5 Oktober 2022

Penulis : Rut Sri Wahyuningsih (Ibu Rumah Tangga, Penulis , Editor)

Dimensi.id-Ramadan telah meninggalkan kita. Pastinya ada guratan kesedihan sebab belum tentu kita masih bisa bertemu dengan Ramadan tahun depan. Usia adalah rahasia Allah, kita hanya bisa berharap.

Dan Syawalpun sudah hari ke-3. Bulan kemenangan. Tak dilarang lagi mereka yang ingin makan minum disiang hari. Semua orang berhak merayakannya. Namun inikah arti kemenangan yang sesungguhnya? Inilah arti kembali ke fitrah yang sebenarnya?

Perintah Allah SWT dalam Quran surat Al-Baqarah 2: 183 yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

Artinya, selepas Ramadan maka akan bermunculan individu baru yang telah teruji ketakwaannya. Namun benarkah ketakwaan yang berlaku sebatas Ramadan sajakah yang dimaksud Allah? Kita bisa melihat jawabannya dalam  QS Ali Imran 3: 102 yang artinya :

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenarbenar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam“.

Dengan gamblang ayat diatas menegaskan bahwa setiap individu yang sudah mengucapkan dua kalimat syahadat pantang melepas ketakwaannya hingga kematian menjemput. Sebab, ketakwaan adalah napas bagi kaum Muslim.

Allah mengharamkan setiap jiwa yang telah ada Islam didalamnya kemudian meninggal dalam keadaan kafir. Artinya keIslamannya tidak membuat perilaku dan tutur katanya sesuai dengan syariat Islam.  Dengan kata lain selepas Ramadan maka ketakwaan itu akan terus menerus kita kerjakan dalam keadaan apapun. Terlebih ketika kita berinteraksi dengan manusia yang lainnya, sebab lazimnya interaksi inilah yang seringkali menimbulkan perselisihan.

Terus menerus menjaga ketakwaan ini disepanjang usia adalah juga bagian dari perbuatan seorang hamba dan dinilai sebagai ibadah. Ini pula yang menjadi tujuan manusia dan jin diciptakan oleh Allah sebagai firman Allah dalam Quran surat Adz -Dzariyat : 56 yang artinya:

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku semata, tidaklah Aku menciptakan mereka agar mereka menjadikan sekutu bagi-Ku. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia dan mengutus para rasul kecuali untuk tujuan luhur, yaitu beribadah hanya kepadaKu semata bukan kepada selainKu”.

Kembali kepada fitrah sebagai hasil perjuangan kita selama sebulan di bulan Ramadan maka tak lain dan tak bukan adalah kembali kepada tujuan penciptaan kita oleh Allah, yaitu beribadah  hanya kepada Allah. Maka otomatis akan langsung tertolak siapapun yang masih menduakan Allah dalam setiap amal dalam hidupnya. Mereka tak mendapati makna kembali ke fitrah yang benar. Faktanya kini kaum Muslim jauh dari agamanya.

Mereka lebih nyaman mengikuti diksi kafir yaitu lakukan semampunya, atau jangan campur adukkan agama dan pekerjaan sehari-hari mereka. Seakan Allah telah melakukan kesalahan dengan membebani sesuatu yang tidak sanggup dijalani. Akhirnya berakibat kepada ketidakberkahan hidup. Lihat bagaimana pandemi Covid-19 kali ini seakan solusinya tak berujung.

Selain itu tak diterapkannya satu syariat padahal perintahNya masuklah  Islam secara kaffah akan membawa pada keadaan yang jauh dari Rahmat Allah. Jika hanya individu yang lalai tak terlalu signifikan dampaknya, tapi jika sudah bicara masyarakat atau negara, artinya pemimpinnya menolak menggunakan syariat jelas akan berdampak banyak dan meluas. Padahal persoalannya kita hanya tak mau tahu tentang metode penerapannya jika ada syariat yang tak bisa kita terapkan secara individu.

Rasulullah lah suri teladan terbaik yang telah mencontohkan bagaimana syariat itu diterapkan dalam skala negara. Yaitu di Madinah setelah beliau hijrah. Semua aspek dalam negara menerapkan hanya hukum Allah bukan yang selainnya. Ketika Rasul wafat kemudian digantikan Khulafaur Rosyidin dan Khalifah-khalifah selanjutnya.

Maka, jika benar kita hendak menjadikan hari raya kita kembali kepada yang fitrah, maka kita harus menetapi makna yang sebenarnya yaitu kembali kepada pengaturan Allah, semua persoalan kembalikan juga solusinya hanya pada Islam. ¬†Wallahu a’ lam bish showab.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: