30 September 2022

Penulis : Eni Mu’ta S.Si (Pegiat Literasi Pena Cendekia)

Dimensi.id-Ramadan telah usai dan hari raya Idul Fitri telah tiba. Umat Islam seantero dunia menyambutnya dengan suka cita. Namun, ekspresi kebahagiaan ini berselimut kabut wabah, lantaran badai corona belum juga reda.

Dengan pertimbangan keamanan, aktivitas shalat Ied dan silaturahmi harus dibatasi. Jaringan virtual menjadi andalan untuk saling memberi ucapan selamat dan bermaafan. Tak ada open house baik di lingkup masyarakat maupun pejabat negara.

Wakil Presiden Ma’ruf Amin menyampaikan selamat hari raya Idul Fitri secara virtual, seraya menyampaikan janji Allah SWT jika kita beriman dan bertakwa akan diberikan keberkahan.

“Idul Fitri kali ini kita rayakan dalam suasana pandemi, oleh karena itu mari kita rayakan dengan tetap memegang aturan-aturan kesehatan dan marilah kita perkuat iman dan ketakwaan kita karena janji Allah SWT kalau kita bertakwa akan diberikan keberhakan,” katanya. (suaramerdeka.com/23/5/2020)

Benar, hari raya Idul Fitri sejatinya melahirkan pribadi-pribadi yang bertakwa sebagai buah dari pelaksanaan puasa selama di bulan Ramadan. Sebagaimana firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (Qs. al-Baqarah: 183)

Kata takwa berasal dari kata waqa artinya melindungi. Sikap dan tindakan untuk melindungi diri dari murka dan azab Allah SWT. Caranya tentu dengan menjalankan semua perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Baik secara pribadi, keluarga, dan bernegara.

 Sekularisme bukan jalan takwa

Tampaknya apa yang disampaikan oleh penguasa terkait seruan iman dan takwa sekadar retorika belaka. Bagaimana tidak, selama ini negeri dengan mayoritas muslim dan dipimpin oleh seorang muslim namun aturan yang diterapkan jauh dari ketakwaan. Pun dalam penyelesaian persoalan wabah.

Dalam menghadapi wabah, fasilitas kesehatan yang baik dan teknologi canggih saja tak akan cukup. Butuh pondasi kuat untuk menyelesaikannya. Persoalan wabah ini bukanlah yang pertama dalam sejarah kehidupan manusia. Dan Allah SWT telah turunkan petunjuk agar bisa diambil pelajaran darinya.

Rasulullah SAW memperingatkan umatnya untuk tidak berada di dekat wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah. Rasulullah SAW memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus, jauh dari pemukiman penduduk. Istilah sekarang lockdown. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab juga demikian, beliau membatalkan melanjutkan perjalanan ke Syam karena menerima kabar ada wabah disana.

Jadi, apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan Umar bin Khattab harusnya jadi rujukan untuk menghadapi wabah saat ini. Sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Nyatanya tidak. Penguasa lebih memilih arahan dari lembaga dunia sebagai solusinya, bahkan solusi atas segala persoalan yang menimpa negara. Hasilnya bukan keberkahan yang didapat justru melapetaka yang menyengsarakan.

Pemisahan urusan negara dengan syariat Allah SWT adalah bentuk sekularisme. Inilah yang terjadi saat ini. Rakyat muslim, penguasa muslim tapi aturan kehidupan tak bersumber dari syariat Islam. Kebebasan berpendapat menjadikan manusia berhak membuat aturan kehidupan. Untung rugi menjadi standar mengambil kebijakan. Tengok saja, kebijakan PSBB, pelonggaran PSBB, dan New Normal Life diambil bukan demi menyelamatkan nyawa rakyat tapi menyelamatkan kepentingan pengusaha. Sungguh mustahil ketakwaan bisa tumbuh dengan kuat dalam kondisi demikian.

Penawar Wabah

Firman Allah SWT yang artinya, “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. al-A’raf: Ayat 96)

Ayat ini berisi kabar gembira dan sebuah peringatan. Iman dan takwa menjadi perantara limpahan berkah dari langit dan bumi. Namun, meninggalkan takwa tersebab datangnya siksa. Ini menjadi refleksi terhadap wabah yang tengah terjadi. Akibat pelanggaran konsumsi makanan haram, kesengsaraan menimpa sebagian besar penduduk bumi. Maka tak ada jalan lain untuk memperbaiki kondisi selain mewujudkan ketakwaan bagi semuanya.

“Barang siapa bertakwa kepada Allah SWT, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (Qs. at-Thalaq: 2)

Individu yang bertakwa akan memilih prioritas amal sesuai perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Dalam kondisi wabah seperti sekarang, ia akan memilih melakukan aktivitas yang minim dari penyebaran wabah yang membahayakan dirinya dan orang lain. Tentu ini butuh dilakukan bersama-sama dengan masyarakat. Saling menjaga, berbagi info dan mengingatkan. Karena masyarakat yang bertakwa tak akan diam ketika ada kemungkaran.

Ketakwaan individu dan masyarakat bisa ambyar ketika tatanan kehidupan tak dijaga dengan benteng yang kokoh. Disinilah peran negara sebagai institusi penjaga individu dan masyarakat. Ketakwaan kolektif inilah yang mampu mengantarkan pada kehidupan penuh berkah.

Bagaimana tidak, ketika individu sudah bertakwa, masyarakat dan negara juga bertakwa maka kehidupan akan senantiasa berjalan dibawah koridor syari’at Allah SWT. Tak akan menggantung pada kebijakan dunia yang bertumpu pada manusia. Inilah potret tatanan kehidupan yang telah dijalankan oleh Rasulullah SAW dan para Khalifah sesudahnya yang patut dijadikan rujukan. Allahu ‘alam bis shawab.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: