5 Oktober 2022

Penulis : Indi Lestari

Dunia kembali di buat heboh, kali ini datang dari negeri adidaya yang begitu gencar menyerukan akan Hak Asasi Manusia (HAM). NegerI Penggiat Demokrasi dan HAM, tetapi naas dengan insiden meninggalnya laki-laki berusia 46 tahun dengan berkulit hitam (George Flyod), ternyata rasisme, diskriminasi, maupun penindasan justru semakin tumbuh subur di negeri itu yang dunia ketahui bahwa perseteruan antar si kulit putih dan hitam bukan hanya kali ini saja terjadi bahkan ini sudah terjadi sejak dulu. Dimana diskriminatif, rasisme, dan penindasan begitu masif terjadi, sehingga selalu menjadi topik hangat untuk dibincangkan.

Kematian George Floyd telah memicu gelombang protes di Amerika Serikat, melepaskan kemarahan lama yang membara atas bias rasial dalam sistem peradilan pidana AS, yang menimbulkan gejolak yang luar biasa, mulai dari titik episentrum Minnesota, kerusuhan meluas hingga lebih dari 40 kota, polisi dan tentara dikerahkan untuk mengatasi melonjaknya para demonstrasi, seruan antirasisme pun mengudara.

Lantas kenapa semua ini bisa terjadi?

Sejak dulu, orang kulit hitam hanya dianggap budak dan hak-hak mereka dibatasi oleh orang kulit putih yang merasa yakin, kedudukannya lebih tinggi dari kulit hitam, apakah ini hanya dilakukan oleh invidivu tertentu saja, tentu saja tidak. Bukankah tidak akan setragis ini jika adanya sistem peradilan yang jelas, tapi ini jelas tersistematis. Kesenjangan ekonomi dan pendidikan yang memarginalkan penduduk kulit hitam selama beberapa dekade juga jadi pematik api.

Negara yang menjadikan liberalisme sebagai penggerak kehidupan dan sebagai pengambil akan kebijakan-kebijkan negara telah melahirkan ide-ide yang berbahaya seperti rasisme, diskriminatif, xenofobia dan toleransi yang selalu digandang-gandangkan. Sistem yang lahir dari pemikiran manusia yang justru jauh dari memanusiakan manusia. Walaupun Negara ini pernah di pimpin pertama kalinya oleh pemimpin yang berkulit hitam tapi konflik rasial tidak bisa dibendung apalagi dihilangkan.

Dunia tidak baik-baik saja, saatnya dunia memiliki sistem baru yang mampu mengintegrasikan semua warga negara dari berbagai latarbelakang dan suku bangsa yang menjadi satu kesatuan dan menghasilkan kebijakan-kebijakan yang tanpa bertentangan dengan fitrah manusia, mereka semua bisa hidup dalam kedamaian.

Sejarah mencatat ketika Islam memimpin dunia, Islam berhasil menyatukan berbagai bangsa, ras, agama, warna kulit  dan bahasa yang berbeda. Bagaimana Bilal bin Rabah  yang berkulit hitam, menjadi sahabat kepercayaan Nabi yang mengumandangkan adzan pertama kali di dunia, bahkan  Salman al-Farisi, yang asli Persia  menjadi inspirator strategi kemenangan pada Perang Ahzab

Islam telah menguasai 2/3 dunia, Asia, Afrika, sebagian Eropa, berhasil disatukan dengan ideologi Islam, dengan bahasa persatuan yaitu bahasa Arab. Islam berhasil memimpin dunia selama lebih dari 13 abad dengan berbagai bangsa, ras, warna kulit, agama dan bahasa. Itulah keberhasilan Islam yang tidak bisa dicapai oleh ideologi apapun di dunia hingga saat ini.

Sistem Islamlah dengan tegaknya Institusi Politik Khilafah Islamiyah yang mampu mewujudkannya, karena Islam hanya memandang kemuliaan manusia berdasarkan ketakwaannya bukan suku, ras, bangsa dan negara.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 13)

Nabi Muhammad Saw pernah bersabda kepada Abu Dzarr ra : “Lihatlah, engkau tidak lebih baik dari orang yang berkulit merah dan berkulit hitam kecuali engkau mengungguli mereka dengan takwa.”

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: