5 Oktober 2022

Penulis : Isma Adwa Khaira – Lingkar Pendidik Peradaban

Dimensi.id-Hari Raya Idul Fitri 1441 H disambut oleh kaum muslimin di seluruh dunia dengan wabah yang masih terus berkembang luas. Sama halnya dengan negara Indonesia yang mengalami peningkatan jumlah positif Covid-19. Hingga total sabtu (23/5) positif virus bertambah hingga mencapai 21. 745 kasus. Dengan penambahan kasus baru 900 lebih dalam 24 jam. (IDN Times)

Pada Moment kemenangan kali ini, Presiden Joko Widodo mengungkapkan bahwa harus dirayakan dengan cara berbeda karena pandemi virus. Karena menuntut pengorbanan semua orang untuk tidak mudik dan bersilaturahmi demi keselamatan seluruh rakyat. (Kumparan)

Hal senada juga di ungkapkan oleh KH. Ma’ruf Amin selaku Wakil Presiden Indonesia dalam acara Takbir Virtual Nasional dan Pesan Idul Fitri dari Masjid Istiqlal. Ia mengingatkan agar kaum muslimin melewati pandemi virus corona dengan memperkuat iman dan takwa. Karena ketika masyarakat beriman dan bertakwa Allah akan memberikan keberkahan, kesuburan, keamanan, keselamatan dan dihilangkan dari berbagai kesulitan. (Tempo. Co)

Ungkapan yang dilontarkan oleh Presiden dan Wakil Presiden Indonesia memberikan 2 persimpangan pada pemikiran rakyat Indonesia. Karena Inkonsistensi penguasa pada penanganan wabah virus corona.

Pengorbanan dilakukan oleh rakyat dengan tidak mudik dan bersilaturahmi semata-mata untuk mengentaskan rantai penyebaran Virus Corona. Sementara, Penguasa memilih menggunakan opsi fenomenal untuk berdamai dalam penanganan wabah yang justru mendapat pertentangan oleh praktisi kesehatan. Dengan kata Herd Immunity atau kekebalan komunitas. Hal ini justru membuat penyebaran semakin menggila dan mengorbankan nyawa rakyat.

Pada sisi yang lain, Penguasa meminta rakyat untuk melakukan ibadah sholat idul fitri di rumah ataupun menghentikan sementara kegiatan di Masjid. Namun, membuka tempat perbelanjaan, bandara yang akan menjadi bom waktu dalam peledakan jumlah positif covid-19 bila terus dilanjutkan. Menginginkan wabah segera berakhir namun memberikan solusi yang bertentangan.

Seperti yang di ungkapkan oleh Wakil Presiden bahwa iman dan taqwa akan membawa kemaslahatan dan hilangnya berbagai musibah. Apa itu iman? Ali bin Abi Talib mengatakan bahwa, Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota.

Takwa adalah seseorang beramal ketaatan pada Allah atas cahaya (petunjuk) dari Allah karena mengharap rahmat-Nya dan ia meninggalkan maksiat karena cahaya (petunjuk) dari Allah karena takut akan siksa-Nya.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (TQS. Ar-Ra’d [13]: 11).

Tidak dapat dipungkiri bahwa kemaksiatan masih terus merajalela di negeri ini. Kejahatan terus meningkat, hutang luar negeri meningkat dengan riba yang haram, serta abainya penguasa terhadap kesejahteraan rakyat inipun adalah kemaksiatan yang besar. Mengimani namun tidak mentaati aturan Allah.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibn Umar Ra. Bahwa Rasulullah bersabda, seorang imam yang berkuasa atas masyarakatnya bagaikan penggembala yang akan dimintai pertanggunjawab atas gembalaannya.

Imam adalah Ro’in yakni pelindung bagi rakyatnya. Lalu bagaimana wabah ini akan berakhir bila penerapan penanganan tidak total? Iman dan takwa yang diwasiatkan oleh penguasa untuk dijalankan rakyat tapi tidak dijalankan oleh penguasa sendiri. Sungguh ironi.

Sistem kapitalisme yang menggaungkan materialisme tanpa memandang kemaslahatan masyarakat menjadi tonggak tegaknya pemerintahan saat ini. Penguasa yang seharusnya melindungi setiap nyawa dari masyarakat lebih memilih menjadi penjaga koorporasi. Lebih khawatir ekonomi anjlok dari pada ribuan nyawa rakyat yang meninggal.

Maka, wajar akan kita dapati inkonsistensi solusi penanganan wabah meski hari kemenangan kaum muslimin hadir. Keimanan dan ketaqwaan tidak akan didapati dari diri penguasa bila sistem yang digunakan untuk memimpin masyarakat bukanlah sistem Islam. Sistem yang dibuat oleh Allah sebagai Pencipta dan Pengatur.

Rasulullah adalah contoh terbaik disetiap masa kehidupan dalam menerapkan aturan Islam sebagai solusi kehidupan. Wabah pun pernah terjadi di masa Rasulullah. Dengan solusi karantina dan penanganan total dari Rasulullah.

Rasulullah telah menjelaskan tentang bahaya riba bagi suatu negeri. Menjelaskan tentang kebersihan dan bagaimana menjaga kehormatan wanita dengan tidak campur baur selain mahram. Luar biasanya Islam mengajarkan tentang kebersihan dan kesehatan. Disertai keimanan total kepada Allah Swt.

Bila terjadi wabah, penguasa dalam sistem Islam menunjukkan bagaimana seharusnya seorang pemimpin. Dimana pemimpin dalam Islam bertanggungjawab penuh hingga wabah selesai ditangani. Dan ini tidak akan didapati pada sistem selain sistem Islam. Bila ingin wabah selesai maka satu-satunya solusi adalah kembali kepada aturan Allah dalam bingkai pemerintahan bernama Khilafah.

Wallahu A’lam Bisshawwab

Editor : Fadli

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: