30 September 2022

Penulis : Lia Sulastri

Dimensi.id-Sikap pemerintah dalam menghadapi dan menangani pandemi covid19 sampai saat ini selalu memunculkan perdebatan di tengah masyarakat. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pun senantiasa menimbulkan kontroversi baru yang memicu pro dan kontra di kalangan masyarakat. Tak terkecuali kebijakan impor yang baru-baru ini dicetuskan oleh pemerintah dengan adanya pelonggaran syarat impor yang makin memudahkan para importir untuk memasok barang-barang ke Indonesia terutama pasokan pangan.

Dikutip dari katadata.co.id, Direktur Jendral Perdagangan Luar Negri Indrasari Wisnu Wardhana mencatat bahwa impor bawang putih yang masuk ke Indonesia tanpa Persetujuan Impor ( (PI ) mencapai 28juta ton. Hal tersebut mencerminkan bahwa importasi bawang putih dapat dilakukan dengan mudah dan siapapun dapat melakukan impor. Hal yang sama pun terjadi pada jenis impor yang lainnya seperti sayuran dan garam.

Adanya pandemi covid-19 yang masih terjadi di Indonesia dan terjadinya penurunan produksi lokal yang membuat stok pangan menurun disertai kebutuhan masyarakat terhadap pangan yang semakin meningkat menjadi alasan kuat bagi pemerintah untuk meningkatkan skala impor.

Alih-alih mewujudkan dan meningkatkan swasembada pangan masyarakat, pemerintah justru meminimalisir produksi dalam negeri dengan tidak memberikan bantuan modal dan fasilitas kepada para petani dan pengelola usaha kecil dan menengah untuk meningkatkan produktivitas mereka yang mana justru sangat lebih dibutuhkan di saat pandemi seperti sekarang ini.

Dan malah lebih mengutamakan impor sebagai solusi untuk pemenuhan kebutuhan pangan rakyat. Hal ini tentu  membuat kehidupan para petani dan pengusaha kecil dan menengah semakin sulit karna ketidakmampuan mereka untuk bersaing dengan produksi luar negeri diakibatkan modal dan fasilitas yang terbatas.

Dibalik itu semua, dengan adanya kebijakan impor baru ini justru memberikan peluang cukai yang sangat besar bagi kementrian perdagangan dan pertanian serta peluang bagi para pebisnis untuk lebih mudah memasok barang-barang dari luar negeri demi meraih keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa memperdulikan kesulitan dan kegelisahan yang dialami para petani dan pengusaha kecil.

Negara yang seharusnya hadir sebagai pelindung dan pengayom rakyatnya justru malah membuat kehidupan rakyatnya semakin sulit dan terjepit. Kebijakan-kebijakan yang ada semakin memperlihatkan bahwa pemerintah lebih berpihak kepada para pebisnis dibandingkan rakyatnya sendiri.

Lalu bagaimana Islam menerapkan kebijakan terutama dalam Maslah impor?

Islam adalah agama yang lengkap dengan segala aturan-aturannya yang berasal dari Allah SWT. Kekhilafahan dalam islam adalah sesuatu yang wajib ada sebagai bentuk perlindungan kepada rakyatnya. Khilafah adalah negara yang kuat dan mandiri yang tidak tergantung kepada negara lain. Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an : ” Dan sekali-kali Allah tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin “. ( TQS. An-nisa : 141 ).

Wujud kemandirian khilafah adalah dengan pemenuhan kebutuhan vital dari produksi dalam negri. Dengan kata lain khilafah dapat mewujudkan swasembada penuh untuk rakyatnya. Memberikan bantuan modal dan pemenuhan fasilitas guna meningkatkan produktifitas dalam negri sehingga kebutuhan masyarakat terutama dalam masalah pangan dapat terpenuhi.

Khilafah mampu mengolah dan mengelola sumber daya alamnya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup rakyatnya. Dan yang paling utama khilafah akan membatasi impor dan tidak akan membuat kebijakan impor yang justru akan mengahancurkan kehidupan rakyatnya, tetapi khilafah akan memastikan suplai kebutuhan vital pada seluruh wilayahnya baik yang terkena wabah maupun tidak. Dan melarang praktik ihtikar ( penimbunan ) pada barang apapun terutama pangan.

Maka sejatinya, sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk mewujudkan dan menegakkan khilafah sebagai bentuk kepatuhan dan ketaatan terhadap hukum-hukum Allah SWT sehingga kehidupan umat dapat selamat, sejahtera dan Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘aalamiin dapat terwujud.

Wallaahu’alaam bishshowwab

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: