5 Oktober 2022

Penulis : Zayyin Afifah

Dimensi.id-Lonjakan kasus penambahan pasien yang terpapar Virus Covid-19 di Indonesia terus meningkat tajam. Dilansir dari idntimes.com. penambahan pasien COVID-19 di Indonesia menyentuh angka 900. Total hingga Sabtu (23/5), COVID-19 di Tanah Air mencapai 21.745 kasus. Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto, mengatakan, “terhitung sejak 22 Mei 2020 pukul 12.00 WIB hingga 23 Mei 2020 pukul 12.00 WIB, kasus positif mengalami kenaikan sebanyak 949 orang”. Kenaikan kasus harian kali ini merupakan kenaikan kasus kedua terbanyak setelah rekor sebelumnya mencapai 973 kasus, pada Kamis (21/5).

Dilansir dari megapolitan.okezone.com Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra juga memperkirakan lonjakan pasien positif Covid-19 pasca hari raya Idul Fitri lebaran 1441 H. Diperkirakan satu harinya akan ada 1.000 kasus baru pasien positif. Menurut Hermawan penambahan kasus secara meledak lantaran masyarakat yang sudah mulai turun ke luar rumah menjelang hari raya Idul Fitri meskipun pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sudah diterapkan. Dia pun berharap agar PSBB yang sudah diterapkan ini dapat berjalan secara maksimal agar adanya pelambatan kasus penambahan pasien Covid-19. Harusnya efektif yang minimal dengan adanya PSBB ada perlambatan kasus, karena dengan bagaimanapun dengan dilonggarkan malah bisa meledak. Contoh kasusnya seperti bandara kemarin sudah ada antrean luar biasa ya begitu,” tuturnya.

Lantas setelah melihat kurva penyebaran diatas apa yang  dilakukan oleh pemerintah?

Dilansir dari Tempo.co awal juni ini indonesia akan memberlakukan kebijakan New Normal. Kebijakan pemulihan ekonomi dengan pemberlakuan protokol kesehatan di seluruh tempat yang di anggap memiliki potensi penyebaran Covid-19, dengan kata lain kebijakan ini nantinya akan membuat kehidupan kita sama seperti sebelum terjadi wabah, tetapi dengan protokol kesehatan yang tetap harus terjaga, seperti akan di bukanya kembali tempat-tempat industri dan jasa kemudian tempat-tempat perbelanjaan dan sekolah-sekolah, dengan menggunakan protokol kesehatan yaitu penggunaan masker dan sosial distancing dan hal lain yang di anggap perlu.

Pemberlakuan New Normal ini akan menjadi peluang terbesar penyebaran Covid-19 di indonesia, bukan hanya kalangan orang dewasa dan manula nantinya yang akan menjadi pasiennya tetapi anak-anak juga akan menjadi sasaran penularan Covid-19 , pola hidup orang indonesia yang suka berkumpul bersama keluarga menjadi peluang terbesar dalam penyebaran Covid 19. Bukankah seharusnya pemerintah memperhatikan kesehatan masyarakat? Dan kesejahteraan masyarakat?.

Dengan diberlakukannya New Normal ini, pemerintah mengklaim akan dapat memulihkan Ekonomi Indonesia yang mengalami penurunan akibat dampak dari Covid-19. Ekonomi siapa yang akan di pulihkan? Pengusaha? Penguasa atau rakyat?

Hal ini menjadi pertanyaan terbesar di benak saya? Ekonomi siapa yang akan di pulihkan?

Jika kurva penyebaran Covid-19 terus meningkat secara langsung penyebaran Covid-19  rmasih terus berlangsung di lapisan masyarakat. Jika kita lihat ini akan berdampak kepada kesehatan masyarakat. Dan jika di biarkan maka yang merasa dampaknya  bukan hanya masyarakat tetapi juga pemerintah. Jika terlalu banyak masyarakat yang terkena Covid-19 makan, tenaga kesahatan lah yang akan menjadi pasien pertama yang akan menghadapi Covid-19 dengan keterbatasan tenaga kesehatan dan keterbatasan alat-alat kesehatan, baik itu APD ( Alat Pelindung Diri) maupun alat-alat kesehatan lainnya, juga banyaknya orang yang terpapar Covid-19 akan mempengaruhi industri dan yang lainnya. Artinya nyawa masyarakat akan banyak yang hilang dengan kata lain siapa yang akan kuat maka dia akan berhasil lalu siapa yang lemah diakan akan kalah. Lantas inikah peran pemerintah sesungguhnya?

Jika pemerintah tetap melanjutkan kebijakan New Normal di Indonesia maka pemerintah bukan mencapai tujuan memilihkan ekonomi tetapi malah akan terus menghancurkan ekonomi. Terutama rakyat menengah ke bawah. Inilah yang kita rasakan ketika para penguasa menggunakan sistem kapitalis, hanya manfaat yang menjadi tujuan tanpa memikirkan bagaimana rakyatnya, apakah akan hidup atau malah akan kalah? Lantas di mana peran negara dalam menjamin kehidupan rakyatnya?

Islam adalah agama yang sempurna, mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk di dalamnya masalah kepemimpinan negara. Sistem kepemimpinan negara ini unik. Sistem ini disebut Khilafah, lahir dari hukum syara’, bukan lahir dari para pemikir di kalangan manusia. Dengan demikian kedudukannya lebih kuat karena yang menetapkannya adalah Sang Pencipta manusia.

Sistem kekhilafahan memiliki perbedaan dengan sistem demokrasi yang diterapkan Indonesia saat ini.  Pemimpin dalam demokrasi hanya berfungsi sebagai lembaga eksekutif yang menjalankan amanat rakyat. Dalam praktiknya, yang disebut “rakyat” tersebut hanyalah sebatas pada para pemilik modal dan kekuatan.  Tak heran jika kemudian pemimpin hanya berfungsi sebagai fasilitator, yakni memberikan fasilitas bagi orang-orang bermodal untuk menguasai negara.

  Sementara dalam Islam, pemimpin memiliki dua fungsi utama, sebagai raa’in  Rasulullah Saw. bersabda: “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari). dan junnah bagi umat Nabi Muhammad Saw bersabda:”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll).

Dalam hadis tersebut jelas bahwa para Khalifah, sebagai para pemimpin yang diserahi wewenang untuk mengurus kemaslahatan rakyat, akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT kelak pada hari kiamat, apakah mereka telah mengurusnya dengan baik atau tidak.

Sudah saatnya kita kembali kepada pemilik kehidupan, sang maha pencipta yaitu Allah SWT, menerapkan seluruh hukumNYA di dalam seluruh lapisan kehidupan kita, islam memiliki solusi dalam setiap permasalah yang terjadi, seperti yang terjadi saat ini pandemi Covid-19. Sebagaimana Rasulullah bersabda, “Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kelian meninggalkan tempat itu,” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim). Maka kembali kepada Aturan-aturan Allahlah segala solusi permasalahan.

Editor ; Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: