5 Oktober 2022

Penulis : Aisyah Karim (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Dimensi.id-Amerika perlu memahami Islam, karena ini adalah satu agama yang menghapus ras dari masyarakatnya. Sepanjang perjalanan saya di dunia Muslim, saya telah bertemu, berbicara, dan bahkan makan dengan orang-orang  yang  jika di Amerika akan dipertimbangkan oleh mereka yang Putih-tetapi sikap mereka yang Putih itu dihapus dari pikiran mereka oleh Islam. Saya belum pernah melihat persaudaraan yang tulus dan benar dengan semua warna bersama, terlepas dari warna mereka.” (Malcolm X, “Letter from Mecca”)

——————————————–

Kematian George Floyd pada awal pekan ini memunculkan gelombang demontrasi di AS, di mana massa menyerukan agar polisi tak lagi menggunakan kekerasan. Floyd sendiri adalah pria kulit hitam tak bersenjata yang tewas pada Senin 25/5/2020, setelah polisi Minneapolis membekuknya di sebuah toko.

Salah satu polisi, Derek Chauvin, menindihnya selama delapan menit dimana Floyd sempat terekam berteriak, “Aku tak bisa bernapas.” Kini Floyd menjadi pusat perhatian dunia karena perlakuan rasisme yang diterimanya. Ia meninggal kehabisan napas setelah disekap dengan lutut Chauvin (kompas.com 31/5/2020).

Saat itu Floyd dituduh melakukan transaksi dengan uang palsu, dan ia langsung diamankan polisi,  tetapi sekaligus menemui ajalnya. Kepergian Floyd, sosok yang dikenal penyayang dan peduli pada sesama telah memicu kerucuhan di seluruh daerah Amerika setelah videonya menyebar di internet. Meski keempat polisi telah dipecat namun demonstrasi tidak mereda malah semakin memanas.

Los Angeles, Chicago dan Atlanta memerintahkan warganya untuk tinggal di rumah semalaman setelah banyak negara bagian memanggil tantara Garda Nasional untuk membantu mengendalikan kerusuhan sipil yang sudah lama tak terjadi di Amerika. Dari Seattle hingga New York, puluhan ribu pengunjuk rasa turun ke jalan menuntut pembunuhan yang lebih keras dan penangkapan lebih banyak atas kematian Floyd. Sebanyak 25 kota dan 16 negara bagian memberlakukan jam malam.

Kini aksi ini telah mencapai halaman Gedung putih. Melansir dari Reuters pada Jumat 30/5/2020 Trump akan mengerahkan anjing paling buas dan senjata jika demonstran berani menyeberang pagar (tempo.co 31/5/2020). “Malam ini, saya memahaminya sebagai malam MAGA di Gedung Putih,” kata Trump. MAGA adalah singkatan dari Make America Great Again, yang menjadi slogan kampanye pilpres Trump pada 2016.

Kejahatan Rasisme di Kampium Demokrasi

Barat adalah pihak yang banyak bicara tentang hak asasi dan kemanusiaan di seluruh dunia. Terutama Amerika, selama ini memerankan dirinya ibarat polisi dunia. Namun untuk kesekian kalinya wajah Amerika dan Barat pada umumnya menunjukkan realitas yang sesungguhnya.

Walikota Washington berkulit hitam, Muriel Bowser, mengatakan, “Saat Trump bersembunyi di balik pagar ketakutan, saya berdiri Bersama rakyat secara damai menggunakan hak amandemen pertama setelah pembunuhan George Floyd dan ratusan tahun rasisme yang terinstitusionalisasi.”

Kasus kematian warga kulit hitam yang mengalami kekerasan dari polisi muncul setiap hari. Bahkan, kebanyakan mereka tidak melakukan kesalahan apapun selain menjadi orang dengan ras kulit hitam. Mengutip BBC, Jumat 29/5/2020, kasus rasisme di AS menjadi momok utama.

Seorang penulis, Barrett Holmes Pitner menjelaskan mengapa menurutnya rasisme AS itu unik. “Saya telah melakukan perjalanan yang adil ke seluruh dunia, tetapi status quo rasis AS tetap unik dan sangat menekan. Rasisme AS sepenuhnya berbasis corak dan monolitik. Kebangsaan seseorang tidak penting,” ujar Pitner.

Rasisme terhadap orang kulit hitam di AS sebagian besar tidak ada hubungannya dengan imigrasi atau kebangsaan. Tidak ada negara asal untuk Afrika-Amerika untuk terhubung dengan masalah ini. Sebaliknya hal ini pada dasarnya adalah status quo dari keterasingan domestik, dehumanisasi, kriminalisasi dan terror. Rasisme di Eropa memang buruk, namun masih lebih ramah dibandingkan Amerika.

Rasisme sistemik Amerika dimulai dengan perbudakan dan berbagai kode atau undang-undang negara bagian atau federal yang mengodefikasi praktik perbudakan chattel yang tidak manusiawi menjadi hukum. Amerika Selatan adalah `masyarakat budak`, bukan hanya masyarakat dengan budak. Namun setelah penghapusan perbudakan, hukum yang mirip dengan kode budak terus menindas orang kulit hitam.

Setelah perang saudara, `kode hitam’ ini memiliki tujuan eksplisit untuk merampas hak orang Amerika kulit hitam yang baru dibebaskan, yang telah mereka menangkan. Kode hitam bervariasi dari satu negara ke negara lain, tetapi dasar hukum mereka berpusat pada undang-undang gelandangan yang memungkinkan seorang Afrika-Amerika ditangkap jika ia menganggur atau kehilangan tempat tinggal.

Kode hitam menjadi landasan konstitusi negara. Pajak polling dan ujian baca untuk mencegah orang Afrika-Amerika memilih segera menjadi norma. Jim Crow dan segregasi rasial, yang memerintah Selatan sampai 1960-an, adalah hasil dari hukum-hukum itu. Ketika keluarga-keluarga kulit hitam melarikan diri ke wilayah selatan pada abad ke-20 selama migrasi hebat, kode-kode hitam mengikuti mereka ke Los Angeles, Chicago , New York dan tempat lain.

Orang Amerika berkulit hitam-yang merupakan pengungsi domestik yang melarikan diri dari terorisme yang didanai negara-diduga membawa kejahatan, pengangguran, gelandangan dan narkoba. Departemen kepolisian seluruh Amerika merespon dengan lebih banyak kode hitam dan kebijakan agresif komunitas kulit hitam. Kehidupan kulit hitam pun selalu dikriminalisasi dan tidak manusiawi di Amerika, kampium demokrasi dunia.

Bahkan Ketika kepresidenan di jalankan oleh orang berkulit hitam, Barrack Obama, Michael Brown, Eric Garner dan banyak  orang Afrika-Amerika tak bersenjata lainnya tetap dibunuh oleh polisi. Media sosial meningkatkan kesadaran akan ketidakadilan ini dan membantu menciptakan Gerakan Black Lives Matter, tagar yang kini digaungkan atas kematian George Floyd.

Kini dibawah pemerintahan Trump yang rasis, lebih banyak orang kulit putih Amerika berani menggunakan Kembali kode hitam hanya saja tanpa tiga bulan kerja paksa. Jika ini realitasnya, bagaimana seluruh dunia percaya dengan sihir demokrasi, keadilan dan persaudaraan?

Islam Zero Rasisme

Peradaban Islam menjadi peradaban  terpanjang di dunia, yang bertahan selama 13 abad, meliputi 2/3 dunia, terbentang di tiga benua. Selama itu peradaban ini dipenuhi dengan keadilan dan kesetaraan, sebuah mimpi besar peradaban modern yang tak pernah terwujud. Rasulullah memiliki seorang sahabat, pejuang dan Pembina umat, Bilal bin Rabah yang berkulit hitam. Dialah muadzin pertama kaum Muslimin yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.

Bahkan disisi Rasulullah ada banyak sahabat yang berkulit hitam yang namanya ditulis dengan tinta emas dalam sejarah, mereka bukan hanya berasal dari Afrika, seperti Nubia dan Abyssinia saja, namun adalah orang Arab yang memiliki kulit hitam dan coklat, yang pada masa kekinian akan dianggap hitam seperti orang Sudan yang sama-sama orang Arab dan berkulit hitam.

Diantara mereka terdapat Ummu Ayman, sosok hitam bercahaya Abyssinian pelayan Abdullah bin Abdul Muthallib, ayahanda Nabi. Terdapat pula sosok Usamah bin Zaid, putra Zaid bin Haritsah dan Ummu Ayman. Kemudian  Sa`ad Al-Aswad As-Sulami, sosok yang syahid dalam pangkuan Nabi SAW. Demikian pula Ammar bin Yasir, seorang sahabat terpilih yang melakukan dua migrasi di jalan Allah yang wafat dalam perang Siffin.

Sementara itu, Mihja` bin Shalih adalah syuhada pertama di perang Badar. Dikenal pula sosok Abu Dzar al Ghifari yang setia dan peduli kepada kaum papa. Kemudian sosok Ayman bin `Ubayd sang gembala sahabat setia Nabi SAW. Ia adalah satu dari delapan orang yang berdiri disisi Rasulullah dalam kepanikan perang Hunain.

Demikianlah diantara sedikit fakta yang mampu saya ungkap, betapa Islam menjunjung tinggi keadilan dan tidak mendiskriminasi manusia berdasarkan ras dan warna kulitnya. Islam telah mempraktikkan keadilan, kesetaraan dan persaudaraan jauh sebelum pemuja liberalisme memanipulasi istilah-istilah tersebut untuk menipu dunia.

Rasulullah SAW telah menyatukan seluruh umat manusia dan bangsa-bangsa dalam institusi Islam, Daulah Khilafah Islamiyah. Rasulullah memimpin masyarakat yang heterogen di Madinah, yaitu Muslim, Yahudi, Nasrani dan Musyrikin. Sepeninggal beliau para Khalifah membebaskan bangsa-bangsa dan merangkum mereka menjadi warga negara Khilafah yang solid.

Tak pernah disoal apakah mereka berkulit zaitun, putih, kuning  ataukah merah. Maka semakin beragamlah penduduk Daulah, baik bangsa, agama, tradisi, ras dan bahasa. Namun Islam mampu melakukan integrasi sosial dengan gemilang. Mereka hidup berdampingan menikmati ketenteraman di bawah Rayah Khilafah Islamiyah. Sebuah prestasi yang belum pernah terjadi dalam peradaban manapun di muka bumi.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: