30 September 2022

Penulis : Aisyah Karim (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Dimensi.id-The World of the Married yang dikenal juga dengan A World of Married Couple, sebuah drama produksi negeri ginseng Korea Selatan tidak hanya mampu memecahkan rekor baru sebagai drakor (drama Korea) rating tertinggi sepanjang sejarah pertelevisian Korea namun lebih jauh mampu mengunci selera wanita terhadap pernikahan.

Drakor yang dirilis ditengah pandemi ini bercerita tentang kisah rumah tangga yang dibumbui perselingkuhan dan pengkhianatan. Penayangan episode akhir pada 16 Mei 2020 bahkan menjadi trending nomor wahid di Twitter Indonesia dengan tagar #TheWorldoftheMarried.

Selama beberapa dekade, perselingkuhan merupakan hal tabu dan serius bagi masyarakat Korea. Sebab sejak 1953, perselingkuhan merupakan salah satu kejahatan yang dapat dijerat dengan hukuman. Jika terbukti bersalah, pelaku perselingkuhan dapat dituntut selama dua tahun penjara.

Namun, pada 2015 Mahkamah Konstitusi Korea telah membatalkan undang-undang tersebut dengan pertimbangan kehidupan seks seseorang adalah masalah personal dan setiap orang berhak untuk memilih nasib dan pasangannya.

Pada kenyataannya, hal-hal yang ditampilkan dalam drama memang menggambarkan kehidupan riil di Korea Selatan. Menurut laporan The Korea Herald pada Agustus 2016, lebih dari setengah orang yang telah menikah di Korea mengaku pernah berselingkuh paling tidak satu kali.

Perselingkuhan menjadi alasan utama pasangan mengajukan perceraian di Korea saat ini. Sebuah survey yang dilakukan pada 2016 oleh Institut Korea untuk Seksual dan Kesehatan Suami Isteri menunjukkan 50,8% dari laki-laki Korea selingkuh dari istrinya. Sementara hanya 9,3% perempuan Korea yang berselingkuh dari pasangannya.

Sementara itu, 40% menyatakan transaksi seksual bukan bentuk perselingkuhan. Data tersebut diperoleh dari survei yang dilakukan asuransi besar di Korea, Lina Korea, Bersama klinik seksolog setempat terhadap 1.100 orang berusia 20 tahun keatas. Hasil tersebut menunjukkan rata-rata 53,7 persen laki-laki berusia 50-an mengaku telah menipu istri mereka tentang hubungan di luar perkawinan.

Tak hanya itu, sosok suami sempurna namun berselingkuh dibelakang istri seperti yang diperankan Park Hae-Joon dalam drama tersebut juga nyata dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkaran petinggi pemerintahan dan selebritas.

Salah satunya adalah mantan Gubernur Chungnam, An hee-jung. An hee-jung kerap menampilkan kemesraan Bersama istri di media sosial dan mendukung feminisme, karena terinspirasi istrinya yang secara keuangan dan emosional mendukung karier politiknya. Namun The Korea Herald pada Maret 2018 melaporkan An Hee-jung yang sempat disebut jadi calon kuat presiden Korea Selatan itu ternyata terbukti memerkosa dua orang perempuan (cnnindonesia.com 5/4/2020).

Inilah sisi kelam kehidupan pernikahan di Korea Selatan. Sisi kelam ini telah mengilhami para sineas Korea Selatan mengangkatnya dalam sebuah karya. Psikolog Anak dan Keluarga Astrid W.E.N mengatakan bahwa sebuah drama Korea atau film layaknya bacaan bagi otak. Lewat film, kita mendapatkan persepsi baru, mengenai berbagai macam situasi sosial. Tergantung bagaimana kemudian kita mengolahnya, apakah akan menjadi masukan yang bermanfaat, sebuah hiburan, atau hanya menimbulkan ketakutan saja. Kita perlu bersikap peka terhadap dampak sebuah film bagi diri kita.

Sejalan dengan itu psikolog Zarra Dwi Monica, M.Psi menjelaskan, “Dampak yang  paling bisa terjadi Ketika menonton film tentang perselingkuhan adalah mereka cenderung menjadi insecure (rasa tak aman, gelisah dan takut pada situasi tertentu). Inilah yang dirasakan oleh para wanita yang menyaksikan dan mengikuti film/drama dengan genre ini, termasuk para lajang yang kemudian melihat pelaminan tak lagi menawan.

Ruh feminisme dan liberalisme menjiwai keseluruhan pesan yang ditinggalkan oleh The World of the Married. Realitas ini wajar karena Korea Selatan sendiri berdiri di atas asas sekulerisme Liberal. Kisah kehidupan pernikahan yang mengerikan tentang sosok isteri sukses dengan karir melejit, yang senantiasa mendukung karir suami, karakter idaman setiap wanita agar ia dihargai namun justru dikhianati. Trauma bukan hanya dirasakan oleh tokoh isteri namun meninggalkan perasaan jeri yang mendalam pada diri penontonnya.

Dalam fragmen lain, seorang istri, ibu rumah tangga tulen  mencoba bertahan dengan suami yang hobi berselingkuh namun akhirnya memilih bercerai dan bahagia dengan berwirausaha. Sementara tokoh lainnya  bertutur tentang melajang lebih baik toh karier stabil dan tetap bisa bahagia, jadi untuk apa menikah? Amat kental aroma feminis.

Disisi lain Korea Selatan menghadapi masalah tentang kelahiran bayi yang menurun drastis. Ini disebabkan berkurangnya minat usia produktif untuk menikah. Melansir dari tirto.id dari SCMP 20/1/2019, ternyata salah satu pertanyaan menyeramkan bagi jomlo Korea Selatan ketika bertemu dengan teman, kolega, dan orang-orang yang tak dikenal adalah pertanyaan soal pernikahan.  Generasi muda cenderung menganggap pertanyaan seperti itu kasar dan tidak perlu. Namun terlepas dari desakan yang terus menerus untuk menikah, semakin banyak orang Korea Selatan yang tidak menikah sama sekali, bahkan tidak berkencan.

Realitas Korea Selatan tidak berbeda jauh dengan negara-negara lain yang bertumpu pada asas sekulerisme liberal, termasuk millennials di negeri-negeri kaum Muslim. Infiltrasi ide-ide feminisme telah menyebabkan banyak Muslimah memandang status sebagai istri dan ibu sebagai peran kelas dua, lebih rendah dari mengejar karier dan pekerjaan. Bersamaan dengan itu, filosofi feminis menciptakan kecurigaan terhadap laki-laki dan ketakutan bahwa setelah menikah mereka akan diperlakukan  tidak adil berkaitan dengan hak-hak mereka.

Disisi lain keengganan untuk menikah, disamping promosi feminisme akan kebebasan pribadi dan seksual bagi perempuan, juga memantik peningkatan besar dalam hubungan di luar nikah dan jumlah anak yang lebih tinggi yang lahir di luar nikah. Demikian pula tingginya angka aborsi. Banyak perempuan lebih suka tetap `bebas melajang’ serta mengejar hubungan-hubungan yang berbeda daripada berkomitmen untuk menikah.

Seruan pada kebebasan seksual perempuan untuk menyamai kebebasan seksual laki-laki juga menyebabkan peningkatan aktivitas perzinaan, yang menjadi faktor penyebab utama dalam epidemi pernikahan yang rusak dan rumah/keluarga yang hancur. Tak terhitung jumlah anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga dengan orang tua tunggal.

Pada akhirnya ini bukan membebaskan perempuan, justru meninggalkan mereka dan anak-anak mereka dengan gejolak emosi dan sakit hati yang amat sangat. Kondisi ini menambah sejumlah besar masalah dalam keluarga dan masyarakat. Mulai dari kenakalan remaja hingga narkoba dan meningkatnya kriminalitas lainnya.

Demikianlah, kebebasan seksual dan enggan untuk memikul tanggung jawab sebuah pernikahan atau memiliki istri dan anak, telah menjadi ancaman baru bagi masyarakat modern. Akhirnya institusi pernikahan terancam punah dan hilang kesakralannya. Nah, patut dipertanyakan, apakah melajang adalah keputusan yang tepat?

Jika kita mau jujur, keputusan ini tentu bertentangan dengan fitrah manusia. Menikah adalah kebutuhan manusia. Islam menggariskan menikah untuk melangsungkan keberadaan manusia. Jika seseorang telah mampu dan butuh, maka mensegerakannya adalah keharusan. Islam melarang melajang dan menganjurkan untuk menikah. Allah menciptakan naluri berkasih sayang bagi manusia sekaligus dalam penciptaannya. Naluri ini harus dipenuhi namun pemenuhannya harus dengan cara yang benar sesuai tuntunan Islam.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh imannya. Dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi” (HR. Thabrani). Bahkan dalam sistem Islam, penguasa bertanggung jawab mencarikan jodoh bagi Muslim dan Muslimah yang masih jomblo.

Pada masa  Khalifah Umar bin Abdul Aziz, pada tahun kedua beliau menerima kelebihan dana dari Baitul Mal secara berlimpah dari Gubernur Irak. Khalifah lalu mengirim surat kepada Gubernur Irak yang isinya, “Telitilah, barang siapa berhutang, tidak berlebih-lebihan, dan foya-foya, maka bayarlah hutangnya.” Kemudian Gubernur Irak mengirim jawaban kepada beliau, “Sesungguhnya aku telah melunasi hutang orang-orang yang mempunyai tanggungan hutang, sehingga tidak ada seorangpun di Irak yang mempunyai hutang, maka apa yang harus aku perbuat terhadap sisa harta ini?”

Khalifah mengirimkan jawaban, “Lihatlah setiap jejaka yang belum menikah, sedangkan dia mau menikah. Nikahkanlah dia dan bayar mas kawinnya.” Inilah salah satu kepedulian negara terhadap nasib rakyat khususnya kaum lajang yang belum dan tidak mampu menikah. Hal ini sejalan dengan spirit dari Al-Qur`an:

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi maha mengetahui. Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya (QS. An-Nuur 32-33).

Rasulullah SAW menguatkan janji Allah SWT dengan sabda beliau, “Ada tiga golongan manusia yang berhak mendapat pertolongan Allah; (1) mujahid fi sabilillah (orang yang berjihad di jalan Allah), (2) budak yang menebus dirinya supaya merdeka, dan (3) orang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An-Nasa`i).

Nah menjadi jelas sudah bahwa melajang melawan fitrah. Siapapun yang mengabaikan perintah Allah dan melawan fitrah pasti akan sengsara. Apalagi yang memilih tidak menikah dan memuaskan nalurinya secara illegal. Kelak, pelanggaran fitrah ini tidak hanya menyengsarakan dirinya namun juga menyusahkan masyarakat. Tidak hanya kesusahan di dunia namun juga di akhirat.

Pakar Psikologi Amerika, Tony Ferretti, Ph.D menyampaikan hubungan berkomitmen memang penuh risiko dan rentan, tapi bisa juga datang dengan sukacita dan kebahagiaan. Tony Ferreti benar, ada banyak keuntungan yang membahagiakan ketika seseorang menikah, setidaknya dari sisi kesehatan.

Melansir dari tirto.id dari Times, penelitian pada 2015 yang melibatkan 3,5 juta orang dewasa di Amerika mengungkap bahwa ada korelasi positif antara pernikahan dan kesehatan jantung. Studi ini menemukan bahwa orang yang menikah memiliki risiko lima persen lebih rendah terserang penyakit jantung dibandingkan dengan lajang.

Statistik meningkat secara signifikan untuk pasangan yang menikah muda, responden dengan usia di bawah 50 tahun memiliki risiko 12 persen lebih rendah terserang penyakit jantung daripada para lajang. “Hasil survei kami jelas menunjukkan bahwa ketika ada penyakit kardiovaskular, status perkawinan benar-benar penting,” kata Dr. Carlos Alviar, pemimpin penelitian itu. Inilah kebenaran janji Allah. Nah, para lajang kapan ke KUA?

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: