30 September 2022

Penulis : Endang Sipayung

Dimensi.idGugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pusat telah menetapkan 102 kabupaten/kota di Indonesia yang akan menerapkan new normal.

Dari 102 Kabupaten/Kota yang diumumkan, Kota Medan tidak masuk dalam daftar tersebut.

Meskipun tidak masuk kedalam daftar wilayah yang akan menerapkan new normal, Pemko Medan tetap melakukan persiapan untuk menuju normal yang baru.

“Secara prinsip Medan tetap mempersiapkan diri menuju new normal walaupun kondisi saat ini belum memungkinkan untuk melaksanakan new normal tersebut,” kata Plt Wali Kota Medan Akhyar Nasution, Selasa (2/6/2020).

Hal ini tentu saja terkesan terlalu memaksa, mengingat jumlah pasien positif covid 19 masih terus bertambah di kota medan.

Medan – Detikcom.  Kasus pasien positif Corona di Sumut kembali bertambah. Hingga kini sudah 768 kasus positif Corona di Sumut.

“Update data COVID-19 Provinsi Sumatera Utara, positif metode PCR berjumlah 768 orang,” ujar jubir Gugus Tugas COVID-19 Sumut Mayor Kes Whiko Irwan, Jumat (12/6/2020).

Whiko mengatakan ada tambahan kasus sebanyak 88 orang positif hari ini. Penambahan kasus positif Corona ini terbanyak dari Kota Medan.

“Dengan 58 kasus, di antaranya di Medan,” ucapnya.

Dari jumlah pasien positif ini, kata Whiko, 204 orang dinyatakan sembuh. Sedangkan yang dinyatakan meninggal dunia berjumlah 58 orang.

“Pasien positif sembuh berjumlah 204 orang, meninggal 58 orang. Pasien dalam pengawasan (PDP) berjumlah 163 orang dan orang dalam pemantauan (PDP) berjumlah 420 orang,” jelasnya.

lantas atas dasar apa pemerintah kota medan merasa perlu untuk tetap mempersiapkan medan menuju new normal yang baru?

Bukankah Seharusnya pemerintah harus lebih memfokuskan diri untuk membuat program-program  penanggulangan untuk mengatasi wabah ini agar tidak terjadi peningkatan kasus pasien yang positif setiap hari nya?

Namun yang terjadi justru malah sebalik nya, pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang terkesan mengabaikan keselamatan rakyat.

Lalu dimana peran negara yang seharus nya menjadi pelindung dan penjamin kesejahteraan rakyat.

Benarkah rencana penerapan new normal di medan ini merupakan jawaban atau solusi untuk mengatasi pandemi covid 19 di medan?

Sebagaimana yang kita ketahui Salah satu langkah yang dilakukan adalah membangun kultur dan kebiasaan baru, yakni hidup berdampingan dengan pandemi.

kompas. Com Kita sedang persiapan menuju pra new normal, pertemuan dengan tokoh agama dan masyarakat untuk menyiapkan keadaan yang akan kita capai bersama nantinya,” kata Akhyar, Selasa (10/6/2020).

Kultur baru tersebut mulai dari menggunakan masker di manapun berada, terutama saat berada di luar rumah.

Kemudian menjaga jarak satu sama lain, menghindari kerumunan, rajin mencuci tangan dengan menggunakan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer.

Namun benarkah hal tersebut dapat benar-benar di terapkan secara efektif di tengah-tengah masyatakat?

Mengingat saat ini kita masih sering menjumpai warga yang tidak menggunakan masker saat beraktifitas diluar rumah, terutama di ruang publik seperti pasar-pasar tradisional.

Maka sudah jelaslah setiap kebijakan yang di ambil oleh pemerintah tidak akan benar-benar bisa menjadi sebuah solusi atau jalan keluar bagi setiap masalah yang di alami oleh  masyarakat, khususnya dalam menghadapi pandemi covid 19 ini.

Dan ini memang sudah wajar terjadi, mengingat negara kita saat ini sedang menganut sistem yang gagal dan rusak,yaitu sistem kapitalis sekuler.

Sistem yang lahir dari sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi atau badan negara harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan.

(memisahkan agama dari kehidupan) .

Dan tentu saja tidak mengherankan kalau dari sistem seperti ini lahirlah pribadi-pribadi yang tidak bertaqwa, pemimpin-pemimpin yg zolim, yang tidak mau tunduk kepada aturan Allah. Sehingga setiap kebijakan yang di ambil hanya berdasarkan kepentingan-kepentingan individu atau perorangan saja.

Tanpa memikirkan dampak baik atau buruknya bagi masyarakat, bahkan terkesan abai terhadap keselamatan rakyat karena rakyat diminta untuk hidup berdampingan dengan virus.

Dan kebijakan new normal life ini justru menjadi sebuah bukti kegagalan peradaban kapitalisme dalam mengatasi pandemi covid 19.

Hal yang jelas-jelas akan berbeda ketika negara ini menganut sistem yang datang nya dari Allah SWT, yaitu sistem islam.

Yang mana setiap kebijakan yang di ambil haruslah sesuai dengan tuntunan Al-quran dan as-sunah.

Di dalam islam keselamatan dan kesejahteraan rakyat mutlak merupakan tanggung jawab negara, yang di pimpin oleh seorang khalifah.

Khalifah adalah pemimpin yang mewakili umat dalam menjalankan pemerintahan, kekuasaan dan penerapan syariah.

Dan Setiap Pemimpin akan dimintai Tanggung Jawab,

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ: الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا، وَالْخاَدِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

Setiap kalian adalah pemimpin & setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang penguasa adalah pemimpin & akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang lelaki adalah pemimpin dalam keluarganya & akan ditanya tentang kepemimpinanya. Seorang wanita adalah penanggung jawab dalam rumah suaminya & akan ditanya tentang tanggung jawabnya. Seorang pelayan adalah penanggung jawab dalam harta majikannya & akan ditanya tentang tanggung jawabnya.

| shohih bukhari : 893

Maka tidak ada jalan lain untuk mengatasi setiap masalah didalam kehidupan ini, selain kembali berhukum kepada hukum islam.

Karena hanya di dalam islamlah akan di temui pribadi-pribadi yang bertaqwa, serta pemimpin-pemimpin yang bertanggung jawab terhadap nasib rakyatnya.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: