30 September 2022

Penulis : Merli Ummu Khila (Kontributor Media, Pegiat Dakwah)

Orang bilang tanah kita tanah syurga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Penggalan lirik ini menggambarkan betapa suburnya negeri ini. Gemah ripah loh jinawi mempunyai artian “Tenteram dan makmur serta sangat subur tanahnya.” Segala jenis tanaman bisa tumbuh di negeri ini. Letaknya pun berada di garis khatulistiwa. Kaya akan air dan sinar matahari.

Hampir semua komponen pendukung swasembada pangan dimiliki oleh negeri ini. Tanah yang subur, air dan matahari. Serta sumber daya manusia yang produktif. Hanya butuh sebuah sistem pertanian yang modern serta dukungan dari pemerintah. Dari proses tanam hingga pemasaran.

Namun lihatlah sekarang, tanah-tanah yang subur kini berubah fungsi. Area persawahan di pinggir jalan sudah disulap menjadi kawasan industri. Perkebunan hingga rawa-rawa berubah menjadi permukiman penduduk. Perkebunan hanya ada di pedesaan yang jauh dari sarana transportasi.

Ada apa gerangan? Mungkinkah tanah tidak lagi subur, atau petani enggan bersentuhan dengan tanah?  Atau tidak bisa menggantungkan hidup dari hasil pertanian? Sejuta tanya akan berakhir pada satu muara. Bertani lebih sering merugi.

Apalah arti panen raya jika hasilnya harus berakhir pada tengkulak. Belum lagi biaya produksi yang besar dan bergantung pada cuaca. Selain bergantung pada cuaca, pengairan yang tradisional yang mengandalkan musim hujan.

Pendistribusian hasil panen menjadi kunci keberhasilan petani. Jika saja mereka bisa langsung menjadi pemasok pasar-pasar induk. Tentu saja bertani bisa menyejahterakan.

Sudah menjadi fakta di lapangan. Pasokan sayur dan buah di dominasi oleh sayur dan buah impor. Hasil petani lokal hanya mampu beredar di pasar-pasar kecil dengan harga rendah. Kebijakan impor pangan semakin brutal.

Seperti dilansir oleh katadata.co.id, 23/04/2020, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Indrasari Wisnu Wardhana mencatat, impor bawang putih yang sudah masuk ke tanah air tanpa Persetujuan Impor (PI) mencapai 28 ribu ton.

“Jumlah bawang putih yang masuk mencapai 48 ribu ton. Dari jumlah itu, 20 ribu ton memakai PI, sementara 28 ribu ton masuk tanpa PI,” kata dia dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR, Jakarta, Kamis (23/4).

Hal tersebut mencerminkan importasi bawang putih dapat dilakukan dengan mudah. Dengan demikian, siapa pun dapat melakukan impor bawang putih.

Mirisnya, pendistribusian barang impor dengan begitu mudahnya masuk ke Indonesia saat pendemi. Berbanding terbalik dengan nasib petani saat diberlakukan PSBB. Pendistribusian mereka terhambat hingga akhirnya sayuran harus mereka bagikan secara gratis karena tidak bisa di distribusikan ke pasar.

Diketahui jika kejadian itu terjadi di Desa Kedungrejo, Kecamatan Pakis, Malang, Jawa Timur. Kabarnya para petani di Desa Kedungrejo terdampak virus Corona Covid-19 secara ekonomi. Akibatnya mereka tak dapat mendistribusikan hasil panen mereka. (laporan6.com, 16/05/2020).

Seandainya saja pemerintah mau memberdayakan petani. Tidak perlu menunggu tahunan untuk swasembada pangan.

Liberalisasi ekonomi ditengarai menjadi biang keladi caruk maruk perekonomian. Kebijakan pasar berada ditangan pemilik modal. Negara hanya diberi ruang sedikit dalam mengatur perekonomian.

Masihkah berharap pada pemerintahan dengan sistem yang menyengsarakan. Bertahan justru memperpanjang penderitaan. Harapan yang dihembuskan demokrasi lewat jargonnya “Oleh rakyat, untuk rakyat dan dari rakyat” sudah terbukti hanya pepesan kosong. Sesuatu yang tidak akan pernah terealisasi.

Tidak ada pilihan kecuali kembali pada kehidupan Islam. Karena Islamlah satu-satunya agama sekaligus ideologi yang mampu menyatukan manusia. Tidak membedakan ras, suku dan bangsa.  Serta mengatur tidak hanya umat Islam namun juga umat agama lainnya. Semua bersatu dalam naungan Khilafah Islamiyah.

Dengan Islam, setiap jengkal tanah wajib diberdayakan seperti dalam sebuah hadist Rosullullah menganjurkan untuk mengoptimalkan tanah sebaik mungkin :

“Barangsiapa yang mempunyai tanah, maka tanamilah atau berikan kepada kawannya” (HR. Muslim).

Dr. Musthafa As Siba’i dal am kitab Min Rawa’i Hadhratina memuat perkataan sejumlah tokoh dalam mengomentari tentang peradaban Islam maupun barat. Jacques C. Reister mengatakan, “Selama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradaban yang tinggi.”

Waallahu a’lam bishshawaab

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: