5 Oktober 2022

Penulis : Rahmah Khairani, S.Pd, Aktivis dakwah muslimah Medan dan  Pendidik

Dimensi.id-“Saya sengaja datang ke sini, sengaja untuk melihat apa di balik butanya mata Pak Novel ini. Kita tahu Pak Novel sendiri sudah tidak peduli dengan butanya mata dia karena sudah bertahun-tahun. Jadi yang bahaya hari ini adalah tuntutan jaksa ini sebagai air keras baru buat mata publik dan mata keadilan,” jelas Rocky Gerung, Minggu 14/6 (Viva New). Pernyataan ini keluar seiring dengan keluarnya tuntutan jaksa kepada pelaku penyerangan yang hanya 1 tahun penjara saja.

Respon kontra netizen kemudian membanjiri media sosial dengan beragam komentar kreatif menyindir keputusan jaksa yang dinilai terlalu ringan dan sangat tidak adil. Pasalnya alasan jaksa penuntut sangat irasional dengan menggunakan alasan bahwa pelaku penyiraman air keras tidak sengaja melakukannya. Bahkan bila dibandingkan dengan kasus penikaman Pak Wiranto tahun lalu, dimana pelaku divonis 16 tahun penjara hal tersebut sangat kontras sekali (Bisnis.com, 16/6).

Nalar publik dipermainkan saat narasi “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”-sila kedua Pancasila- hanya sebatas filosofi tanpa bisa dibuktikan dengan kasus Novel Baswedan versus kasus Wiranto. Keduanya sama-sama pejabat publik, memegang amanah besar demi kelangsungan hukum di NKRI.

Namun keduanya berbeda posisi saat penyerangan terjadi. Yang satu adalah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan yang satunya adalah Menkopolhukam. Dua sisi jabatan yang berada di dua kubu berbeda jika dilihat dari sudut pandang posisinya. Wajar bila publik berkomentar miring terhadap penegakan keadilan di Indonesia yang masih menganut sistem tebang pilih tergantung kepentingan mana yang lebih besar bagi rezim.

Istilah lawas hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah bukan sekedar isapan jempol, namun sudah terbukti kebenarannya dari tahun ke tahun secara terus menerus di republik ini. Keputusan yang terkesan tidak adil ini bukan kasus mengejutkan melihat beberapa tren kebijakan rezim belakangan ini. Diantaranya kebijakan setengah hati antara pemberlakuan PSBB dengan new normal life, pembukaan sektor pariwisata bahkan di zona merah covid 19, tagihan listrik yang di luar akal sehat, dan sebagainya.

Inkonsistensi penerapan hukum antara satu dengan yang lain oleh rezim semakin mengkonfimasi ilusi keadilan dalam demokrasi. Trias politika atau pemisahan kekuasaan antara badan legislatif, eksekutif, dan yudikatif telah melahirkan multi kepemimpinan yang tidak memiliki standar mutlak sehingga dapat disetujui oleh semua orang.

Sering kali drama hukum yang dipertontonkan kepada publik adalah bola panas yang senantiasa ditendang kesana kemari hingga apinya padam sendiri. Tentu kita masih ingat respon bapak Presiden ketika dicerca pertanyaan oleh wartawan terkait kasus Novel Baswedan, namun sayangnya jawaban yang didapat tidak pernah memuaskan. Hingga akhirnya pelaku telah ditangkap pun, kisah ini tidak mendapat titik penyelesaian yang adil.

Demikianlah contoh kecil dari kegagalan sistem kapitalis-demokrasi mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Sistem demokrasi tak mampu menghasilkan solusi problematika umat yang memuaskan akal pikiran. Tak terhitung sudah kesabaran umat menghadapi rezim yang senantiasa minta dimaklumi karena masih “belajar” berdemokrasi, katanya.

Namun di negeri kampiyun demokrasi sekaliber Amerika Serikat pun keadilan dan kesejahteraan juga jauh panggang dari api, terbukti dengan kasus rasis Goerge Floyd yang membuka realitas sebenarnya di negara adidaya tersebut. Klaim sebagai polisi dunia nyatanya tidak mampu mengamankan dunia bahkan terkesan malah dirinyalah sebagai sumber ketidak amanan.

Maka sudah saatnya umat melihat ke arah depan bukan untuk new normal life tetapi sudah memikirkan new vision. Sebuah visi baru untuk kehidupan peradaban manusia yang sesuai dengan fitrah dan akalnya. Semua standar kehidupan dikembalikan kepada sang Pencipta manusia, alam semesta dan kehidupan.

Dialah Allah ta’ala yang telah menurunkan sebuah sistem kehidupan komplit lewat RasulNya Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallama. Hanya dengan Islam lah keadilan dan kesejahteraan menjadi realitas kehidupan dan kedzoliman serta perampasan hak-hak umat menjadi hal tabu dan menjijikkan. Wallahu’alam bish showab.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: