5 Oktober 2022

Penulis : Rina Tresna Sari,S.Pd.I (Praktisi Pendidikan dan Menber AMK)

Dimensi.id-Badai pandemi belum juga usai, semakin banyak korban berjatuhan, salah satunya tenaga medis yang berjuang digarda terdepan. Mereka berguguran saat menangani wabah.  Alih-alih mendapat perhatian memadai di tengah wabah virus corona atau Covid-19, ratusan tenaga medis dipecat.

Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, yakni sebanyak 109 orang karena melakukan mogok kerja. Sebagaimana dilansir KOMPAS.com,22/05/2020- Aksi mogok kerja yang dilakukan para tenaga medis di RSUD Ogan Ilir, Sumatera Selatan, berakhir pada pemecatan. Pasalnya, bupati dan manajemen RSUD Ogan Ilir berdalih tuntutan yang disampaikan para tenaga medis yang melakukan aksi protes tersebut dianggap mengada-ada.

Sungguh sangat disayangkan, apabila negeri ini kehilangan resesi para pejuang garda terdepan tenaga medis, maka akan sangat berimbas pada terpuruknya  nasib negeri dan kondisi rakyat terdampak. Jangankan memberikan perlindungan utuh dengan kebijakan terintegrasi agar pasien covid tidak terus melonjak, bahkan proteksi finansial juga tidak diberikan.

Terbukti rezim sendiri yang malah melanggar kebijakan yang diberlakukannya, mulai dari pemerintah gelar konser ditengah pandemi, mal-mal masih terbuka lebar hanya sebagian yang di tutup, hingga pelonggaran PSBB yang membuat jumlah penderita semakin meningkat.

Sehingga dapat dikatakan sangat minimnya perlindungan utuh dengan kebijakan terintegrasi yang dapat meredam jumlah pasien yang semakin signifikan. Disisi lain, dengan melonjaknya jumlah pasien, pemerintah kurang adanya perhatian proteksi yang di berikan kepada tenaga medis.

Minimnya APD dan fasilitas kesehatan menjadi pemicu mudahnya terserang wabah Covid-19 tak terkecuali bagi para tenaga medis yang terkungkung dalam lingkup lingkaran wabah. Akan tetapi alih-alih masalah ini terselesaikan dengan baik, tak sedikit tenaga medis yang malah tidak mendapat tunjangan, THR perawat honorer dipotong bahkan ada yang dirumahkan karena RS daerah kesulitan dana, dilansir tempo.co,26/05/2020-  Di saat merayakan Idul Fitri sejumlah pekerja lepas, termasuk tenaga kesehatan, ada yang belum mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR) bahkan mengalami pemotongan gaji. Sejumlah perawat yang bekerja dengan status Tenaga Harian Lepas (THL), misalnya harus merayakan lebaran tahun ini tanpa mendapat THR.

Salah satunya diakui Mohamad Fadly Mahardika, akrab disapa Fadly, yang sejak tahun 2017 berstatus sebagai THL perawat di sebuah puskesmas di Tangerang, Banten. Kepada ABC Indonesia, Fadly, mengaku mendapat gaji sebesar Rp3,9 juta per bulannya dan tidak pernah menerima Tunjangan Hari Raya (THR) dari Pemerintah Provinsi.Anitha yang merupakan seorang perawat mengaku tak mengetahui apa alasan belum cairnya insentif.

Padahal  tenaga medislah yang menjadi garda terdepan demi jiwa yang lain dan mengorbankan dirinya serta hubungan dengan keluarga yang semakin terbatasi. Waktu, tenaga dan daya ia curahkan untuk menangani pasien terdampak wabah pandemi. Parahnya, di lain sisi seorang perawat Jadi Garda Terdepan Perangi Covid-19, Gaji dan THR Perawat hononer malah di potong hingga insentif tunjangan tak diberikan atau hanya ucapan terimakasih.

Tetapi faktanya, Rezim abai dan tak segan para tenaga kerja medis malah di pulangkan dan hak mereka tidak segera di tuntaskan. Tak ayal jika pada akhirnya memang banyak tenaga medis yang mengeluh, kecewa bahkan marah dengan tindak lamban rezim yang malah membuat boomerang dalam segala aspek sehingga terjadi pembangkangan rakyat untuk tidak patuh terhadap aturan penguasa yang disebabkan imbas penguasa sendiri yang acuh terhadap problematika rakyatnya. Kondisi ini sangatlah wajar terjadi di negara yang mengadopsi sistem kapitalis sekuler. Dimana dalam menjalankan roda pemerintahan yang menjadi acuan hanya kemanfaatan, dan materi semata, sehingga wajar bila  mereka abai terhadap rakyat tetapi sangat prioritas terhadap para pemilik modal.

Berbeda dengan islam, jangankan gugurnya para tenaga medis, nyawa seorang muslim saja begitu berharga di mata Islam. Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Berkaca pada sistem Islam di era keemasan. Betapa, Islam menjadi garda terdepan dalam urusan kesehatan. Sejarah mencatat, bahwa kesehatan termasuk ke dalam kebutuhan primer yang wajib disediakan dan ditanggung sepenuhnya oleh negara. Bahkan rakyat memperolehnya dengan gratis. Karena mindset pemimpin dalam islam senantiasa di sandarkan pada hukum syara’ yakni pemimpin adalah pelayan rakyat.

Tengok bagaimana kebijakan kesehatan yang dilakukan oleh Muhammad Al-Fatih sang penakluk konstantinopel. Beliau dalam memberikan pelayanan kesehatan sungguh luar biasa, di antaranya merekrut juru masak terbaik rumah sakit untuk memberikan makanan dan asupan gizi terbaik untuk para pasien yang sakit, gizi dan jaminan di rumah sakit sangat di perhatikan dalam sistem islam, dokter datang minimal 2 kali sehari untuk visit pasien.

Keberhasilan peradaban Islam ini disebabkan paradigma yang benar tentang kesehatan di tengah-tengah pemikiran dan perasaan yang di sandarkan pada aturan syara’. Nabi SAW bersabda “bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab untuk orang-orang yang dipimpin”.

Jadi penguasa adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas rakyatnya. Betapa luar biasanya perhatian Islam terhadap kesehatan di masa itu. Apalagi perhatian terhadap dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Dengan perhatian yang luar biasa pada pasien, maka Islam dapat dipastikan memberikan fasilitas terbaik untuk tenaga medisnya. Berupa tunjangan dan akses pendidikan mudah dan gratis serta sarana prasarana.

Sehingga mindset yang muncul dalam diri tenaga medis adalah mindset melayani tak semata-mata hitung-hitungan materi. Dan sehingga yang menjadi tumpuan harapan adalah semata keridhoan Allah dan amanah dalam menjalankan tugasnya.

Wallahu a’lam bishshowab.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: