3 Oktober 2022

Penulis : Ummu Sansan (pegiat literasi)

Dumensi.id-Indonesia bersiap memasuki new normal meski jumlah covid-19 positif masih meningkat. Per tanggal 4 juni 2020 jumlah positif mencapai 28.818. Belum mencapai puncak apalagi melandai. Sedangkan saat ini sudah masuk bulan juni, mendekati tahun ajaran baru di sekolah. Menurut kalender pendidikan, tahun ajaran baru dimulai tanggal 13 Juli 2020. Menjadi pertanyaan adalah akankah sekolah masuk seperti semula?

Keputusan pasti masih ditunggu. Namun saat bertemu 8 tokoh lintas agama di Istana Negara, Jakarta Pusat, Presiden Jokowi belum memutuskan untuk membuka kembali aktivitas sekolah dan pesantren meski sejumlah daerah bersiap memasuki fase new normal ini. “Kita harus hati-hati akan nasib 54 juta siswa,” demikian yang disampaikan. (m.merdeka.com/2/6/2020).

Para siswa itu sebagian besar terkategori anak-anak, karena usianya yang kurang dari 18 tahun. (Menurut UU Perlindungan Anak) Di sisi lain, penderita positif covid-19 tidak hanya menimpa dewasa, anak-anak pun terdampak. Sebagaimana yang disampaikan oleh Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) Nahar mengatakan, persentase anak usia 6 hingga 17 tahun yang terdampak Covid-19 sebanyak 5,6 persen dari seluruh pasien positif. Kemudian persentase anak usia 0-5 tahun yang terdampak Covid-19 sebesar 2,3 persen dari keseluruhan pasien positif Covid-19. Data ini rangkuman hingga 2 juni 2020 (kompas.com/3/6/2020).

Adapun IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) memiliki data tersendiri. Ketua Umum IDAI, dr Aman B Pulungan mengatakan per 1 Juni 2020 menurut catatan IDAI jumlah kematian anak pasien COVID-19 di Indonesia telah naik menjadi 26 orang. Sedangkan ada 160 anak yang dinyatakan meninggal dunia dengan status PDP. (tempo.co/3/6/2020).

Dengan demikian pandemi ini tak bisa dipandang remeh karena juga berdampak pada anak-anak. Jangan sampai kejadian masuk sekolah menjadikan cluster baru kasus konfirmasi covid-19. Sekalipun dengan dalih beradaptasi dan memasuki era new normal karena anak-anak merupakan generasi masa depan dan aset bangsa.

Antara Ilmu dan Nyawa

Ilmu merupakan hal yang dibutuhkan dalam menjalani kehidupan. Adapun nyawa hanya satu yang melekat di badan tanpa cadangan. Karenanya dieman agar kehidupan yang dijalani menjadi optimal.

Pilihan ini pula yang diambil oleh orangtua ketika disodori opsi antara ke sekolah dengan di rumah. Dari pendidikan jarak jauh yang dijalani untuk menekan penularan covid-19 selama kurang lebih 3 bulan, beberapa pihak mengkhawatirkan anak-anak tertinggal secara akademik. Namun para orangtua memilih anak selamat seperti diungkapkan Ardi, warga Bintaro, Jakarta Selatan “Pilihannya itu kan keselamatan anak atau anak bodoh. Kasarnya begitu. Kalau kita disuruh pilih, ya pilih anak selamat dong,” ujar ayah dua anak yang duduk di bangku TK dan SD. (bbc.com/2/6/2020)

Memang mayoritas orangtua memilih anak selamat dan belajar di rumah hingga pandemi berlalu. Sebagaimana hasil kuisioner yang disebar KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia)  lewat Facebook, email dan WhatsApp sepanjang 26-28 Mei. Didapatkan 66 persen orang tua tidak setuju kegiatan belajar mengajar di sekolah kembali dilakukan saat tahun ajaran baru pada 13 Juli mendatang.

Sebaliknya mayoritas guru dan siswa justru setuju. Masing-masing sejumlah 54 persen dari 18.111 responden guru dan 63,7 persen dari 9.643 orang responden siswa. Polling dilakukan terhadap responden di 5 provinsi dan 91 kabupaten atau kota.  (m.cnnindonesia.com/3/6/2020)

Pandemi dan Potret Kesenjangan Pendidikan Indonesia

Pandemi Corona yang terjadi mampu mengungkap kebobrokan sistem yang ada di negeri ini. Seperti sistem kesehatan, terlihat bahwa banyak hal yang harus dibenahi seperti sarpras, SDM, pembiayaan dan sebagainya. Betapa gagapnya menghadapi badai corona. Negara-negara majupun goyah menghadapi pandemi ini apalagi Indonesia sebagai negara berkembang.

Tak hanya kesehatan dan ekonomi yang terdampak. Demikian pula dengan pendidikan. Pendidikan jarak jauh (PJJ) yang dijalani selama ini mengungkapkan kesenjangan pendidikan yang terjadi. Kendala infrastruktur dan teknologi menjadi realita kesulitan dilaksanakannya PJJ. Betapa tidak, gawai canggih, aplikasi, dan jaringan internet menjadi sarana utama pelaksanaan PJJ. Namun tak seluruh guru dan siswa mampu menjalankan. Perbedaan terasa antara yang di kota dan di desa. Antara di Jawa dan di luar Jawa.

Tak semua siswa tinggal di tempat yang lancar jaringan internetnya. Juga tak semua memiliki ponsel. Sekalipun ada, belum tentu memiliki anggaran untuk membeli paket data. Lantas bagaimana mendapat pelajaran dan ilmu yang dibutuhkan dengan kendala tersebut? Setali tiga uang dengan siswa, guru pun mempunyai kendala.

Penguasaan teknologi yang rendah alias gaptek, juga kemampuan penyampaian pelajaran via daring, menjadikan PJJ tak berjalan optimal. Belum lagi kondisi anak yang tidak kondusif saat PJJ. Jenuh, bosan, tak ada bimbingan apalagi orangtua yang juga gaptek dan tak paham pelajaran. Belum lagi jika orangtua bekerja sehingga tidak bisa memberikan pendampingan. Lengkaplah kendala yang dirasakan.

Wajar jika kekhawatiran akan ketertinggalan akademik mencuat di kalangan para pendidik. Bagaimana masa depan generasi dengan PJJ ini? Rupanya masalah pendidikan luput dari perhatian pemerintah atau memang sengaja tutup mata?

Beberapa pihak menilai bahwa PJJ tidak bertarget pada pencarian akademik semata tetapi juga pada pendidikan berkarakter. Orangtua yang mendampingi anak selama belajar di rumah menjadi role model pendidikan karakter ini. Juga aktivitas keseharian anak bisa menjadi sarana pembentukan pendidikan berkarakter. Namun pendidikan yang seperti apa agar anak menjadi berkarakter sepertinya masih buram dalam kacamata guru apalagi orangtua. Alhasil tidak ada target bahkan orangtua tidak tahu apa yang harus dilakukan kecuali menyiapkan stok sabar yang cukup saat mendampingi anak belajar di rumah.

Belum ada panduan yang pas terkait PJJ ini. Bahkan pemerintah mengakui tidak ada kontrol  atas perkembangan anak dalam PJJ.  Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko menilai selama ini belum ada mekanisme pengawasan PJJ untuk memastikan siswa berkembang dan benar-benar memahami pelajaran yang disampaikan guru selama belajar dari rumah. (m.cnnindonesia.com/3/6/2020)

Anak dan Generasi sebagai Aset Bangsa, Antara Kapitalisme versus Islam

Dalam kapitalisme, pendidikan bisa menjadi lahan bisnis. Tak heran, karena target yang ingin diraih berupa materi. Segala sesuatu dihitung untung rugi. Termasuk dalam pendidikan, anak-anak yang menjadi siswanya juga dijadikan segmen atas produk tertentu. Demi meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.

Produk apapun akan diluncurkan asalkan diterima pasar dan mendapat keuntungan. Walaupun akhirnya menuai persoalan. Seperti demam drakor menjadi sarapan rutin, hingga latah tanpa kendali. Gaya hidup bebas dilakukan untuk mengekspresikan diri. Bahkan bila generasi rusak, penguasa seolah tak peduli asalkan ekonomi terus berputar menghidupi. Inilah cerminan yang terjadi di negeri ini.

Pendidikan di sekolah seolah hanya demi ijazah. Selanjutnya menempuh pendidikan demi mendapatkan kerja yang layak. Ilmu dan pemahaman nomor kesekian. Yang penting mendapat pekerjaan dan penghasilan.

Adapun dalam Islam, anak adalah aset masa depan. Dipundaknyalah kelak perubahan disandangkan demi masa depan bangsa. Maka pendidikan yang diberikan pasti dengan tujuan dan indikator yang jelas. Sistem pendidikan dijalankan untuk mencetak generasi berkepribadian Islam. Yaitu memiliki pola pikir dan pola sikap sesuai ajaran Islam.

Orangtua pun disiapkan menanggung amanah mendidik ini. Bagi para ibu, dialah tempat sekolah yang pertama dan utama hingga kemudian anak siap menuju bangku sekolah. Dididiklah dengan kurikulum yang jelas dengan asas Islam. Akidah Islam menjadi pondasi yang ditanamkan sebelum diberikan ilmu-ilmu tambahan untuk hidup di dunia. Keutamaan menuntut ilmu diutamakan daripada tuntutan demi mendapatkan kerja.

Maka jelaslah perbedaan ini tak mungkin dicari titik temu. Karenanya memaksakan anak-anak hadir kembali di sekolah di masa pandemi tak ubahnya mencari untung sesaat demi meninggalkan aset tak bernilai harganya. Kehadirannya di sekolah menjadi cerminan adaptasi. Kalaupun akhirnya terinfeksi akan dikorbankan demi pencitraan diri bahwa new normal life telah terjadi.

Sungguh sangat disayangkan bila nyawa melayang sia-sia walaupun masih anak-anak. Di hadapan Allah SWT, nyawa lebih berharga dibandingkan dunia. Dalam hadits disebutkan dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Tirmidzi 1455, dan dishahihkan al-Albani). Karenanya sudahlah, biarkan anak-anak belajar di rumah hingga pandemi usai. Siapkan orangtua dan guru agar menyiapkan diri atas kondisi ini. Wallahua’lam bisshowab.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: