasi manusia. Islam tidak perlu diajari cara menjaga nilai-nilai persamaan derajat. Wallahu a’lam bish-shawwab.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: