30 September 2022

Penulis : Tri Ayu Lestari

Dimensi.id-Kebijakan New Normal tidak hanya akan mengaktifkan kembali sektor perekonomian di negeri ini, akan tetapi juga berencana dalam penerapan aktivitas pendidikan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI telah menyatakan, Tahun Ajaran Baru 2020/2021 akan tetap dilaksanakan pada 13 Juli 2020—dilansir dari kumparan.com. Meskipun Indonesia sedang menghadapi pandemi Covid-19, Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar dan Menengah (Plt. Dirjen PAUD Dasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hamid Muhammad, menegaskan pihaknya tidak akan memundurkan kalender pendidikan ke bulan Januari.

“Tanggal 13 Juli adalah tahun pelajaran baru, tetapi bukan berarti kegiatan belajar mengajar tatap muka. Metode belajar akan tergantung perkembangan kondisi daerah masing-masing,” jelas Hamid seperti dikutib dari lamna Kemendikbud (28/5).

Rencana kembalinya diaktifkan aktivitas pendidikan yang menyesuaikan pada kebijakan New Normal terang saja menimbulkan berbagai komentar dari masyarakat. Hingga kemudian muncul petisi ‘Tunda Masuk Sekolah Selama Pandemi’ di laman Change.org. Penggagas dari petisi ini adalah Watiek Ideo, seorang penulis buku anak yang juga ibu dari seorang pelajar kelas 6 SD. Saat diwawancara Basra pada Minggu 31 Mei 2020, Watiek menceritakan awal mula ia membuat petisi yang kini telah ditandatangani 95.720 orang.

“Jadi awalnya saya gelisah. Anak saya, kan tahun ini lulus SD, dan waktunya daftar SMP. Tapi kondisinya masih pandemi seperti sekarang ini. Saya coba bujuk anak saya untuk homeschooling saja, tapi dia enggak mau. Lalu ada wacana pemerintah sedang menyiapkan konsep new normal di tengah pandemi. Saya akhirnya tulis kegelisahan itu di Facebook saya. Ternyata banyak sekali yang merasa gelisah seperti saya. Bukan hanya orang tua, tapi pihak sekolah juga. Guru-guru ada yang ikut curhat juga, bahkan tulisan saya pun akhirnya disebarkan sampai ribuan kali,” kata Watiek.

Watiek juga memberikan gambaran, bila anak-anak masuk ke sekolah saat pandemi bisakah anak-anak tertib memakai maskernya sepanjang waktu ke sekolah, dan bisakah orang tua menjamin anak-anak akan displin mengganti masker tiap empat jam pemakaian atau setiap kotor dan basah.

Selain Watiek, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag) terus mengkaji langkah pembukaan sekolah ini. Menurutnya langkah ini mengkhwatirkan mengancam kesehatan anak karena Covid-19 belum menurun angka penyebarannya.

Fakta yang diungkapkan oleh Retno dari data kementerian Kesehatan terdapat sekitar 831 anak yang terinfeksi Covid-19 (data 23 Mei 2020). Dengan rentan usia yang tertular yakni 0-14 tahun. Lebih lanjut lagi, data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), 129 anak meninggal dunia dalam status pasien dalam pengawasan (PDP). Yang menyedihkan, 14 anak meninggal dengan status positif Covid-19. Terdapat 3400 anak yang dalam perawatan dengan berbagai penyakit. Dari jumlah itu ada 584 anak yang terkonfirmasi positif dan 14 orang meninggal dunia. Maka kita bisa menyimpulkan sendiri anak-anak tertular adalah bukti bahwa rumor Covid-19 tidak menyerang anak-anak, tidak benar.

Mari pula kita berkaca pada negara yang telah menurun angka kasus baru Covid-19, satu hari setelah mereka melakukan New Normal baik dari segi ekonomi maupun pendidikan. Teror Covid-19 tidak lantas mereda menyerang mereka. Sebagaimana yang terjadi di Finlandia, Korea Selatan dan China. Padahal bisa dipastikan bahwa mereka adalah negara yang memiliki sistem kesehatan yang baik dan matang. Namun yang terjadi justru sekolah menjadi klaster baru penularan wabah Covid-19 ini.

Seperti inilah bila permasalahan diselesaikan dengan sistem kapitalisme-sekuler yang berfokus hanya kepada keuntungan dan takut rugi. Memberikan solusi yang tergesa-gesa tanpa memikirkan dampak ke depannya. Tidak pernah mengedepankan kepentingan rakyat, namun justru mengedepannya kepentingan mereka sendiri serta elit swasta. Maka tidak heran apabila tidak ada satupun kebijakan dari pemerintah yang menguntungkan atau paling tidak menyesaikan permasalahan umat. Yang ada justru kian menekan kehidupan umat pada seluruh aspek kehidupannya.

Sebagaimana hari ini tidak terjaminnya ekonomi bagi rakyat, fasilitas kesehatan, pendidikan dan lain-lain. Hingga menjadikan permasalahan hidup masyarakat kian hari semakin berat. Sangat menyedihkan nasib rakyat di tangan rezim berlandaskan kapitalisme-sekuler ini. Inilah buah daripada kepemimpinan ruwaibidhah—yaitu ketika orang-orang bodoh mengurusi urusan orang umum. Maka wajar kita melihat kebijakan yang dikeluarkan sangat tidak konsisten alias mencla-mencle dari rezim saat ini.

Inilah yang kemudian membedakan sistem asal Barat dengan sistem Islam yang berada dari Allah SWT, Sang Pencipta lagi Maha Pengatur. Di dalam Islam, pemimpin ialah sosok yang pantas serta memenuhi tujuh syarat menjadi pemimpin. Dia haruslah muslim, laki-laki, baligh, berakal, merdeka artinya bukan dalam kendali siapapun, adil dan amanah dalam tugasnya. Serta diutamakan juga seorang mujtahid—ahli hukum, sehingga dia mampu memberikan solusi maupun kebijakan yang berlandaskan pada hukum-hukum syara’.

Dengan begitu ketika rakyatnya berada dalam kesusahan seperti menghadapi pandemi saat ini, maka pemimpin akan berada di barisan terdepan untuk memperjuangkan keselamatan rakyatnya. Pemimpin akan mengupayakan segala kemampuan yang dia miliki untuk menyelamatkan nyawa rakyatnya dari wabah. Maka tentu saja kebijakan yang dikeluarkan pun adalah kebijakan yang berfokus pada penanganan wabah, menghentikan penularannya, menemukan obat atau vaksin sesuai dengan tuntunan syariat.

Sebagaimana kebijakan lockdown yang diberlakukan di awal, rela mengalami kerugian pada sektor perekonomian sebab nyawa rakyatlah yang menjadi prioritas utamanya. Menanggung seluruh keperluan masyarakat yang terkena dampak wabah, menjamin layanan kesehatannya, membentuk tim riset untuk penemuan obat maupun vaksi yang mampu menghentikan wabah.

Hal ini hanya akan terwujud apabila islam diterapkan secara totalitas. Bukan hanya sebagai agama ruhhiyah saja, namun juga sebagai agama ideologi yang melahirkan sistem serta aturan-aturan yang paripurna dalam menyelesaikan setiap permasalahan manusia dalam kehidupan.

Wallahu ‘alam Bisshowaab.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: