30 September 2022

Penulis : Mochamad Efendi

Dimensi.id-Pandemi belum berakhir, tapi penanganan pandemi covid-19 harus segera diakhiri menuju new-normal karena pemerintah sudah lepas tangan. Berbagai usaha pembatasan berskala besar sudah dilakukan tapi tidak menunjukkan hasil dengan indikator menurunnya jumlah korban yang terpapar covid-19. New-normal mulai digulirkan dengan dibukanya pusat perbelanjaan, tempat hiburan serta berbagai fasilitas umum lainnya termasuk juga sekolah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( Mendikbud) Nadiem Makarim telah mengumumkan kapan sekolah akan dibuka pada tahun ajaran baru 2020/2021. Dari penjelasan Nadiem Makarim melalui video telekonferensi, Senin (15/6/2020) sore tersebut disebutkan bahwa sekolah tetap dibuka pada bulan Juli 2020.

Mampukah protokol kesehatan mencegah penyebaran virus corona saat anak sekolah mulai masuk seperti biasa? Banyak pihak meragukan mengingat seumuran mereka, anak SMP maupun SMA biasanya sangat dekat dengan temannya. Apalagi setelah lama tidak bertemu, mereka bisa dipastikan sulit untuk menjaga jarak. Masker juga hanya sebagai aksesoris yang tidak dipakai semestinya untuk melindungi diri dari penularan covid-19.

Lalu apa yang terjadi jika anak sekolah akan masuk di bulan Juli meskipun itu berlaku hanya di wilayah zona hijau. Siapa yang bisa memastikan bahwa di wilayah zona hijau benar-benar bebas dari covid-19 sebelum diadakan rapid-test pada seluruh penduduknya.

Selama ini  daerah yang memberlakukan rapid-test pada penduduknya, baru diketahui ditemukan ada yang terindikasi terinfeksi virus, meskipun cara cepat itu tidak untuk mengetahui apakah tubuh seseorang reaktif atau positif pada covid-19 saja. Banyak daerah diketahui sebagai zona merah bahkan hitam setelah dilakukan rapid-test terhadap penduduknya.

Sementara daerah yang tidak melakukan rapid-test, tidak diketahui kondisi sebenarnya, mengingat virus ini begitu canggih tidak menunjukkan gejala saat pertama kali terinfeksi. Siapa yang bisa menjamin kawasan hijau benar-benar terbebas dari covid-19 tanpa adanya rapid-test yang dilakukan pada seluruh penduduknya.

Anggap saja bahwa memang daerah itu adalah kawasan hijau, apakah kemudian bisa dijamin bahwa penduduk di kawasan hijau tidak keluar dan pergi memasuki kawasan merah. Atau sebaliknya apakah bisa dipastikan penduduk pada kawasan merah tidak memasuki kawasan yang dianggap hijau.

Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan berada dekat wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar. Seperti diriwayatkan dalam hadits berikut ini:

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)

Ledakan jumlah korban dari kluster sekolah ditakutkan akan terjadi jika anak sekolah tidak mampu mengikuti protokol kesehatan dengan benar. Apalagi tidak ada larangan bagi yang keluar masuk kawasan yang dianggap hijau. Kondisi sulit yang dihadapi saat ini karena tidak tegasnya pemerintah dalam menangani pandemi sejak awal saat pamdemi covid-19 belum menyebar seperti yang terjadi saat ini.

Lockdown saat itu harusnya cara effektif yang harus diambil oleh pemerintah bukan malah membuka pintu lebar-lebar bagi warga asing bahkan dari pusat asal wabah masuk ke negeri ini. Candaan yang dilakukan oleh pejabat pemerintah bukti nyata kurang peka dan tidak seriusnya pemerintah dalam menangani pandemi dan bukti pula solusi kapitalis yang setengah hati dan membingungkan dalam menghadapi pandemi ternyata telah gagal dan harus segera diganti dengan solusi Islam. Mengutamakan ekonomi dari pada nyawa rakyat bukan solusi yang benar dan manusiawi bahkan hanya terkesan pencitraan bukan penyelesaian tuntas dan tepat untuk menghentikan penyebaran pandemi yang semakin sulit ditangani.

Sementara Islam yang akan memberi solusi cemerlang dan tuntas dalam menagani pandemi dipandang sebelah mata oleh penguasa rezim. Dalam Islam jelas kita dilarang untuk memasuki daerah yang terkena wabah dan penduduk di pusat pandemi dilarang memasuki daerah hijau yang belum terkena wabah sehingga ekonomi masih bisa terus berjalan normal pada daerah-daerah di kawasan hijau. Sementara yang dikawasan merah mereka diisolasi dengan dijamin  kebutuhan pokok dan dasar mereka.

Karantina wilayah harus dilakukan agar daerah kawasan hijau tetap hijau dan kehidupan normal bisa dirasakan. Sementara, kawasan yang terinfeksi harus dijamin kebutuhannya oleh pemerintah dan mendapat perhatian khusus agar yang sakit bisa disembuhkan dan yang sehat tidak tertular. Dengan solusi Islam yang cemerlang, pandemi akan segera diakhiri.

Sebaliknya solusi kapitalis saat ini, pandemi semakin tidak terkendali dan tidak bisa dipastikan sampai kapan, sehingga rakyat bosan dan seolah tidak ada artinya pengorbanan mereka untuk tetap tinggal di rumah saja dan tanpa ada kepastian dan jaminan kebutuhan harian mereka. Pandemi ini semakin mempertegas bahwa hanya Islam satu-satunya alternatif solusi yang bisa menyelesaikan pandemi dan kehidupan normal yang sesungguhnya bisa terwujud, yakni kehidupan Islami yang dirahmati oleh Allah saat Islam bisa diterapkan secara kaffah dalam sistem pemerintahan khilafah.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: