30 September 2022

Penulis : Cut Zhiya Kelana, S.Kom

Lama tak hujan di negeri petro dolar ini, rasanya mereka lebih kenal negeri ini karena hawa panasnya yang sangat menyengat kulit. Jam 8 rasa seperti jam 9 pagi, apakah mungkin karena letaknya dekat pantai yang terkenal itu? Pantai ini sebenarnya biasa saja, tidak menarik hanya bersih dari sampah saja, meski di bibirnya gak luput dari sampah yang menumpuk. Airnya juga biru, namun sering kali pasang dan bahkan sampai merusak beberapa rumah kala purnama ke-15. Ah… aku tidak mengerti masalah seperti itu, meski aku suka melihat bintang dan bulan dimalam hari.

Tanah mengering begitu juga sumur menguning. Maka hujan itu sebuah rahmat yang paling dinanti. Apalagi bagi para petani dan pekebun, siapa yang mampu menyirami tanaman mereka jika bukan dengan hujan atau irigasi. Bunga-bunga layu pun kembali segar, mereka bertasbih memuji Tuhan tanpa kita tahu caranya bagaimana. Biasa sang kodok juga bernyanyi ceria sepanjang malam dan itu sangat mengganggu, tapi kurasa malam ini belum. Mungkin karna belum banjir, itulah cara sang kodok bertasbih pada Tuhan.

“Ini puasa keberapa sih?” Tanya mamak padaku

“Puasa ke empat Maka?” jawabku

“Tapi bulan dilangit udah 6 loh” katanya begitu

“Yah wajar kemarin hilal kan gak Nampak, Mak” kataku menimpali

Sejenak aku berfikir, kalo lah benar kata mamak berarti puasa 2 hari yang lalu seharusnya. Mamak gak perah meleset perkiraannya, namun aku berharap kali ini meleset. Mamak itu SD saja tidak tamat, tapi urusan astronomi ngalahin aku yang S1. Bisa membaca arah angin, bulan dan bintang bahkan para hewan. Sungguh aku ingin bertanya dimana mamak belajar semua itu. Kemarin ada yang Tanya, apakah Mamak ku punya ijazah SD aja setidaknya akan memudahkannya mendapatkan rumah bantuan. Ya… rumah yang ku tempati saat ini bukan milik sendiri, kapan saja bisa diambil kembali.

Saban hari Mamak kesana-kemari membawa foto copy KK dan KTP-nya memohon bantuan untuk merenovasi dapur yang bocor berlantai tanah berdinding spanduk dan seng bekas juga kayu lapuk yang sewaktu-waktu bisa roboh kapan saja. Belum lagi rumah tanpa jendela, sudahlah dirumah tak punya kipas angin kecuali angin alam saja yang kami berharap menyapa dikala panas menerpa. Rumah tanpa jalan, senantiasa di terjang banjir. Belum lagi disamping rumah rawa hutan belantara. Paket komplitlah, intinya menikmati setiap rezeki merupakan wujud syukur sebagai hamba-Nya.

Bagi si miskin ini setiap bantuan itu cukup berharga, bukan karena ingin mengemis, tapi karena itu hak kami diantara harta mereka yang berada. Meski dipungkiri mereka akan berada disana bertanggung jawab atas setiap pengabaian itu. Begitu juga kala covid melanda saat ini, setiap ada bantuan pasti kami berada didepan tentu agar anaknya bisa makan dan tak kelaparan. Tidak butuh banyak cukup untuk makan saja sudah syukur Alhamdulilah,

“Ada foto copy KK dan KTP mamak lagi?” Tanya mamak

“Lah kan kemarin udah semua dikasih? Buat apa lagi mak?” tanyaku

“Cari bantuan lah, itu ada keluar uang BLT katanya harus buat buku rekening lagi” kata mamak

“Kan kemarin udah kita buat mak?” kataku lagi

“Iya tapi salah katanya harus di BRI gak boleh di BPD” kata mamak

“Kenapa mereka kasih info gak jelas gini, ribet kali pun macam gak ikhlas aja” jawabku rada kesal kepada mereka yang entah siapa mempermainkan orang miskin ini

“Jadi gimana ya, apa nanti kita gak dapat uang itu?” kata mamak mulai risau

“Udah mamak tenang aja, rezeki gak bertukar, kalo Allah bilang ada jatah kita mau caranya gimana pun pasti sampai ke kita” kataku menenangkan beliau

“Terus nanti kalo harus buat buku baru gimana, mamak gak punya uang?” katanya lagi

“Nanti ada, insyaallah Mak” jawabku menghela nafas panjang karena orderanku sedang sepi

Mungkin beliau tahu bahwa aku tak punya lagi tabungan buatku beri, tapi ku yakini hati bahwa Allah sang maha pemberi rizki tak akan membuat hambanya kelaparan. Sudah lah manusia sedang susah seperti ini, bukannya memudahkan malah dipersulit. Rasanya aku geram sekali jika memikirkan hal ini, ya Rabb tolonglah kami… siapapun yang tertawa atas derita kami kelak ia akan menangis berjumpa denganmu dalam keadaan hina.

Teringat aku akan sebuah kisah Umar Abdul Aziz dimana dimasa pemerintahannya, masyarakat hidup makmur sentosa. Bahkan tak ada yang mau menerima zakat pada masa itu, hingga sang khalifah pun bingung harus kemana dibawa uang umat ini. Karena ia takut akan menzhalimi orang lain dengan menyimpan harta negara. Karena mereka punya hak atas harta itu, maka siapapun yang akan menikah, akan dinikahkannya. Siapapun yang berhutang, akan dilunasinya. Masyallah rindunya padamu wahai khalifah… kau sumbangkan semua hartamu agar tak bercampur dengan harta umat, kau hidup sederhana bahkan ketika kau teringin sekali memakan buah apel, ketika diberi kau hanya mencium aromanya saja sudah cukup bagimu.

Sungguh khalifah… tiada yang seperti mu, bagaimana kau didik seperti itu jika bukan Islam yang luar biasa sempurna datang untuk umat ini. Tentu saja kau belajar dari sang teladan mulia Rasulullah tercinta, sang pembawa risalah yang sangat dicintai seluruh dunia. Tak sedikit pun kuragu akan hal itu, tak akan goyah langkah ini. Sungguh untuk mendapatkan cintamu perlu perjuangan yang luar biasa. Maka aku hanya meminta kepada sang khaliq agar menguatkan aku untuk melalui ujianmu [S]

Editor : azkabaik

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: