30 September 2022

 Penulis : Salasiah S.pd (Praktisi Pendidikan)

Dimensi.id-Guru bagaikan ujung tombak yang langsung berhadapan pada sasaran yang dituju yaitu peserta didik. Analogi  itu akan menjadi sebuah hal yang membanggakan jika dialami secara utuh, bahwa tombak selain mempunyai ujung juga mempunyai batang dan pangkal yang tidak lain adalah keluarga dan masyarakat. Agar tombak ini mencapai sasaran dengan tepat maka pemegangnya harus benar-benar memahami arah tujuannya. Dalam hal ini pemegang tombak adalah negara yang diwakili oleh pemerintah. Semuanya harus sejalan dan beriringan serta bersilaturahmi untuk saling memahami.

Sebelum masuk kesekolah dan berhadapan dengan guru seorang anak memulai hari dan bekal ilmu didalam sebuah keluarga. Keluarga inilah tanggung jawab pendidikan pertama diberikan. Di tempat yang bernama keluarga inilah sebenarnya wadah pendidikan utama bagi seorang anak.

Karena beratnya tanggung jawab mendidik maka sekolah membuka peluang bagi orangtua untuk tidak melalaikan kewajiban tersebut dan meringankanya.  Dengan maksud itu orang tua harus mengenal dengan baik lingkungan sekolah agar tidak salah mempercayakan anaknya untuk dididik oleh guru di sekolah. Dan untuk mendekatkan siswa pada lingkungannya, sekolah menunjuk seorang wali kelas sebagai  orang tua pengganti selama beberapa jam siswa berada dalam lingkungan sekolah sebelum ia kembali menjalani pendidikan dalam keluarga.

Masyarakat semestinya juga tidak melepaskan fungsinya dalam pendidikan sebagai kontrol sosial agar pendidikan berjalan searah dengan nilai agama, norma, dan etika ketika siwa berada dalam lingkungan sekolah dan luar rumah. Secara keorganisasian, komite sekolah menjadi jembatan penghubung antara sekolah, keluarga, dan masyarakat  dalam membahas setiap keberhasilan dan permasalahan yang harus diatasi dalam dunia pendidikan. Demikianlah sejatinya pendidikan berjalan agar berfungsi sebagai tombak tajam yang membentuk pengetahuan dan kepribadian anak.

Proses dalam mendidik bukan hanya sebatas mengajarkan, memberikan, dan memindahakan mata pelajaran tertentu kepada siswa. Tapi mendidik adalah menanamkan kebaikan dandan manfaat ilmu sampai ke hati pendidik, menjadikan kepribadian yang mewarnai sebuah generasi. Pendidikan tidak akan berjalan dengan baik jika tanggungjawab hanya diserahkan kepada sekolah/guru saja.

Jika hal itu terjadi, maka batangan kayu  itu tidak akan pernah berfungsi sebagai tombak dengan ujung yang runcing dan tajam tetapi cuma sebagai patok yang hanya berfungsi memberikan tanda bahwa anak telah bersekolah dengan bukti ijazah tanpa harus menjalani proses didik. Akan sangat naif jika masyarakat ikut menyudutkan dan memvonis sekoalah dalam hal ini guru, sebagai orang yang gagal mendidik tanpa pernah mengontrol dan mendampingi guru.

Dalam prosesnya, mendidik juga membutuhkan aturan sebagai batas sesuatu yang boleh dan tidak  untuk dilakukan terlebih agar sejalan dengan ajaran agama yang benar. Ketika aturan itu dilanggar maka mestilah ada sanksi yang diterima dengantujuan yang sama yaitu mendidik. Sejatinya aturan-aturan ini adalah aturan yang berlaku dalam konferehensif.

Misalnya ketika di sekolah dibuat aturan yang melarang untuk merokok, maka keluarga dan masyarakat ikut mengontrol anak untuk tidak merokok. Manakala sekolah menjaga pergaualan dan kepribadian anak dengan melarang membawa sesuatu yang berbau porno, masyarakat dan keluarga juga harus memberikan sanksi jika diluar sekolah mereka melanggarnya.

Pesatnya teknologi tanggung jawab pembentuk generasi ini begitu sangat berat. Guru pun mengharapkan bantuan Negara sebagai benteng pengaruh keparnoan yang mempengaruhi life syle anak didik. Pemerintah diharapkan mampu menutup situs-situs porno yang mudah diakses oleh anak didik.

Apalagi ketika pembelajaran jarak jauh dengan berbasis teknologi jaringan, pengawasan guru semakin berkurang terhadap bentukan karaktek anak didik.  teknologi mini android yang ada digenggaman anak didik akan semakin membawa pengaruh kuat jika tanpa ada aturan dan pengawasan. Dengan alasan mencari tugas-tugas yang diberikan oleh guru, mereka akan mendapatkan pengaruh pendidikan negatif dari gawai yang memasuki ruang private anak didik. Dengan ditutupnya situs-situs porno tentu oleh pemangku kebijakan akan membawa tujuan pendidikan Indonesia akan semakin cemerlang.

Guru juga harus berperan sebagai sahabat dan juga orang tua secara utuh bagi siswa-siswanya, mendengarkan keluhan dan masalah-masalahnya menghadapi globalisasi dan moderinisasi. Seorang guru tidak hanya sekedar menyampaikan dan menterasfer ilmu karena tanggung jawab tidak hanya sekedar mengajar tapi juga men didik, menanamkan kebaikan dan manfaat ilmu sampai ke hati mereka, menjadi sebuah keperibadian yang mewarnai sebuah generasi. Melahirkan manusia shaleh sekaligus menguasai IPTEK.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: