30 September 2022

Penulis : Reni Rosmawati (Ibu rumah tangga, Pegiat literasi AMK)

Tatkala ia pergi…

Aku termenung sendiri

Tak kuat menahan rasa rindu yang membuncah dalam sanubari

Tak terasa air mata bercucuran membasahi pipi tiada henti

Duhai Ramadan…

Aku merindukanmu

Tak sanggup rasanya berpisah denganmu

Dimensi.id-Ramadan mulia benar-benar telah pergi. Kumandang takbir, tahlil dan tahmid yang serentak menggema di seluruh penjuru bumi kini tak terdengar lagi. Berakhirnya Ramadan disambut sukacita oleh seluruh umat muslim di dunia, meskipun ada suasana berbeda.

Ya Ramadan tahun ini tidak seperti biasa. Umat muslim dihadapkan pada ujian sengit, selain menahan haus dan lapar juga harus berjuang hidup di tengah kepungan wabah Corona. Sebagian orang beranggapan berakhirnya Ramadan adalah sebuah kemenangan yang telah disematkan bagi mereka. Namun benarkah demikian?

Setiap tahun negeri ini bersikap mendua pada saat memasuki bulan Ramadan. Menutup tempat hiburan malam. Menghias kota dengan nuansa ibadah. Televisi ramai dengan acara pengajian.

Dari tataran individu, masyarakat hingga negara pun bersikap relijius dan menunjukkan ketakwaannya. Tetapi, selepas Ramadan, semua kembali kepada sedia kala, berbagai kegiatan maksiat kembali diizinkan. Ketakwaan seolah nyaris tak berbekas dalam kehidupan pribadi, masyarakat apalagi negara.

Hari Raya Idul Fitri yang identik dengan hari kemenangan pun, seakan berubah menjadi kekalahan bagi umat muslim hampir di semua lini kehidupan. Keadaan umat Islam saat ini amat menyedihkan. Sejak keruntuhan Khilafah Islam pada 1924, umat muslim bagaikan anak ayam kehilangan induknya.

Mereka dipecah-belah, dijajah secara ideologis dan sistemik. Di negara-negara mayoritas berpenduduk kafir, kaum muslim terus-menerus ditindas, disiksa secara fisik dan dibantai habis-habisan.

Kaum muslim Kashmir disiksa oleh Hindu India. Kaum muslim Uighur ditindas habis-habisan oleh komunis Cina. Kaum muslim Rohingya oleh Budha Myanmar. Kaum muslim lainnya bernasib serupa di berbagai belahan dunia.

Sungguh menyesakkan dada, kondisi miris dan ironis ini terus terulang dan terpampang di depan mata. Kezaliman serta kemaksiatan terus merajalela akibat  ketakwaan sesaat di sisi individu, masyarakat dan negara. Setiap tahun kaum muslimin menjalankan puasa Ramadan dengan menahan diri dari makan, minum dan jima di siang hari. Namun nyatanya tidak berpengaruh dalam aktivitas kesehariannya di saat maupun setelah Ramadan. Pelanggaran hak syara terus terjadi tanpa riayah dan sanksi tegas dari penguasa bahkan terkesan dibiarkan.

Dari semua fakta yang ada, ternyata mampu menahan rasa  haus dan lapar selama berpuasa sebulan penuh bukanlah hakikat kemenangan sesungguhnya. Kemenangan hakiki adalah saat ketakwaan bisa kita raih dan benar-benar mewujud dalam diri kita. Demikian sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS al-Baqarah ayat 183:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ketakwaan adalah sesuatu yang terhimpun di dalamnya: rasa takut kepada Allah Swt. yang tumbuh dari ilmu (pengetahuan) tentang Dzat-Nya, Rububiyah-Nya, Uluhiyah-Nya serta nama dan sifat-sifat-Nya. Kata taqwâ berasal dari kata waqâ yang artinya, melindungi.

Kata tersebut kemudian digunakan untuk menunjuk pada sikap dan tindakan untuk melindungi diri dari murka dan azab Allah Swt. Caranya tentu dengan menjalankan semua perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya serta benar-benar hanya mengharap ridha-Nya.

Tentu wajib bagi orang-orang mukmin meraih takwa bila mereka mengharapkan keridhaan Allah Swt. karena ketakwaan akan memberikan dampak positif dalam kehidupan pribadi, masyarakat dan negara. Itulah sebabnya, takwa harus total tidak boleh setengah-setengah apalagi sesaat. Yang demikian karena iman dan takwa merupakan kunci keunggulan masyarakat Islam.

Namun sayang, takwa yang digaungkan saat ini seolah fenomena tahunan dan hanya sebatas jargon belaka. Semua kondisi ini akibat sistem kapitalis-sekuler yang belum lama bercokol di negeri-negeri muslim. Sistem ini telah merusak seluruh tatanan kehidupan dan menjauhkan kaum muslimin dari hakikat takwa yang sesungguhnya.

Sejatinya, derajat takwa akan terealisasi dalam seluruh aspek kehidupan manakala sudah tertanam dalam diri individu, masyarakat maupun negara, rasa takut kepada Allah Swt. Secara totalitas dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Serta berhukum hanya kepada apa yang telah diturunkan-Nya yakni Al-Qur’an dan hadis, bukan yang lain.

Ketakwaan tentu harus diwujudkan tidak hanya dalam ranah individu belaka, tetapi juga pada ranah masyarakat dan negara agar mencapai ketakwaan hakiki. Namun semua itu tidak akan terealisasi secara sempurna tanpa adanya penerapan Islam secara kaffah. Karena hanya syari’at Islamlah satu-satunya yang mampu melahirkan ketakwaan kolektif di masyarakat.

Maka dari itu, untuk menyempurnakan ketakwaan hakiki dan melanggengkan ketakwaan kolektif yang sudah ditempa selama Ramadan, hendaklah setiap muslim turut terlibat secara aktif dalam perjuangan mewujudkan penerapan syariah Islam secara kaffah di bawah sistem Khilafah ar-Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian. Serta mencampakkan sistem kapitalis-sekuler dari tatanan kehidupan. [S]

Wallahu a’lam bi ash-shawwab

Editor : azkabaik

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: