5 Oktober 2022

Penulis : Ummu Aisyah

Dimensi.id-Krisis kesehatan (pandemi covid-19) dan krisis ekonomi global), telah membuat negara-negara kapitalis putus asa. Apa pasal? Karena mereka merasa telah banyak melakukan upaya namun tidak membawa perubahan baik penurunan kasus positif covid maupun pertumbuhan ekonomi. Data John Hopkins University, sudah lebih dari 200  negara yang terinfeksi, per Juni mencapai angka 6.265.496 kasus positif.

Di Indonesia sendiri, angka positif terus naik hingga per Juni terdapat 26.940+467 kasus baru, sembuh 7.637+328, dan meninggal 1642+28. Padahal, dunia sudah menghabiskan dana cukup besar untuk kondisi ini. Melansir CNN Business, Jumat (27/3/2020) total uang yang sudah dikeluarkan pemerintah dan bank sentral negara-negara tersebut mencapai US$ 7 triliun. Jika dihitung kurs saat ini Rp 16.000 maka nilainya setara Rp 112 kuadriliun.

Antara lain tercatat Amerika Serikat telah menggelontorkan dana sebesar US$ 8,3 Milliar. Data dari Learnborn China US$ 62 M atau senilai Rp 847.21 Triliun, Korsel US$ 9,8 M, Italia US$ 4,06 M, Australia US$ 6,6 M, Indonesia sendiri sudah menghabiskan Rp 158,2 Trilliun (idxchanel.com 26/3). Bisa dipastikan dana itupun akan terus bertambah karena pandemi belum bisa dipastikan kapan akan berakhir sebab vaksin pun belum ditemukan.

Terlebih lagi jika menghitung kerugian dana investor yang keluar dari pasar saham akibat pandemi. Di Indonesia, BI mencatat dana asing  yang keluar sebesar RI 167,9 Trilliun. Sebagian besar modal asing yang keluar berasal dari instrumen Surat Berharga Negara (SBN) sebanyak Rp 153,4 triliun dan dari pasar saham Rp 13,4 triliun. Kenapa besarnya dana ini tidak berimplikasi pada perbaikan ekonomi dan kesehatan?

Adakah yang salah dari semua ini? Kesalahan dan kegagalan itu sesungguhnya terletak pada sistem yang digunakan, yaitu sistem Kapitalisme. Kondisi Amerika saat pandemi, bisa mewakili kondisi negara-negara lain di dunia. Amerika telah mencatat 20 ribu lebih kematian akibat covid, menjadikan negara dengan angka kematian tertinggi di dunia. Padahal AS memiliki banyak rumah sakit dengan kategori terbaik di dunia. AS juga merupakan negara pengekspor teknologi kesehatan tercanggih ke berbagai negara.

Ditambah lagi AS mempunyai dana kesehatan sebesar 3,6 Trilliun dolar AS. Dana ini setara lima kali lipat dari anggaran militer AS. Luar biasa. Namun, ada fakta ironi yang menunjukkan bahwa AS mengalokasikan anggaran kesehatan tiap tahunnya itu kepada perusahaan asuransi dan farmasi sebesar 70% yang perhatiannya pada profit semata. Jadi yang menikmati dana tersebut lebih banyak perusahaan asuransi dan farmasi yang dikuasai oleh segelintir elit pengusaha besar.

Sebaliknya, rakyat semakin menderita karena harus membayar biaya kesehatan yang mahal. Hal ini menunjukkan satu fakta bahwa kegagalan AS dalam menghadapi wabah ini bukan muncul akibat minimnya harta dan kemampuan. Namun kegagalan itu lebih disebabkan oleh tatacara pendistribusian harta dan rusaknya pemeliharaan urusan masyarakat yang bersumber dari ideologi Kapitalisme yang mereka terapkan. Inilah potret gelap penanganan covid-19 di Amerika bagaimana dengan negara lain?

Serupa dengan AS, kita bisa melihat distribusi dana yang  tidak proporsional. Seperti Korea Selatan, dana pandeminya US$ 9,8 M, untuk menutupi defisit sebesar US$ 3,2 M, untuk suntikan fiskal US$ 8,5M. Italia menghabiskan dana US$ 4,6 M untuk meringankan pajak pebisnis. Sedang  pemerintah Australia akan menggelontorkan A$ 6,7 M dalam empat tahun ke depan untuk menopang keuangan dari UMKM.

Dengan anggaran ini, pemerintah berharap UMKM bisa membayar pekerjanya saat perekonomian melemah. Selain itu pemerintah Australia akan menjalankan Tax Write-off atau penghapusan pajak dengan nilai pendapatan A$ 700 juta untuk membantui bisnis menyediakan barang modal. Jika kita melihat rata-rata dana yang dikeluarkan negara global terfokus pada perbaikan ekonomi bukan pandemi. Tentu saja para korporasi adalah pihak yang paling diuntungkan.

Diberitakan pada laman biopharmadive.com bahwa perusahan farmasi raksasa dunia telah mengalami kenaikan keuntungan pada kuartal pertama. Yakni, Johnson & Johnson 1%, Eli Lilly $ 250 juta, Sanofi sekitar $ 280 juta, Novartis $ 400 juta, Pfizer $ 150 juta, Merck&Co dan Roche. Sungguh sistem ekonomi yang abnormal. Saat dihadapkan pada pilihan antara nyawa dan materi, justru lebih memilih menyelamatkan materi. Sehingga  New Normal saat pandemi, bukan sekedar putus asanya negara kapitalis, lebih dari itu New Normal menjadi konsekuensi logis dari penerapan sistem Kapitalisme. Ini jelas tidak manusiawi dan sangat berbeda dengan sistem hidup Islam.

ISLAM, SISTEM HIDUP MANUSIAWI

Islam merupakan diin yang sempurna. Islam memberikan perhatian dan penghargaan tertinggi pada kesehatan dan keselamatan jiwa manusia, melebihi aspek apapun termasuk ekonomi. Yang dimaksud dengan manusiawi ialah sesuai dengan fitrah manusia. Artinya, setiap ajaran Islam yang apabila dikerjakan dengan benar, tidak akan mendatangkan kesengsaraan atau kecelakaan bagi orang yang mengerjakannya. Sebaliknya, justru mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan. Misalnya saja perkara puasa yang nampaknya memberatkan, ternyata agama Islam memberikan keringanan boleh dihutang dan boleh dibayar pada waktu yang lain, dengan ketentuan-ketentuan Yang telah ditetapkan oleh Syari’at.

Begitu juga dengan wabah yang mengancam jiwa seperti saat ini, Islam memerintahkan untuk tidak berlaku dhoror (bahaya) dan menimpakan dhoror (bahaya) kepada yang lain. Islam mengharuskn melakukan isolasi atau karantina. Islam menjaga jiwa setiap makhluk terutama manusia. Hal ini tergambar dengan jelas dalam nash Al-Quran maupun hadist. Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya,” (TQS Al Maidah: 3). Demikian pula sabda Rasulullah SAW yang artinya, “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR Nasa’i).

Lebih dari itu, Islam sebagai sistem hidup paripurna -yang hanya bisa tegak dengan keberadaan institusi kuat (Khilafah) serta pemimpin amanah (Kholifah)-, akan mengutamakan kepentingan (kemashlahatan) rakyat. Sebab, Islam telah menetapkan seorang pemimpin sebagai peri’ayah (pengurus) dan Junnah (perisai) bagi umat serta akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Wallahu’a’lam Bisshowab.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: