5 Oktober 2022

Penulis : Naura, Pelajar Madrasah Aliyah di Medan

Dimensi.id-Jalan-jalan ke Kota Medan, siapa sih yang gak kenal dengan situs sejarah Istana Maimun? Istana peninggalan dari Kesultanan Deli ini menjadi salah satu objek wisata Kota Medan, Sumatera Utara yang banyak dikunjungi para wisatawan baik dari luar negeri maupun luar daerah. Sejak virus Covid-19 melanda, banyak objek wisata yang ditutup selama tiga bulan terakhir, termasuk peninggalan Kesultanan Deli ini.

Setelah ungkapan Presiden Jokowi mengatakan masyarakat harus bisa berkompromi, hidup berdampingan, dan berdamai dengan Covid-19 agar tetap produktif atau disebut new normal life, pemerintah mencanangkan akan membuka sektor pariwisata Indonesia. Tak terkecuali pariwisata Istana Maimun di Kota Medan ini.

Pihak Yayasan Sultan Maimoen Al Rasyid membuka kembali Istana Maimun pada Minggu 7 Juni 2020. Meski kota Medan saat ini belum memasuki kondisi penerapan new normal atau era normal baru di tengah pandemi virus corona, bahkan pihak yayasan sudah berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata.

Jika kita perhatikan pembukaan destinasi wisata di tengah grafik kasus Covid-19 di Indonesia tak kunjung melandai merupakan kebijakan yang dinilai terburu-buru dan berisiko cukup besar. Tak belajar dari negara ginseng, Korea Selatan yang mengalami gelombang ke dua Covid-19 seiring pembukaan sektor pariwisata pada akhir Mei 2020. Di negeri ini malah terbalik, menerapkan kebijakan new normal demi alasan pertumbuhanekonomi. Termasuk pembukaan sektor wisata, yang diharapkan akan menambah pendapatan.

Di dalam sistem kapitalisme, pariwisata menjadi sektor pendukung perekonomian negara, padahal pendapatannya sangat kecil dibandingkan hasil pengelolaan SDA yang berlimpah-ruah di negeri ini. Namun sangat disayangkan, penerapan sistem ekonomi-kapitalis di negeri ini, membuat pengelolaan SDA diserahkan kepada pihak asing. Jikalau negara ini menjalankan pengelolaan SDA, industri berat, dan sektor vital negaras ecara mandiri akan membuka lapangan pekerjaan yang luas bagi rakyat, memudahkan warga mendapatkan penghasilan dan memperkuat ekonomi.

Tidak bisa dipungkiri pembukaan sektor wisata di tengah pandemi adalah untuk meningkatkan perekonomian negara yang melemah karen awabah dan dinilai keberpihakan pemerintah kepada pengusaha di bidang pariwisata yang mengalami kemerosotan ekonomi selama pandemi. Namun nyawa rakyat menjadi taruhannya. Pariwisata identik dengan keramaian. Social distancing dan protokol kesehatan takkan sepenuhnya mampu diterapkan di tempat keramaian seperti tempat pariwisata. Kejadian serupa cukup banyak, dimana masyarakat yang berkumpul sulit melakukan sosial distancing dengan protokol kesehatannya.

Pariwisata Dalam Islam

Berbeda sekali dengan Islam. Islam memandang berwisata adalah sarana untuk mendekatkan diri pada sang Khalik, Allah Swt. Sekaligus sarana membangun “quality time” bersama keluarga. Tentunya dengan tetap berlandaskan hukum syara’. Hal ini akan dilakukan jika kondisi tidak membahayakan masyarakat. Terlebih lagi disaat kondisi pandemi, negara Islam yakni Khilafah aka nmemfokuskan pada penyelesaian wabah dengan mengisolasi wilayah-wilayah terdampak, menutup objek wisata karena dapat menambah angka pasien yang terpapar virus. Memberikan obat-obatan secara gratis dan juga akan lebih mengutamakan memenuhi kebutuhan primer rakyatnya. Mengingat berwisata termasuk kebutuhan tersier, mak atidak terlalu diprioritaskan.

Hal ini karena tugas seorang pemimpin dalam Islam jelas, yaitu mengurusi urusan rakyat. Yang lebih penting lagi, Khilafah tidak takut ekonomi menjadi tidak stabil akibat pariwisata ditutup karena Khilafah tidak menjadikan pariwisata sebagai sumber pendapatan utama. Khilafah memiliki sumber pendapatan lain dengan memaksimalkan pengelolaan SDA. Selain itu ada kharaj, jizyah, dan yang lainnya yang dapat dijadikan sebagai pemasukan negara. Maka dari itu, mari kembali kepada aturan Allah Swt. Dengan Islam sajalah problematika umat bisa terselesaikan dengan tuntas. Wallahu a’lam bishawab

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: