5 Oktober 2022

Penulis : Rut Sri Wahyuningsih, Institut Literasi dan Peradaban

Dimensi.id-Resiko menjadi pembesar dalam sebuah masyarakat, adalah semua gerak-geriknya akan diawasi. Baik buruk perilaku, akan selalu masuk bursa perbincangan. Terutama di era serba digital ini, ibarat berita baru keluar dari lubang nafas, aroma  sudah memenuhi ruangan dan menimbulkan kegaduhan. Tak terbantahkan jika nitizenlah yang pendapatnya paling benar.

Kiranya tepat untuk menjadi bahan renungan bahwa dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Namun, entahlah, apa yang ada dalam benak Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata Bondowoso,  Harry Patriantono.

Ia mengunggah  beberapa video TikTok berisi adegan tak senonoh. Salah satu video menampakkan dirinya berdiri di atas meja kantornya sedang memeragakan tarian ular bersama perempuan yang bukan istrinya. Terakhir diketahui wanita itu berinisal AI bukan pegawai pemerintahan. Melainkan, seorang desainer baju di kota tape.

Video kedua, juga masih di kantor yang sama pejabat tersebut duduk di meja sambil mengangkat kakinya. Sedangkan, yang perempuan berdiri menari-nari diatas meja . Sekretaris Daerah Bondowoso Syaifullah membenarkan peristiwa tersebut, “Ya memang video itu sudah kami dapatkan hari ini. Sudah banyak juga yang langsung lapor ke Pemkab,” ( nusadaily.com, 12/6/2020).

Menurut Syaifullah, seharusnya pejabat berperilaku sesuai batas-batas etika dan norma yang berlaku di masyarakat. Sehingga, tidak patut memeragakan video semacam demikian. “Apalagi, standar kita ada regulasi ya. Bicara lazim tidaknya, anak kecil pun tahu,” tuturnya.

Pendapat serupa juga diutarakan Ketua DPRD Bondowoso Ahmad Dhafir yang menilai adegan dalam video tersebut tidak pantas dilakukan pejabat di ruang publik, “Sebagai figur pelayan masyarakat sangat tidak etis menari-nari diatas meja kerja milik negara,” ujar politisi kawakan ini.

Video tersebut sudah terlanjur diunduh oleh netizen hingga sampai ke tangan masyarakat, bahkan pejabat-pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bondowoso. Inilah fakta teknologi, jejak digital terasa lebih kejam dalam mengadili perbuatan seseorang. Benar-benar menjadi pisau bermata dua bagi pelakunya.

Apa yang bisa diambil kesimpulan dari peristiwa ini? Yaitu ide kebebasan yang makin mendapat tempat di hati masyarakat. Prestise atau kehormatan seseorang terletak pada seberapa banyak ia dikenal masyarakat atau seberapa banyak followernya. Sehingga ada beberapa publik figur yang berusaha menghalalkan segala cara mencapai ketenarannya. Dan itu fakta, masyarakat kita memang sedang sakit.

Jika diajak menuju kebaikan mereka masih memilah  dan menimbang. Apalagi jika diajak untuk mendalami Islam , pasti komentar mereka tertuju pada kelompok apa, bukan pada konten apa yang dibahas. Akhirnya, umat Islam semakin jauh dari agamanya sendiri, bertindak berdasarkan apa kata orang lain, namun tak berusaha menimba sendiri hukumnya yang benar dengan cara menuntut ilmu.

Harry Patriantono bisa jadi hanya satu dari sekian banyak kaum Muslim yang terjebak dalam jahiliyah ilmu agama, Islam hanya dipandang sebatas pengatur ibadah ritual saja. Padahal jika banyak orang mengatakan bahwa Islam itu sempurna , semestinya menjadi magnet penarik untuk mempelajari kesempurnaannya. Tidak kemudian mempertaruhkan tren semata. Lupakah ia bahwa manusia sebagai makluk ciptaan Allah tak sepenuhnya bebas , ia mesti mempertanggung jawabkan seluruh amalnya?

Sekulerisme memang merusak, sikap memisahkan pengaturan agama dari kehidupan manusia yang menjadi landasan di dalamnya telah menciptakan neraka baru di dunia . Astaghfirullah…kita memiliki negara dan sekaligus pemimpin muslim, namun gagal menjamin masyarakatnya mampu beribadah nyaman dan tak bercampur baur. Wallahu a’ lam bish showab.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: