5 Oktober 2022

Penulis : Moch Efendi

Dimensi.id-Dunia digemparkan dan disibukkan oleh serangan pasukan super kecil yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang. Korban meninggal sering dikaitkan dengan virus yang diyakini berasal dari Wuhan.  Tapi sayang ajuran tinggal di rumah tidak diikuti oleh rakyat karena tidak adanya penjaminan kebutuhan pokok dan dasar mereka oleh negara. Memang,  sulit hidup di dunia Kapitalis, rakyat dihadapkan pada pilihan sulit seperti makan buah simalakama.

Rakyat bingung antara hidup normal tapi dalam ancaman pandemi yang belum berhenti.   Rakyat bosan dan jenuh tinggal dirumah saja tanpa tahu sampai kapan pandemi ini akan berakhir.  Mereka dalam ancaman kelaparan jika tidak keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Memang sulit hidup dalam sistem kapitalis karena negara abai terhadap urusan rakyatnya.

Hidup normal memang diinginkan semua orang.  Sebagai makhluk sosial,  terasa tidak nyaman hidup dalam pembatasan sosial. Kita perlu berdekatan,  saling menyapa agar bisa saling mengerti dan memahami untuk hidup yang lebih indah dan menyenangkan.  Tidak hanya itu kita perlu  keluar rumah agar mendapat penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga saat negara abai dengan kebutuhan dasar mereka, namun bahaya mengancam diluar sana, virus corona yang siap membunuh siapa saja dengan immun tubuh yang lemah.   

New-Normal sebenarnya untuk siapa?  Rakyat dikorbankan untuk membela kapitalis yang mulai terganggu dengan berbagai pembatasan.  Dikawatirkan akan banyak muncul kasus dengan kluster baru,   jika pemerintah memberlakukan New-Normal  untuk melindungi dunia usaha agar bisa hidup normal dan ekonomi agar bisa menggeliat hidup dan tumbuh. Tapi rakyat ditumbalkan,  mempertaruhkan nyawa mereka untuk kepentingan kapitalis dan penguasa dzalim yang tidak perduli dengan rakyatnya.

Apakah protokol kesehatan mampu dijalankan, untuk memutus penyebaran covid-19. Banyak orang meragukan anak sekolah bisa mengikuti protokol kesehatan yang sudah ditentukan,  jika sekolah masuk sebelum kondisi benar-benar normal.  Apalagi sudah terbukti PSBB ternyata gagal dengan indikator jumlah korban yang terus bertambah. Pelanggaran PSBBpun sering kita dengar terutama dari kalangan remaja yang suka keluyuran. 

Mereka tidak menganggap serius ancaman ini,  karena yang mereka hadapi sesuatu yang tidak terlihat dan dirasakan dampaknya oleh mereka secara langsung. Mereka yang masih usia sekolah belum bisa memahami bahaya dari pandemi covid-19,  sehingga bisa dipastikan sulit bagi sekolah untuk meminta mereka mengikuti protokol kesehatan.  Akhirnya,  yang ditakutkan akan banyak terjadi penularan virus corona dalam jumlah besar.  Dan tentunya akan banyak korban yang tidak bisa ditangani secara medis karena keterbatasan layanan kesehatan. 

Jumlah korban terus bertambah meskipun rakyat disuruh jaga jarak,  sosial distancing,  dan tinggal dirumah saja.  Pilihan sulit bagi rakyat, kelaparan tinggal di rumah atau terancam covid-19 jika harus keluar. Penanganan yang setengah hati dan tidak jelas,  membuat transmisi penyebaran virus begitu cepat. Rakyat yang patuh dengan anjuran pemerintah seolah sia-sia,  sementara pemerintah juga sering melanggar aturan dan menindak pelanggaran tidak sepenuh hati sehingga sering aturan dilanggar.  Sebagian rakyat berfikir percuma tinggal di rumah,  karena banyak video viral yang menggambarkan banyak pelanggaran di masa PSBB. Orang berdesakan di Mall dan di pasar dibiarkan.  Sementara yang ke masjid dicek ketat bahkan sebagian dilarang.  

Apalagi yang terindikasi positif terinfeksi covid-19, harus isolasi mandiri terkurung dalam ruangan seperti dipenjara.  Tersiksa dalam kurungan selama 14 hari bahkan meskipun tanpa gejala.  Sakit bukan karena covid-19 tapi tersiksa karena tidak bisa melihat dunia luar. Apalagi ancaman kematian terus menghantui jika tiba-tiba gagal pernafasan yang membuat sesak dan jantung berhenti berdetak.  Menahan diri agar tidak menularkan ke orang lain, tapi banyak orang di luar sana, tidak mau perduli, melihat pengorbanan mereka yang terisolasi.

Memang sulit hidup dalam sistem kapitalis yang tidak manusiawi, mengorbankan nyawa manusia  demi membela kapitalis. Bahkan,  negara adi kuasa seperti Amerika rela mengorbankan rakyatnya, demi ketahanan ekonomi negara agar terus berkuasa sebagai adi kuasa memimpin dunia.  Rakyat berjatuhan menjadi korban keganasan covid-19 tidak diangap penting,  bahkan ada yang memanfaatkan situasi pandemi untuk memperkaya diri sendiri.

Rakyat dalam pilihan sulit dalam sistem kapitalis. Aturan dalam sistem kapitalis diterapkan bukan untuk melindungi rakyat.  Sering, aturan tidak jelas dan tegas hanya untuk pencitraan sehingga penanganan pandemi seolah hanya main-main saja dan sering dibuat candaan. Lihat banyak pelanggaran dan ironinya dilakukan yang membuat aturan.   

Saatnya kembali kepada kehidupan normal dalam sistem yang berpihak pada rakyat. Negara datang untuk mengurusi urusan rakyat menjamin keselamatan dari berbagai ancaman. Rakyat hidup aman dan sejahtera karena negara datang untuk melindungi mereka.  Aturan dibuat untuk melindungi semua orang,  tegas dan berkeadilan bukan pencitraan. New-normal hanyalah bentuk ketidakberdayaan sistem kapitalis dalam menangani pandemi.  Hanya sistem Islam yang akan mampu melindungi rakyat dari pandemi dengan cara yang manusiawi,  bukan mempertaruhkan nyawa rakyat demi kekuasaan dan ekonomi.      

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: