30 September 2022

Penulis : Dedah Kuslinah, S.T (Muslimah Ideologis Khatulistiwa)

Dimensi.id-Libur hari kesaktian Pancasila banyak dimanfaatkan warga Pontianak untuk berlibur ke luar kota. Oleh-oleh cerita dari seorang teman yang baru saja mengunjungi keluarganya di kota Singkawang, membuatku tercekat, bukan takjub, selaksa rasa khawatir menghampiri. Blundakan orang tidak saja memenuhi tempat wisata di kota ini yang memang merupakan kota rujukan untuk liburan, karena  mempunyai banyak destinasi wisata. Di warung-warung kopi pengunjung tidak saja memenuhi meja-meja yang disediakan, tidak ada jarak antar pengunjung. Tidak menggunakan masker. Seolah baru merasakan kehidupan baru. Kerumunan masyarakat ini, terlihat juga di taman-taman kota. Ekspresi warga seperti baru terbebas dari kungkungan wabah covid-19 yang selama beberapa bulan ini mencekam kehidupan masyarakat Kalimantan Barat. Yap! Wacana yang baru saja dicetuskan pemerintah telah direalisasikan masyarakat. Padahal penanggulangan covid-19 belum tuntas.

Sementara dikota Pontianak, Wali kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, tengah mempersiapkan protokol kesehatan untuk penerapan kenormalan baru atau new normal di warung kopi. Dia menjelaskan salah satu protokol kesehatan di warung kopi adalah dengan memasang kamera pengawas untuk memantau aktivitas pengunjung dan kedisiplinan pengelola. Edi menegaskan, selama ini pemerintah kota Pontianak tidak pernah menutup tempat usaha. Hanya melarang pembeli makan dan minum di tempat. Selain pemasangan kamera pengawas, pengunjung warung kopi nantinya juga harus selalu menjaga jarak, menggunakan masker dan selalu mencuci tangan. Kemudian pemilik usaha harus membuat pernyataan kesiapan untuk memenuhi protokol kesehatan di era new normal” (kompas.com, 3/ 6/2020).

Bagaimanapun juga uang lebih perkasa dari apapun, yang lain formalitas. Menormalisasikan ekonomi yang hancur lebur di system kapitalis dipandang jauh lebih penting dibanding menyelamatkan nyawa manusia. New normal dijadikan exit strategi Negara berideologi kapitalis dari pandemic corona.

New normal dipilih untuk menekan korban PHK dan cegah resesi. Dinilai bisa bangkitkan ekonomi. Dan sebagai antisipasi krisis ekonomi yang mengerikan. Pemerintah sudah merilis beberapa scenario new normal life untuk pekerja (PNS, BUMN, dan perusahaan). Semua upaya menormalkan kondisi ekonomi tidak diiringi dengan peningkatan penanganan wabah dari aspek kesehatan. Terlintas dongeng dimasa kanak tentang si tangan emas. Apapun yang disentuhnya menjadi emas, kala menyentuh dirinya, maka iapun menjadi emas. Apa artinya materi dikala diri tengah sekarat.

Terlalu gegabah! kalau kita bahas dan memutuskan segera new normal, demikian yang disampaikan Dr Hermawan Saputra dari Dewan Pakar Ikatan Ahli kesehatan masyarakat Indonesia (IAKMI). Wacana new normal membuat persepsi masyarakat seolah-olah telah melewati puncak pandemic covid-19. Namun kenyataannya belum dan perlu persiapan-persiapan dalam new normal.dan banyak prasyaratnya. Pertama, harus sudah terjadi perlambatan kasus. Kedua,  sudah dilakukan optimalsasi PSBB. Ketiga, masyarakatnya sudah lebih mawas diri dan meningkatkan daya tahan tubuh masing-masing. Keempat, pemerintah sudah betul-betul memperhatikan infrastruktur pendukung untuk new normal. (Merdeka.com)

Kembali terbersit rasa khawatir, jangan-jangan kebijakan ini hanya mengikuti trend global tanpa menyiapkan perangkat memadai agar tidak menjadi masalah baru. Alih-alih ekonomi bangkit justru wabah gelombang kedua mengintai di depan mata. Walaupun yang ditargetkan adalah wilayah zero covid 19, tetap saja kalau sudah new normal kemungkinan untuk keluar masuknya masyarakat dari luar wilayah bisa menjadi pembuka cluster penyebaran baru. Seperti yang terjadi di Korea Selatan.

Korea Selatan sempat terimbas wabah terburuk, awal tahun ini. Namun Negara itu berhasil mengendalikannya berkat progam rapid test, menelusuri jejak pasien dan pengobatan yang luas. Korsel gagal new normal, padahal di sana wadah sudah hampir teratasi. Dikutip dari sindonews,com. Korea Selatan kembali menutup lebih dari 200 sekolah hanya beberapa hari setelah dibuka. Ini dilakukan setelah terjadi lonjakan kasus baru covid-19. Pada hari rabu lalu ribuan siswa Korsel kembali ke sekolah ketika negara itu mulai mengurangi pembatasan socsial. Namun hanya sehari kemudian, terjadi kasus baru sebanyak 79 kasus yang menjadi angka harian tertinggi dalam dua bulan. Walhasil,tidak hanya sekolah, taman umum, dan museum diseluruh Seoul dan kota-kota sekitarnya sekarang telah ditutup. Pusat bisnis didesak untuk memberlakukan  jam kerja yang lebih fleksibel dan warga Korsel sekali lagi diminta untuk tidak berkerumun.(29/5/2020).

Kapitalis menganut hukum rimba, bahkan untuk hal terkecil di maasyarakat. Rakyat dibiarkan mengurus kemaslahatannya, siapa yang kuat dia berbertahan, siapa yang lemah dia tersisihkan. Bak sekumpulan binatang yang bergerombol,yang paling lemah akan dimangsa yang lain tidak bisa berbuat apa-apa.

Saatnya kita dan penguasa merefleksi diri. Mencoba memahami dan berpikir lebih mendalam, membersihkan kalbu, mengenyahkan pemikiran yang menghasilkan perbuatan tidak di ridhai Allah. Untuk akhirnya bisa menemukan bahwa tidak terjadi musibah kecuali atas kehendak Allah Yang Maha Kuasa. Yang menghadirkan penyakit dan menyediakan pula penyembuhannya.

Wabah ini adalah peringatan atas maksiat-maksiat yang tak kunjung dihentikan. Maksiat atas amanah yang diemban, bahwa penguasa adalah junnah (perisai) bagi rakyatnya untuk berlindung di belakangnya. Maksiat atas amanah bahwa jiwa muslim lebih berharga dibanding dunia, Rasulullah Saw bersabda “ Hilangnya dunia lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak” (HR Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani). Maksiat politik, sesungguhnya politik adalah mengurusi urusan umat, bukan dipakai hanya untuk meraih kekuasaan semata. Maksiat atas penggunaan sumber daya alam yang telah banyak dikuasai asing, bukan untuk kesejahteraan rakyat. Hanya aturan Allah yang menghilangkan segala kemaksiatan.

Aturan Allah yang telah diterapkan Baginda Nabi Muhammad Saw manusia yang paling berpengaruh di dunia. Beliau telah memberikan contoh yang agung dalam perpolitikan dunia. Kemudian para khalifah yang menggantikan kepemimpinan beliau atas umat manusia mendapatkan inspirasi bagaimana mengurus Negara dengan ideology (mabda) Islam.

Islam tidak hanya mengurusi perkara ibadah ritual saja. Namun juga ibadah dalam tiap sendi kehidupan. New normal life adalah menjaga kerangka akidah, syariah, dakwah dan ukhuwah baik dalam ideology, politik, ekonomi, social, budaya  pertahanan dan keamanan.  Walhasil, bunga sepatu bunga sedap malam, bunga mawar bunga melati, tidak ada kenormalan baru tanpa islam, sehingga tidak ada tawar menawar untuk menerapkan aturan ilahi. Akhiri menjadi Negara satelit yang setiap kebijakannya mengorbit ke Negara yang menjadi pusatnya.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: