30 September 2022

Penulis : Evi Sopianti (Aktivis Dakwah)

Dimensi.id-New normal atau kenormalan baru adalah istilah yang populer belakangan ini. Istilah ‘new normal’ FC merujuk ke kondisi ‘kenormalan’ yang berbeda dengan masa prapandemi covid – 19.

Mengacu pada paparan Presiden Joko Widodo, masa new normal ini adalah saat masyarakat mulai ‘dipaksa’ berdamai dengan virus Corona. Hidup berdampingan bersama Covid-19 diimbangi dengan mengedepankan protokol kesehatan hingga ditemukannya vaksin yang konon baru ada tahun depan.

Motivasi ekonomi menjadi alasan paling utama. Sebab, kebijakan penanganan Corona mulai dari ‘lockdown lokal’ (tingkat desa) hingga pembatasan sosial berskala besar (PSBB) benar-benar telah memukul ekonomi dari dua sisi, supply side dan demand side.

Kabar yang santer, pembukaan sekolah hanya akan diberlakukan di wilayah zona hijau. Itu pun dengan berbagai syarat dan panduan, yang (katanya) sedang disiapkan dengan penuh kehati-hatian. Sebelumnya, Mendikbud Nadiem Makarim memang sempat menyebut bahwa pemerintah sedang menyiapkan skenario kebijakan membuka sekolah di era new normal pada Juli mendatang.

Pernyataan ini sontak menuai perdebatan. Banyak pihak yang menilai bahwa pemberlakuan new normal khususnya di dunia pendidikan sangat berbahaya dan terkesan menjadikan siswa didik dan para guru sebagai kelinci percobaan. Apalagi faktanya, situasi wabah belum benar-benar selesai dan kurva kasusnya pun tak kunjung melandai.

Ekonomi global diperkirakan akan menyusut 3 persen pada 2020 dalam kejatuhan aktivitas yang didorong oleh virus corona yang akan menandai penurunan paling tajam sejak Great Depression pada tahun 1930-an.

Penularan itu, yang menginfeksi lebih dari 1,88 juta orang di seluruh dunia dan membunuh 119.168 jiwa, memaksa banyak negara untuk menutup aktivitas dan mendorong bank sentral untuk merilis langkah-langkah dukungan, termasuk di Indonesia.

Meski korban Covid-19 masih berjatuhan, pemerintah terus mewacanakan penerapan konsep new normal life. Yakni pola hidup adaptif terhadap ancaman virus Covid-19 yang ditengarai baru akan benar-benar hilang dalam waktu yang sangat lama.

Bahkan ternyata bukan sekadar wacana. Di beberapa tempat, konsep ini sudah mulai diterapkan dalam bentuk pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Pusat-pusat kegiatan ekonomi, pusat-pusat ibadah, sarana dan prasarana transportasi, sudah mulai berjalan meski dengan berupaya menerapkan protokol kesehatan.

Masalahnya, banyak pihak yang memandang bahwa kebijakan ini sangat tidak tepat dan berbahaya jika diterapkan dalam situasi sekarang. Mereka memandang bahwa kebijakan ini hanya bentuk berlepas dirinya pemerintah dari tanggung jawab mengurus rakyat hingga rela mengorbankan nyawa rakyat dengan alasan ingin menggerakkan kembali sektor ekonomi yang lumpuh akibat pandemi.

Rasulullah SAW bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله  صلى الله عليه وسلم: من ضارّ ضار الله به . ومن شاقّ شاق الله عليه

Dari Abi Hurairah RA dia berkata: bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa membahayakan orang lain maka Allah akan membalas bahaya kepadanya dan barang siapa menyusahkan atau menyulitkan orang lain maka Allah akan menyulitkannya.” (HR al-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

 Lalu, bagaimana sesungguhnya penerapan konsep new normal life dalam pandangan Islam?

  • Kaidah as-Sababiyah

Syekh Abdul Karim as-Saamiy dalam kitabnya As-Sababiyah, Qoidatu Injazi al’Amali wa Tahqiqi al Ahdafi menyatakan bahwa as–sababiyah adalah upaya mengaitkan sebab-sebab fisik dengan akibat-akibatnya yang juga bersifat fisik dalam rangka mencapai target dan tujuan tertentu.  

  • Memperhatikan Pendapat Ahli

Setiap muslim, ketika ia hendak melakukan sesuatu, sesungguhnya ia dituntut untuk memahami terlebih dahulu apa hukum syara’ yang berkaitan dengan perbuatan tersebut.

Apalagi seorang pemimpin atau penguasa muslim, maka sesungguhnya ia pun terikat dengan aturan Allah ketika hendak membuat kebijakan. Selain itu, Rasulullah SAW sebagai pemimpin, telah mencontohkan kepada kita agar memperhatikan pendapat orang-orang ahli atau ahlil khubroh jika itu berkaitan dengan pemikiran, strategi, atau pada hal-hal yang diperlukan adanya pendapat ahli.

  • Memperhatikan hukum atau kaidah tentang dharar (kemudaratan)

Syariat Islam telah melarang seseorang mengerjakan sesuatu aktivitas yang membahayakan dirinya sendiri atau membahayakan orang lain, terutama saudaranya sesama muslim, baik berupa perkataan atau perbuatan, tanpa alasan yang benar.

  • Yakin akan qadha Allah dan bertawakal pada–Nya

Keimanan terhadap qadha akan berpengaruh positif terhadap aktivitas manusia dalam keadaaan apa pun. Keyakinan tersebut akan mendorongnya untuk melakukan aktivitas, bukan malah menjadikannya sebagai fatalis. Karena selama sebab-sebab yang menghantarkan terhadap tujuan itu masih berada dalam lingkaran yang dikuasainya, dia masih bisa untuk mengupayakannya.

Selanjutnya, kita sebagai rakyat pun punya peran untuk menyelamatkan keluarga kita, bahkan menyelamatkan umat dengan terus mengopinikan ke tengah-tengah umat dan melakukan kritik terhadap penguasa, bahwa kebijakan yang dilakukan akan memberikan dampak berbahaya bagi umat.

Bukti-buktinya sudah sangat jelas, berdasarkan data-data yang ada, kasus Covid-19 di Indonesia masih cenderung meningkat. Jangan sampai kebijakan new normal life justru memunculkan datangnya gelombang kedua yang semakin besar bahayanya bagi umat. Naudzu billahi min dzalika.

Wallahu ‘alam bi ash-shawwab

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: