5 Oktober 2022

Penulis : Ade Cassidy

Dimensi.id-Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dr Hermawan Saputra mengkritik persiapan pemerintah menjalankan kehidupan new normal. Menurut dia belum saatnya, karena temuan kasus baru terus meningkat dari hari ke hari.

“Saya kira baru tepat membicarakan new normal ini sekitar minggu ketiga/empat Juni nanti maupun awal Juli. Nah, sekarang ini terlalu gegabah kalau kita bahas dan memutuskan segera new normal itu,” ujar Hermawan saat dihubungi merdeka.com, Senin (25/5).

Terlalu dini, maksud Hermawan adalah wacana new normal ini membuat persepsi masyarakat seolah-olah telah melewati puncak pandemi Covid-19, namun kenyataan belum dan perlu persiapan-persiapan dalam new normal tersebut.

Kebijakan yang sangat dipaksakan tanpa mempertimbangkan resiko yang akan terjadi. Pemerintah terkesan terburu-buru mengambil kebijakan tersebut. Ada jutaan nyawa rakyat yang sedang dipertaruhkan.

Bahkan Pemerintah sudah merilis beberapa skenario new normal life untuk pekerja (PNS, BUMN dan Perusahaan). Semua upaya menormalkan kondisi ekonomi tidak diiringi dengan peningkatan penanganan wabah dari aspek kesehatan. 

Namun pemerintah belum memiliki peta jalan, new normal life hanya mengikuti tren global tanpa menyiapkan perangkat memadai agar tidak menjadi masalah baru. Yakni bertujuan membangkitkan ekonomi namun membahayakan manusia. Alih-alih ekonomi bangkit justru wabah gelombang ke dua mengintai di depan mata.

Ya, inilah ciri dari sistem pemerintahan kapitalis, menyelamatkan ekonomi lebih utama dibanding perlindungan kepada jutaan nyawa rakyat. Bahkan kebijakan pemerintah untuk segera melakukan new Normal Life adalah karena desakan para pengusaha yang ingin menyelamatkan ekonomi mereka. Dalam sistem pemerintahan kapitalis suara para pemilik modal yang menjadi pertimbangan.

Dan bagi masyarakat apa yang ditetapkan pemerintah saat ini masih terlalu dini dan sangat beresiko. Bahkan sebagian masyarakat banyak yang mengatakan bahwa kebijakan new Normal life hanya menggiring kepada herd immunity. Dilansir dari Aljazeera (20/3/2020), herd immunity mengacu pada situasi di mana cukup banyak orang dalam suatu populasi yang memiliki kekebalan terhadap infeksi sehingga dapat secara efektif menghentikan penyebaran penyakit tersebut.

Atau dengan kata lain, virus corona yang ada sekarang harus ditaklukan oleh masing-masing individu masyarakat. Dengan caranya sendiri, pemerintah hanya memberikan protokoler cara hidup sehat saja. Selanjutnya rakyat akan berjuang sendiri. Halbini sangatlah tidak  bijaksana, negara ingin me epaskan tanggung jawab terhadap urusan rakyat bukti gagalnya sistem demokrasi kapitalismenya yang hanya mementingkan ekonomi pengusaha walaupun harus mengorbankan kepentingan dan keselamatan rakyat.

Lantas bagaimana sikap kita seharusnya menghadapi kebijakan pemerintah yang latah ini? Seharusnya kita sebagai muslim  bisa mengambil sikap sendiri dengan tetap menjalankan apa yang dinamakan syariat yang telah ditetapkan Allah SWT kepada hambanya . Hari ini kitalah yang harus lebih menjaga diri karena pemerintah sudah tidak mau lagi repot mengurusi urusan rakyatnya. Mereka hanya mendengarkan desakan para kapitalis yang mulai resah karena kehilangan keuntungan selama masa pandemi ini.

Badan kesehatan dunia WHO sendiri sebagai penggagas new normal life telah memberikan standar bagi negara yang akan menerapkan new normal, di antaranya bahwa penularan Covid-19 di wilayahnya telah bisa dikendalikan, sistem kesehatan yang ada dari rumah sakit dan peralatan medis memadai, serta penerapan protokol kesehatan di lingkungan kerja atau pusat keramaian seperti jaga jarak, fasilitas cuci tangan dan masker sudah dijalankan. Jika standar WHO belum terpenuhi, maka memberlakukan new normal life sama saja dengan membuka gelombang wabah ke dua. Dan sama saja artinya kita sedang menggali kubur diri sendiri.

Tapi sepertinya ketakutan negara-negara kapitalis ini lebih takut jika mereka akan mengalami kebangkrutan ekonomi yang mereka anggap lebih membayakan dan mengancam mereka daripada kehilangan nyawa rakyat. Sistem ini sangat tidak layak kita pertahankan.  Rakyat bukanlah pertimbangan utama dalam setiap kebijakan yang diambil oleh negara penganut sistem yang rusak ini. Dalam sistem ini meniscayakan Kebijakan penguasa diintervensi oleh pengusaha dan asing.

Dan ini sangatlah berbeda dengan sistem islam, dimana kekuasa mutlak berada ditangan seorang pemimpin negara yang disebut sebagai Khalifah. Dan segala kebijakan yang diambil tidak dapat diintervensi oleh pihak-piha lain. Dan semua kebijakan yang diambil oleh seorang Khalifah semua berpijak pada kepentingan rakyatnya dan dipertanggung jawabkan dunia dan akhirat kepada Allah SWT sebagai penguasa mutlak seluruh alam ini.

Seorang Khalifah berperan sebagai raa’in dan sekaligus sebagai junnah bagi rakyatnya.

Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari)

Makna raa‘in (penggembala/pemimpin) adalah “penjaga” dan “yang diberi amanah” atas bawahannya. Rasulullah saw memerintahkan mereka untuk memberi nasehat kepada setiap orang yang dipimpinnya dan memberi peringatan untuk tidak berkhianat. Imam Suyuthi mengatakan lafaz raa‘in (pemimpin) adalah setiap orang yang mengurusi kepemimpinannya. Lebih lanjut ia mengatakan, “Setiap kamu adalah pemimpin” Artinya, penjaga yang terpercaya dengan kebaikan tugas dan apa saja yang di bawah pengawasanny

Sedangkan makna junnah Nabi Muhammad Saw bersabdaِ

”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Makna ungkapan kalimat “al-imamu junnah” adalah perumpamaan sebagai bentuk pujian terhadap imam yang memiliki tugas mulia untuk melindungi orang-orang yang ada di bawah kekuasaannya sebagaimana dijelaskan oleh al-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, “(Imam itu perisai) yakni seperti as-sitr (pelindung), karena Imam (Khalifah) menghalangi/mencegah musuh dari mencelakai kaum Muslimin, dan mencegah antar manusia satu dengan yang lain untuk saling mencelakai, memelihara kemurnian ajaran Islam, dan manusia berlindung di belakangnya dan mereka tunduk di bawah kekuasaannya.”

Dalam sistem Islam. Khalifah tidak menjalankan hukum yang dibuat oleh umat, karena pemilik kedaulatan dalam sistem Islam adalah Allah. Khalifah menjalankan hukum Allah atas rakyat, dan ia bertanggungjawab langsung kepada Allah atas kepemimpinannya. Dengan demikian bila Khalifah terbukti tidak menjalankan hukum Allah, ia layak diberhentikan kapan pun, tanpa menunggu periode tertentu. Dan sebaliknya, selama ia menjalankan perintah Allah maka tak ada alasan untuk memberhentikannya. Sehingga dalam sistem ini negara akan berdaulat penuh, setiap kebijakan-kebijakan yang diambil pertimbangannya salah rakyat dan Syara’. Tidak akan ada intervensi dari pihak asing atau pihak manapun .

Islam telah memberikan solusi bagi setiap persoalan hidup yang terjadi pada manusia. Tinggal tergantung manusianya apakah mau mengambil solusi yang terbaik yang telah dijanjikan Allah SWT ini atau tidak ?

Sudah saatnya kita hidup dengan sistem yang lebih baik. Sistem Khilafah ala minhajin nubuwwah, sistem yang mengikuti metode kenabian, adalah suatu keniscayaan yang sudah Allah janjikan kepada kaum Muslimin. Sistem ini akan kembali dengan kehendak Allah, tanpa melihat apakah kita ikut atau tidak memperjuangkannya. Namun suatu kerugian besar bila kita tidak ikut serta memperjuangkannya, karena kita akan kehilangan kesempatan mendapatkan pahala berjuang di jalan Allah dan terancam mati jahiliyyah sebagaimana disabdakan Rasulullah Saw:

“Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan pada pemimpin, maka ia pasti bertemu Allah pada hari kiamat dengan tanpa argumen yang membelanya. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya, maka ia mati dengan cara mati jahiliyah.” (HR. Muslim no. 1851)[]

Wallahu bishohwab.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: