30 September 2022

Penulis : Endang Sipayung

Dimensi.id-Pemerintah membutuhkan banyak dana demi menanggulangi dampak Pandemi Corona alias COVID-19 dan melindungi perekonomian nasional. Untuk memenuhi dana tersebut, salah satunya pemerintah melebarkan defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tahun 2020 ke level 6,27% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Defisit anggaran yang melebar ke 6,27% itu setara Rp 1.028,5 triliun terhadap PDB. Untuk memenuhi itu, pemerintah rencananya akan menerbitkan utang baru sekitar Rp 990,1 triliun. Berdasarkan draf kajian Kementerian Keuangan mengenai program pemulihan ekonomi nasional yang diperoleh detikcom, pemerintah hingga saat ini sudah menerbitkan surat utang negara (SUN) senilai Rp 420,8 triliun hingga 20 Mei 2020.

Seperti yg kita ketahui bersama sebelum terjadi nya pandemi pun negara ini sudah memiliki banyak hutang kepada pihak swasta dan asing, (Utang luar negeri).

JAKARTA, KOMPAS.com – Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2020 dengan posisi 407,5 miliar dollar AS. Dengan begitu, utang RI tembus Rp 6.376 triliun (kurs Rp 15.600).

Utang sebesar Rp 6.376 triliun itu terdiri dari ULN sektor publik (pemerintah dan bank sentral) sebesar 203,3 miliar dollar AS dan ULN sektor swasta (termasuk BUMN) sebesar 204,2 miliar dolar AS.

Hal tersebut tentu saja membuat kita sedikit miris dan khawatir, mengingat saat ini negara sedang gali lubang tutup lubang dalam melaksanakan APBN tahun 2020.

Jakarta – Pemerintah masih gali lubang tutup lubang dalam melaksanakan APBN tahun anggaran 2020. Hal ini terlihat dari anggaran keseimbangan primer yang mencapai Rp 18,4 triliun hingga akhir April tahun ini.

Angka keseimbangan primer yang mencapai Rp 18,4 triliun setara 3,5% dari target Rp 517,8 triliun.

“Keseimbangan primer Rp 18,4 triliun,” kata Wakil Menteri Keuangan Suahasil dalam paparannya via video conference, Jakarta, Rabu (20/5/2020).

Keseimbangan primer dalam APBN merupakan penerimaan dikurangi belanja negara, namun tidak memasukkan komponen pembayaran bunga utang. Artinya, bila keseimbangan primer bisa surplus, pemerintah tidak memerlukan utang baru untuk membayar pokok cicilan utang yang lama.

Sebaliknya, jika keseimbangan primer negatif maka pemerintah perlu menerbitkan utang baru untuk membayar pokok cicilan utang yang lama alias gali lubang tutup lubang.

Adanya angka keseimbangan primer dikarenakan realisasi pendapatan negara yang seret, hingga akhir April 2020 tercatat Rp 549,5 triliun. Realisasi ini baru 31,2% dari target dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 54 Tahun 2020 sebesar Rp 1.760,9 triliun

.

Bukanlah nominal yg kecil, bahwa indonesia saat ini memiliki hutang sebesar Enam ribu trilliun lebih kepada pihak asing.

dan angka tersebut diatas tentu saja akan terus bertambah mengingat saat ini negara kita sedang menganut sistem ekonomi kapitalis sekuler,

Yang mana  dalam hal pinjaman atau pemberian hutang  menggunakan sistem bunga (Riba).

yang sudah jelas-jelas diharamkan di dalam islam. Dan asas tolong menolongnya berdasarkan asas manfaat saja.

yang menjadi pertanyaan, Mengapa negara yang memiliki sumber daya alam yang sangat banyak ini justru malah memiliki hutang yg begitu banyak kepada pihak luar (asing).

Dan mengapa justru APBN mengalami defisit yg kian melebar terutama disaat pandemi seperti sekarang ini??

Hal ini tentu saja dinilai wajar terjadi mengingat  sumber pemasukan dana negara lebih mengandalkan kepada pajak sehingga pada saat pandemi terjadi banyak pula terjadi mogok pembayaran pajak yang disebabkan perekonomian yang tidak stabil, sehingga negara harus kembali berhutang untuk menutupi ketidak stabilan ekonomi didalam negeri.

Sementara untuk menutupi utang-utang tersebut negara akan menaikkan pajak di segala sektor, yang mana hal ini sudah sangat jelas akan berdampak buruk bagi rakyat.

maka sudah jelas bahwa sistem ekonomi kapitalis sekuler ini sudah sangat menyusahkan negara maupun rakyatnya. mereka terkungkung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan para capital atau pemilik modal.

Selain itu managemen negara yang tidak teratur dan terkesan amatiran juga merupakan salah satu faktor dimana  penyaluran APBN yang berantakan dan tidak tepat sasaran.

Hal ini tentu akan berbeda jika negara dapat mengelola sumber daya alam dengan baik dan benar, sehingga negara memiliki sumber pemasukan yang lebih stabil,

seperti diketahui indonesia memiliki banyak sekali pulau yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, maka tidak heran jika Indonesia termasuk negara kepulauan terbesar di dunia. Tidak heran jika jenis-jenis sumber daya alam yang dimiliki oleh Indonesia sangat berlimpah, baik yang berasal dari alam berupa hasil hutan, pertanian, perkebunan hingga perairan, maupun yang berasal dari dasar bumi yang berupa hasil pertambangan.

 Sudah pasti ketersediaan sumber daya alam tersebut bisa menjadikan bangsa Indonesia sebagai negara yang kaya jika saja negara mengelola sumber daya alam nya dengan baik dan benar serta  mempergunakan hasil nya untuk kemaslahatan  dan kemakmuran hidup rakyat.

Dan hendaknya negara mengelola sumber daya alam tersebut secara mandiri tanpa harus melibatkan pihak asing, apalagi sampai memberikan izin pengelolaan sumber daya alam indonesia dengan bebas ke tangan pemodal atau asing, dengan tujuan memperkaya diri sendiri.

maka sudah semestinyalah negara ini kembali kepada hukum-hukum islam yang datang nya dari Allah SWT. Bukan malah mengikuti hukum buatan manusia, yang sudah jelas hanya mendatangkan mudhorot atau kerugian saja.

Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam islam rakyat berserikat dalam 3 hal yaitu air, api dan padang rumput.

Yg mana ketiga hal tersebut menjadi kepemilikan umum, dan tidak boleh dikuasai oleh pihak tertentu untuk kepentingan pribadi.

Dari Ibnu Abbas RA berkata sesungguhnya Nabi saw bersabda; orang muslim berserikat dalam tiga hal yaitu; air, rumput (pohon), api (bahan bakar), dan harganya haram. Abu Said berkata: maksudnya: air yang mengalir (HR Ibnu Majah)

.

Dan untuk pengelolaan sumber daya alam Islam hadir tentu tidak hanya sebagai agama ritual dan moral belaka. Islam juga merupakan sistem kehidupan yang mampu memecahkan seluruh problem kehidupan, termasuk dalam pengelolaan kekayaan alam. Allah SWT berfirman:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

Kami telah menurunkan kepada kamu (Muhammad) al-Quran sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (TQS an-Nahl [16]: 89).

Menurut aturan Islam, kekayaan alam adalah bagian dari kepemilikan umum. Kepemilikan umum ini wajib dikelola oleh negara. Hasilnya diserahkan untuk kesejahteraan rakyat secara umum. Sebaliknya, haram hukumnya menyerahkan pengelolaan kepemilikan umum kepada individu, swasta apalagi asing.

Begitupun ketika menghadapi situasi sulit seperti sekarang, dimana negara sedang menghadapi pendemi, jika sumber daya alam dikelola dengan benar dan sesuai dengan syariat islam maka insya Allah negara bisa menyelesaikan masalah ekonomi dinegara ini dengan mandiri tanpa harus berhutang ke pihak asing.

Apalagi harus berhutang dengan cara yang haram dan berbunga (Riba).  Karena sudah jelas di dalam islam bahwa Allah SWT melaknat Riba. Laknat itu berarti jauh dari rahmat Allah.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1598).

Seperti yg Allah firman kan di dalam Al-Quran  Surah An Nisa’, Ayat : 161

Artinya : Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.

Maka ketika negara ini di pimpin oleh orang-orang yang sudah terang-terangan berani menentang Allah sudah pasti karunia dan rahmat Allah akan sangat sulit diraih.

Hanya ada satu solusi untuk menghadapi segala macam problematika yg sedang dihadapi oleh negara ini, yaitu kembali berhukum kepada hukum islam.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: