5 Oktober 2022

Dimensi.id-Pandemi Covid-19 masih berlangsung hingga saat ini. Tidak hanya di negara asalnya, Cina, persebaran Covid-19 telah menyebar hampir ke seluruh wilayah dunia. Disebutkan bahwa kasus yang disebabkan oleh virus ini telah mencapai 3 juta kasus di lebih dari 185 negara di dunia (kompas.com,29/04/20).

Satu demi satu upaya dilakukan guna mengerem laju peningkatan jumlah kasus covid-19 namun sejauh ini belum ada sebuah terobosan yang signifan. Tidak hanya di negara dunia ketiga, negara-negara maju sekelas Cina, AS dan Eropa Nampak kepayahan menghadapi pandemi covid-19.

Cina, sebagai negara pertama yang ditengarai sebagai pencetus pertama wabah, merasa kewalahan hadapi virus corona. Komite Pengarah Biro Politik Partai Komunis China (PSC) mengakui pemerintah kesulitan dalam menghadapi wabah virus corona yang merebak dengan cepat sejak akhir 2019. PSC mendesak pemerintah untuk memperbaiki manajemen penanggulangan situasi darurat untuk menghadapi kondisi seperti itu di masa mendatang. (cnnindonesia.com,04/02/20).

Tak jauh berbeda dengan rival nya, AS. Negeri Paman Sam ini dikabarkan juga mengalami kesulitan dalam meredam peningkatan kasus covid-19. Denyut perekonomian AS dikatakan berada di titik terendah akibat banyaknya sektor bisnis yang lumpuh. AS menjadi salah satu negara dengan jumlah penderita covid-19 meninggal dan terinfeksi terbanyak, yakni lebih dari 22.000 orang meninggal dan sekitar 555.000 terinfeksi (bbc.com,13/04/20). Begitupula halnya kondisi Inggris, Rusia, Italia dan negara kapitalis barat lainnya yang terlihat gagap dalam menghadapi wabah pandemi ini.

Pasca meluasnya persebaran pandemi corona, keseimbangan ekonomi negara kapitalis barat telah terpukul mundur. Menurut kepala ekonom IMF, Gita Gopinath, pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah setempat dalam rangkan membendung persebaran virus telah banyak membuat kegiatan global terhenti, merugikan bisnis dan menyebabkan orang kehilangan pekerjaan (cnbcindonesia,25/04/20).

Beberapa dampak nyata yang diprediksi menjadi “tumbal” wabah pandemi covid-19 secara global adalah: peningkatan jumlah pengangguran, terpuruknya industri jasa, aktifitas manufaktur menurun, perdagangan melambat dan ekonomi global menyusut.

Kondisi Indonesia pun juga kurang lebih sama, terkesan gagap dan lambat dalam penanganan wabah. Sejak awal wabah covid-19 mulai berekspansi, beberapa pejabat publik negeri ini tidak sedikit yang melakukan penyangkalan. Menurut analis dan pakar Epidemiolog FKM Universitas Indonesia, Pandu Riono pemerintah sudah sejak lama menyangkal mengenai temuan kasus covid-19 sejak Januari 2020. Pemerintah dikatakan senantiasa berkelit dan menggampangkan masalah dengan mengatakan bahwa virus corona tidak akan pernah masuk ke Indonesia, bisa dicegah dengan rajin minum jamu serta memperbanyak doa (m.detik.com,20/04/20).

Kebijakan pemerintah terkait upaya penanganan wabah covid-19 juga tidak sedikit yang kontroversial. Diantara kebijakan yang dinilai tidak tepat sasaran adalah pelepasan para napi, berbedanya perlakukan antara mudik dan pulang kampung, lalu yang terbaru adalah berdamai dengan wabah. Pembebasan  36.554 narapidana juga dianggap telah “berkontribusi” cukup signifkan terhadap peningkatan kasus kejahatan sebesar 11,80 persen (m.liputan6.com,22/04/2020). Di sisi lain para tahanan politik seperti para aktifis Islam dan ustadz yang lantang menyuarakan Islam dan mengoreksi penguasa tidak kunjung dibebaskan.

Begitupula dengan kebingungan yang dimunculkan dari adanya perbedaan definisi mudik dan pulang kampung. Hingga akhirnya muncul himbauan pemerintah kepada masyarakat untuk berdamai dengan corona. Pemerintah berkeyakinan bahwa kita harus hidup berdampingan dengan corona sebagaimana yang dikutip dari WHO. Alasannya, karena virus ini tidak akan segera menghilang dan tetap ada di tengah masyarakat (cnbcindonesia.com,17/05/20).

Telah nampak adanya ketidakmampuan dan ketidaksiapan negeri ini dan negara kapitalis lainnya menghadapi pandemi covid-19. Kondisi lemah ketika menghadapi wabah ini muncul disebabkan karena negara barat dan pengikutnya, melalui ideologi kapitalisme-nya, telah menerapkan kebijakan yang tidak efektif.

Selain itu juga dikarenakan adanya segelintir pihak yang ingin mencari keuntungan dari wabah ini (misal dengan tetap membuka kran ekspor di tengah kebutuhan mendesak APD dalam negeri). Ini semua menjadi bukti kegagalan global Kapitalisme dalam mengatasi wabah akibat bathilnya ideologi yang dijadikan pijakan. Solusi yang ditawarkan oleh negara-negara kapitalisme global cenderung materialistik dan politis, sehingga mengabaikan keselamatan jiwa manusia.

Islam memiliki cara pandang yang khas tentang kehidupan. Islam pun memberi orientasi yang berbeda dalam menghadapi wabah. Berpijak dari apa yang diperintahkan oleh Nabi SAW ketika terjadi wabah, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari di dalam Shahih-nya, dari Usamah bin Zaid, dari Nabi SAW, Beliau bersabda,”Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kalian berada, maka jangan tinggalkan tempat itu”.  Syariat Islam juga menempatkan penguasa sebagai raa’in atau penaggungjawab, seperti yang terdapat dalam salah satu hadits Nabi SAW, “Seorang imam adalah raa’in dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” (HR Bukhari).

Khilafah sebagai representasi penerapan syariat Islam yang kaffah memiliki mekanisme menghadapi wabah dengan Khalifah (penguasa) sebagai raa’in. Diantara mekanisme penanganan wabah dalam Khilafah adalah menelusuri wabah sejak awal dan membatasi persebarannya di tempat kemunculannya, melalui kebijakan karantina Khalifah akan memastikan terpenuhinya semua kebutuhan rakyat dengan mengikuti mekanisme politik ekonomi Islam, serta tidak lupa menerapkan sanksi terhadap para pelanggar kebijakan ini.

Demikian sekelumit gambaran kesempurnaan Islam dalam mengatasi wabah. Sangat kontras dengan bagaimana kapitalisme memandang penyelesaian atas wabah. Syariat Islam berorientasi pada kemashlahatan hidup manusia, adapun kapitalisme lebih memperhitungkan dari sisi besarnya dan kecilnya nilai ekonomi yang diraih. Tentunya ketangguhan syariat Islam dalam menghadapi wabah ditopang oleh kekuatan politik negara adidaya, Khilafah Islamiyah.

Wallahu’alam

Editor : azkabaik

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: