3 Oktober 2022

Penulis : Dwi Suryati Ningsih, S.H (Guru)

Dimensi.id-Kurva kasus Covid-19 saat ini masih belum melandai meski sekenario new normal telah menjadi trend global. Mall, pasar dan tempat kerja sudah mulai ramai didatangi. Seolah-olah Covid-19 sudah musnah, namun justru sedang ganas-ganasnya. Sayangnya, anak-anak yang juga menjadi sasaran bagi makhluk kecil Covid-19 ini pun juga tak sedikit jumlah kasusnya. Di kondisi seperti ini, pemerintah masih bisa-bisanya merencanakan pembukaan sekolah di tahun ajaran baru.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI telah menyatakan, Tahun Ajaran Baru 2020/2021 akan tetap dilaksanakan 13 Juli 2020. “tanggal 13 Juli adalah tahun pelajaran baru, tetapi bukan berarti kegiatan belajar mengajar tatap muka. Metode belajar akan tergantung perkembangan kondisi daerah masing-masing,” jelas Humaid Muhammad (Plt. Dirjen PAUD Dasar dan Menengah). (kumparan, 01/062020)

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti meminta Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementrian Agama terus mengkaji langkah pembukaan sekolah pada 13 Juli 2020 mendatang. Hal tersebut dikhawatirkan mengancam kesehatan anak lantaran penyebaran virus corona belum menurun, bahkan kasus pada anak di Indonesia cukup besar dibandingkan negara lain.

ia mengungkap dari data Kementrian Kesehatan terdapat sekitar 831 anak yang terinfeksi Covid-19 (data 23 Mei 2020) dengan usia berkisar 0-14 tahun. Data Ikatan Dokter Indonesia (IDAI) menyebutkan 129 anak meninggal dunia dengan status PDP. Terdapat 584 anak yang terkonfirmasi positif dan 14 meninggal dunia. Dari data tersebut KPAI meminta Kemendikbud dan Kemenag belajar dari negara lain dalam langkah pembukaan sekolah. (Okezone, 27/5/2020)

Bahkan, seorang penulis buku anak yang juga ibu dari seorang pelajar kelas 6 SD, Watiek Ideo menggagas petisi “Tunda Masuk Sekolah Selama Pandemi” di laman change.org. hal itu berawal dari kegelisahannya atas wacana pemerintah yang menyiapkan new normal di tengah pandemi. Akhirnya ia menulis di Facebook dan mendapati bukan hanya orang tua yang gelisah atas hal tersebut, namun juga para guru.

Ia memberikan gambaran, bila anak-anak masuk sekolah saat pandemi bisakah anak-anak tertib memakai maskernya selama waktu di sekolah, dan bisakah orangtua menjamin anak-anak akan disiplin mengganti masker tiap empat jam pemakaian atau setiap kotor dan basah. Hal itu membuat ia dan para orang tua di luar sana ragu untuk memasukkan anak mereka ke sekolah. (kumparan, 1/5/2020)

Adanya kegelisahan bagi para orang tua dan para guru tersebut menunjukkan tidak cakapnya pemerintah dalam menangani wabah ini. Selain itu juga tidak adanyanya sistem belajar yang mampu disipakan selama masa pandemi ini. ditambah lagi, pemerintah tidak ada jaminan keamanan bagi anak-anak untuk tidak tertular covid-19 saat di sekolah. Maka tentu tidak menutup kemungkinan nantinya sekolah akan menjadi klaster baru bagi pengembangan Covid-19 ini.

Carut marutnya kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah dalam menangani adanya covid-19 dalam hal pendidikan saat ini menjadi koreksi total bagi sistem kapitalis yang digunakan. Bagaimana tidak, nyawa seseorang dianggap enteng dalam membuat kebijakan. Sistem kapitalis yang dibangga-banggakan terlihat bobrok dan menunjukkan kerapuhannya dalam mengurus urusan umat.

Islam, sebagai agama yang lengkap dan paripurna sangat menghargai nyawa seseorang. Hilangnya dunia lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak. Khalifah sebagai pemimpin bertanggungjawab penuh untuk melindungi rakyatnya dalam keadaan apapun. Khalifah juga harus memberikan jaminan keamanan bagi rakyatnya, terlebih di masa pandemi ini. Jika membuka sekolah pada saat kurva covid-19 ini masih tinggi dan dinilai tidak aman, maka sudah seharusnya pemerintah segera mengurungkan rencana tersebut.

Hal tersebut jelas bahwa di dalam hukum Islam urusan umat adalah urusan utama bagi penguasa atau khalifah. Ada lima tujuan pokok hukum Islam yang harus dijaga keberlangsungannya, yaitu memelihara agama, memelihara jiwa, baik diri sendiri maupun orang lain, memelihara keturunan, memelihara harta dan memelihara akal. Aturan Islam yang bersumber dari sang pencipta, Allah SWT tentu memberikan solusi dan maslahat bagi manusia.

Hal tersebut dapat dilihat dari sejarah keemasan Islam dimana tegaknya seluruh hukum Allah SWT selama 13 abad lamanya dan mampu menguasai dua per tiga belahan dunia. Namun setelah runtuhnya hingga saat ini umat muslim seperti anak ayam yang kehilangan induknya, bingung dan menggunakan aturan buatan manusia, bukan dari sang pencipta. Hasilnya, seperti yang terjadi saat ini, kekacauan dan kedzoliman dimana-mana dan nyawa seperti tak berharga. Maka dengan ini, sudah selayaknya kita sebagai umat muslim memperjuangkan kembali tegaknya sistem Islam secara menyeluruh di dunia ini.

Wallahua’lam…

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: