5 Oktober 2022

Penulis : Erwina (Komunitas Penulis Jombang)

Dimensi.id-Narasi new normal life gencar dilakukan pemerintah. Targetnya juni sudah berlangsung di tengah-tengah masyarakat. Harapannya roda perekonomian akan mampu kembali berputar. Walau pandemi masih terus berlangsung dan menelan banyak korban.

New normal life akan membuka kran perekonomian yang melambat karena dampak pandemi. Pemerintah telah berancang-ancang membuka kembali pusat perbelanjaan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang berlaku. Bahkan Jokowi telah meninjau persiapan sejumlah lokasi pusat belanja dan sarana transportasi publik, antara lain telah meninjau stasiun MRT Bundaran Hotel Indonesia dan di siang harinya dijadwalkan mengunjungi Mall Summarecon Bekasi, Jawa Barat. (www.cncbcindonesia.com/26/5/2020)

Perlambatan ekonomi Indonesia dibuktikan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya mencapai 2,97 persen (year on year) pada kuartal I/2020, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Pertumbuhan ini menjadi salah satu yang terendah sejak 2001. (m.bisnis.com/5/5/2020). Keterpurukan ekonomi juga melanda dunia sebagai dampak pandemi. Tahun ini diprediksi pertumbuhan ekonomi global merosot ke -3%. Jauh lebih rendah dibandingkan krisis 2009 dimana pertumbuhan ekonomi global masih sebesar -0,1%. Padahal satu dekade setelahnya, sudah meningkat di angka 2,9%. (katadata.co.id/29/4/2020).

Sungguh, corona telah memukul perekonomian dunia. Sudahlah menjadi pandemi, obatnya pun belum ditemukan. Bahkan dikatakan pandemi ini akan berlangsung lama. Aktivitas lockdown dan karantina wilayah di beberapa negara dunia juga berdampak pada perekonomiannya. Adapun Indonesia memilih PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) juga berdampak pada keterpurukan ekonomi.

Maka muncullah wacana new normal life, hidup berdampingan dengan corona dengan batas-batas tertentu demi kebangkitan ekonomi. WHO yang memunculkan ide ini mendapat sambutan dari negara-negara di dunia termasuk Indonesia. Padahal ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi sebelum memulai new normal life. Diantaranya bahwa penularan COVID-19 di wilayahnya telah terbukti bisa dikendalikan.

Indonesia dan New Normal Life

Kebijakan new normal life yang akan diambil pemerintah menunjukkan latahnya negeri ini tanpa memperhatikan persyaratan yang harus dipenuhi. Juga keberpihakan kepada korporasi daripada rakyat sendiri. Tengok saja pertambahan kasus positif masih bertambah ratusan tiap harinya. Sungguh jauh dari grafik melandai apalagi terkendali. Bertambah 973, 634, 949, 526, 479, 415 kasus baru sejak tanggal 21 hingga 26 mei 2020. Penurunan jumlah penambahan kasus yang berturut-turut belum menjadi dasar bahwa puncak pandemi telah terlampaui apalagi melandai.

Karenanya jika WHO mensyaratkan penularan COVID-19 di wilayahnya telah terbukti bisa dikendalikan maka jelas tidak memenuhi syarat. Dan jika dipaksakan maka tentu menimbulkan akibat dengan segala konsekuensinya. Seperti membludaknya jumlah pasien positif di masyarakat dan tidak tertampung di RS-RS yang ada. Kapasitas RS menjadi overload. Keterbatasan nakes yang merawat hingga APD yang semakin langka dan mahal. Kondisi ini akan semakin membuat keadaan karut marut.

Antisipasi atas kebijakan new normal life juga belum nampak. Namun beberapa kebijakan sebelumnya sudah terlihat inkonsistensinya. Bukan tak mungkin kebijakan new normal life hanya semarak di awal tanpa antisipasi dampak yang terjadi. Akibatnya rakyat tetap diminta berjibaku dan berjuang sendiri.

Sejatinya di era new normal life, rakyat diharapkan tetap beraktivitas normal tapi dengan perubahan perilaku sebagaimana protokol kesehatan yang sudah ditetapkan. Nampak bagus dan efektif bila diterapkan. Namun tidak ada jaminan sepenuhnya akan dilaksanakan dengan tertib dan taat oleh rakyat. Seruan stay at home dan PSBB saja banyak pelanggaran. Dengan demikian jaminan aman dari penularan covid masih dipertanyakan.

Syariah Islam Solusi Efektif sehingga Aman dan Produktif

Ekonomi yang diperjuangkan oleh pemerintah lebih mengedepankan pemilik usaha. Rakyat yang kelaparan, ataupun kehilangan pekerjaan belum mendapat kepastian nasibnya ke depan. Demikianlah ada beda perlakuan antara rakyat jelata dan pengusaha. Rakyat cukuplah dibungkam dengan bansos yang tak seberapa yang habis dalam sekejap mata sedangkan hidup selanjutnya masih terlunta-lunta. Adapun pemilik usaha diperhatikan dengan dalih kebangkitan ekonomi.

Sejatinya keberpihakan penguasa kepada pengusaha merupakan ciri khas sistem kapitalisme yang dianut. Materi menjadi tujuan sehingga untung rugi selalu diperhitungkan. Adapun tugas dan kewajiban negara yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya malah diabaikan. Ketika rakyat terdampak pandemi menjadi kelaparan dan kehilangan pekerjaan, negara justru menghimbau rakyat bersedekah. Mengumpulkan receh demi receh dari rakyat tanpa ada tindakan nyata untuk meberikan solusi.

Sangat jauh berbeda dengan kebijakan yang diambil oleh penguasa dalam sistem Islam. Negara memikul tanggung jawab yang ada di pundaknya karena itulah yang menjadi tugasnya sebagaimana sabda Rasulullah saw “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari). Juga akan  melindungi rakyat dari segala hal karena itu juga menjadi tugasnya sebagaimana sabda Rasulullah saw ”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Dalam Islam ketika terjadi wabah akan diberlakukan karantina. Kebijakan karantina pada saat wabah ini merupakan upaya agar yang sehat dan yang sakit dipisah. Yang sakit mendapat perawatan yang tepat dan yang sehat tetap dapat beraktivitas sebagaimana biasanya. Maka krisis ekonomi tidak akan terjadi, produktivitas tetap terjadi, ekonomipun dapat terkendali.

Keterpurukan ekonomi global sejatinya bukan hanya karena pandemi. Rapuhnya sistem ekonomi tersebut karena dibangun dari asas kapitalisme yang memang rapuh karena buatan manusia. Adanya pandemi corona justru sebagai sarana untuk mempercepat kehancurannya. Maka tidak layak mempertahankan sistem kapitalisme yang sudah rusak dari asasnya.

Saatnya berganti dengan sistem yang dibangun dari asas syariat Islam yang berasal dari Allah SWT. Sungguh corona adalah ciptaan-Nya, maka mudah bagi Alah untuk menjadikannya sebagai “senjata”. Dengan demikian new normal life hanyalah upaya kapitalisme untuk bertahan. Yakinlah tidak bertahan lama, kehancuran sudah di depan mata. Saatnya beralih pada hidup yang sebenarnya bagi umat Islam yaitu dalam sistem Islam yang sempurna. Niscaya persoalan akan teratasi semuanya. Wallahua’lam bisshowab.

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: