5 Oktober 2022

Penulis : Cut Zhiya Kelana, S.Kom

Dimensi.id-Terlelapnya aku hingga tak kusadari bahwa diluar gerimis, langit sendu…sebuah drama yang paling ku rindu. Menatap hujan dibawah jendela tak berkaca, entah kenapa semacam orang bodoh aja. Tapi hujan itu membawa ketenangan bagiku, aroma hujan yang membasahi tanah, Semua kenangan ada disana, suka dan duka. Hujan kala itu aku bersama beberapa teman sedang dibully oleh para pemuda di kampungku. Saat itu aku masih bocah ingusan, iya aja sih perlombaan siapa peduli. Tapi jahatnya mereka suruh aku nyebur ke kolam yang dalamnya itu dibawahnya belut, mereka tertawa di pinggir kolam dengan terkekeh.

Perkampungan itu rawan banjir, jangan Tanya apa kami dapat bantuan dari pemerintah. Beh…boro-boro dil deh…malah mereka yang rumahnya lebih tinggi dari kami pun menutup matanya. Tapi disanalah bahagia itu kutemukan dengan cara sederhana, bahkan tak jarang kala banjir datang aku harus tetap ke sekolah sambil digendong ayah atau mamak. Biar tak basah dan kotor katanya, karena guruku yang cerewet selalu memanggil mamak kesekolah.

Masa konflik dulu, ramadhan kami berdarah. Peluru tak berhenti berbunyi bukan memeriahkan ramadhan kami. Tapi karena masa konflik saat itu suasana mencekam, pertikaian antara anggota GAM dan TNI semakin panas. Aku tak ingat berapa tahun masa konflik itu, namun sejak itu jam malam berlaku. Siapa yang berani keluar kalau bukan berhadapan dengan maut. Saat itu harusnya aku dan adik-adikku pergi mengaji di kala malam. Jaraknya lumayan lah jalan kaki sekitar 10 menit, namun belum jauh kami berjalan tiba-tiba suara desingan peluru menghampiri. Adik-adikku menangis dan kami berlari agar cepat sampai kerumah karena dijalan pun sangat sunyi.

Konflik itu pula yang memisahkan antara aku dan teman-temanku yang kebanyakan bersuku jawa. Fasihnya bicaraku kadang disansikan bahwa aku bukan dari suku Aceh. Pada saat itu semua suku jawa dibully mereka diminta pergi meninggalkan Aceh. Bahkan mereka tak sempat berpamitan padaku. Keesokan harinya kulihat rumah mereka sudah bersilang merah diberi tanda dengan cat oleh mereka. Aku hanya menangis kala merindu hingga terbawa mimpi. Sekian lama berlalu jarak dan waktu memisahkan kami dan tak ada kabar berita sama sekali, aku rindu mereka namun tak tahu dimana harus ku mencari, hingga suatu hari datanglah keluarganya kerumahku.

“Masuk wak” ajakku padanya, kulihat wajahnya menua dan rambutnya memutih. Dulu ingat sekali betapa beliau sering marah dan tidak suka padaku saat ku ajak anaknya bermain.

“Kotor kaki wawak ini” katanya melihat kaki ayamnya yang penuh pasir baru pulang dari pantai

“Gak apa wak, tar bisa kita sapu” kataku pada beliau lagi

“Basah kami ini loh” katanya lagi dengan logat melayunya, mungkin enggan untuk masuk

“Kan bisa dipel nanti wak” kataku lagi

Beliau pun masuk, dan bercengkrama dengan mamak. Selain anaknya yang bersahabat, para mamak ini juga bersahabat. Berpelukan karena rindu dan lama tak berkabar. Beliau dulu jualan pecel dan cenil sangat enak, makanya setiap makan itu pasti aku ingat mereka. Kadang kutemani saat mengiling bumbu kacang, sembari menggoda meminta sedikit karena tak tahan aromanya. Aku benar-benar rindu mereka, bermain hujan-hujanan bersama tak lupa bermain bola dengan abangnya dan mereka menjadi suporterku.

Sewaktu beliau hendak pulang dan berpamitan, entah kenapa aku tiba-tiba ingin sekali menitip salam kepada mereka. Yang kutanya bukan Nella tapi Mira, entahlah rindu itu tak dapat ku mengerti sama sekali. Kufikir mau minta no hp mereka atau sosmed mereka kepada kakaknya yang juga teman si kakakku. Ah… rindu itu perih sekali kepada mereka yang tidak dapat kita temui lagi

“Wak..salam sama Mira ya!” kataku sambil salim padanya

“Mira dah meninggal nak… baru sebulan yang lalu” jawab mamaknya datar

“Sakit apa wak Mira” tanyaku lagi

“Sakit perut, makanya itu yang cowok anaknya wawak bawa karena gak mungkin sama suaminya” jawab mamaknya sambil menunjukkan anak Mira

Aku rasa terhempas tak bisa berkata apapun. Butiran mutiara ingin mengalir di pipi, tapi kutahan hingga beliau pergi agak menjauh dari perkarangan rumahku. Ah…Mira cepatnya kau pergi, sungguh Allah sayang padamu. Belum sempat kita bertemu, semoga Allah menempatkanmu diantara orang-orang soleh… maafkan sahabatmu ini yang belum sempat menjengukmu, karena tidak tahu kau dimana. Bukan tak mencari namun jarak dan waktu menjadi sebuah pemisah yang tidak bisa kita lalui.

Bocah kecil kurus hitam itu sekarang menjadi piatu, beruntungnya ia memiliki keluarga seperti Mira yang ramai. Hingga nantinya ia tak merasa sendiri, namun jika ia rindu ibunya gimana?? Terus saja butiran mutiara membasahi pipiku. Takdir kita seperti ini ya!, andai saja konflik itu tak membuat keluargamu terusir dari tanah Aceh yang kalian cintai. Dan maafkan kami yang tak bisa melakukan apapun untuk kalian selain dari pada doa.

Mereka yang membuat sekat nasional semakin melebar padahal kita disatukan karena Islam. Islam akan menjaga harta, jiwa dan raga kita, menyatukan semua perbedaan suku bangsa dan bahasa. Hingga tidak akan kita rasakan lagi perpisahan seperti ini kawan. Inilah cara mereka menghancurkan daulah dulu dengan menyuarakan nasionalisme, dan mencabik-cabik daulah Islam dan terpecah agar mudah dijajah dengan kata kemerdekaan. Sesungguhnya kita adalah budak mereka dan kita tidak pernah merdeka kecuali dengan Islam. [S]

Editor : azkabaik

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: