30 September 2022

Penulis : Shita Ummu Bisyarah ( Pegiat Literasi )

Dimensi.id-Pandemi Covid-19 yang kini telah menginfeksi lebih dari 7 juta orang bahkan diprediksi terus meningkat, membawa duka tersendiri bagi dunia. Pasalnya pandemi ini sangat cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia dan menewaskan ratusan ribu jiwa. Padahal sebenarnya 13 tahun yang lalu yakni tahun 2007, para ilmuan telah memperingatkan dunia akan ada pandemi akibat virus SARS-CoV.

Sebuah paper ilmiah yang memproyeksikan adanya pandemi akibat SARS-CoV berjudul “Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus as an Agent of Emerging and Reemerging Infection”.Paper ilmiah tersebut terbit di jurnal “Clinical Microbiology Reviews”, jurnal bereputasi dan terkemuka (Q1) dalam dunia medis, memiliki 434 referensi dengan H-Indeks sebesar 245.

Dalam jurnal ini dijelaskan 3 alasan mengapa ilmuwan bisa memproyeksikan akan terjadi epidemi SARS-CoV lagi setelah terjadi wabah di tahun 2003. Alasan pertama Virus Corona mudah sekali mengalami rekombinasi genetik ( perubahan genom ). Ke-2 adanya hewan resevoir atau hewan penampung virus seperti kelelawar. Ke-3 budaya memakan hewan mamalia eksotis di China yang akan mempermudah virus dari hewan berpindah ke manusia. Peneliti menjelaskan bahwa ke 3 hal ini akan menjadi “bom waktu” bagi dunia.

Jadi para ilmuan sudah memperingatkan dunia sejak tahun 2007, bahwa akan kembali terjadi pandemi akibat virus SARS-CoV, baik disebabkan karena hewan ataupun rekayasa laboratorium. “The possibility of the reemergence of SARS and other novel viruses from animals or laboratories and therefore the need for preparedness should not be ignored” (kutipan paper ).

Maka dengan adanya peringatan ini harusnya dunia bersiap atau mengurangi resiko akan adanya penularan virus ini kepada manusia. Namun nyatanya tidak demikian, dunia malah abai, bahkan para pemegang kebijakan seolah tak peduli dengan nasib jutaan nyawa manusia.

Lihat saja bagaimana pemerintah China menutup – nutupi fakta mengenai virus ini dan mengatakan bahwa virus ini tidak ditransmisikan human to human. Lihat saja bagaimana pemerintah China menutup – nutupi fakta mengenai virus ini dan mengatakan bahwa virus ini tidak ditransmisikan human to human. Hal ini diungkap oleh Five Eyes, gabungan intelijen dari lima negara (AS, Kanada, UK, Australia, dan Selandia Baru), yang menemukan sebuah dokumen setebal 15 halaman yang isinya mengungkap kebohongan China soal virus corona. Hal ini yang membuat AS geram hingga terjadi perang dingin antar 2 negara tersebut. Selain itu ketidakjujuran China membuat virus ini menyebar ke berbagai belahan dunia.

Parahnya setelah diumumkan virus ini menjadi pandemi, dunia tidak kompak mengambil keputusan. Tiap negara yang tersekat dengan sekat nasionalisme sibuk dengan urusan negaranya masing – masing. Berbagai negara menarik warga negaranya untuk pulang sehingga membuat virus ini semakin luas menyebar.

Parahnya ada beberapa negara yang tak bersiap dan cenderung meremehkan pandemi ini karena tingkat kematiannya sangat rendah. Termasuk Indonesia, ketika awal pandemi ini berkecamuk Indonesia justru santuy dengan pindah ibu kota barunya. Alhasil banyak negara yang pada akhirnya koleps dan justru membuat peraturan yang berkonotasi “menyerah”. New Normal Live, begitulah gaung media seantero dunia, seolah tidak ada solusi lagi atas pandemi ini kecuali berdamai dengannya.

Tatanan dunia hari ini terlihat sangat amburadul. Dunia dengan sistem kapitalismenya menyebabkan kerusakan di sana sini. Mulai dari rasialisme yang kini menggaung keras di negeri paman syam, diskriminasi, egoisme, narkoba, pergaulan bebas, penjajahan, penyiksaan, kekerasan dan segudang masalah lainnya yang merupakan masalah cabang dari tatanan dunia yang carut marut dibawah kapitalisme ini.

Sistem Kapitalis yang kini menjadi ideologi dunia merupakan ideologi yang meniscayakan kepemilikan hanya berpusat pada pemilik modal (Karl Marx). Hal ini membuat perekonomian terjadi ketimpangan dan krisis berulang karena negara hanya bertindak sebagai regulator, sedangkan aset – aset penting ( tambang, hutan, air dll ) dimiliki oleh segelintir orang bermodal besar. Sistem seperti ini jelas akan menimbulkan ketimpangan luar biasa yang kemudian berimbas pada efek domino kerusakan segala lini, baik sosial, perpolitikan, alam dll.

Seperti yang terjadi pada dunia hari ini. Kerusakan bumi, kekerasan yang terjadi, diskriminasi, rasialisme, korupsi, narkoba, kemiskinan yang kian menjamur, penjajahan dll. Pun termasuk kegagalan dunia menghadapi penyebarluasan pandemi merupakan bukti nyata bahwa tatanan dunia oleh sistem kapitalis telah gagal meriayah manusia.

Maka sudah selayaknya kita tanggalkan sistem yang bobrok ini dan menggantinya dengan sistem lain yang lebih layak, yakni sistem yang berasal dari pencipta manusia. Tidak lain adalah sistem Islam yang telah terbukti dalam sejarah selama 14 abad memimpin dunia. Menjadi mercusuar peradaban dan melahirkan banyak pholymath pada zamannya. Tak diragukan lagi bagaimana komperhensif dan adilnya aturan Islam karena bersumber dari Allah SWT. Pun kelihaian negara Islam menghadapi sebuah wabah dengan mekanisme kerennya, sehingga tak pernah tercatat dalam sejarah Islam, wabah bisa menyebar ke seluruh dunia. Wallahualambissawab

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: