5 Oktober 2022

Penulis : Mulyaningsih (Pemerhati Masalah Anak, Remaja, dan Keluarga; Member Akademi Menulis Kreatif)

Pakar statistik yang berasal dari Universitas Gadjah Mada memprediksi wabah Corona akan selesai pada 29 Mei. Direktur Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Prof Amin Soebandrio menyebut bahwa wabah akan selesai pertengahan April hingga Mei.

Di sisi lain,  Guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (Prof dr Ascobat Ghani, MPH, DrPH.) mengatakan bahwa akhir dari wabah ini antara Mei dan Juni. Hal tersebut diperkuat dengan hasil riset dari Lingkaran Survey Indonesia (LSI) Denny JA, menyebutkan wabah Corona berakhir pada Juni 2020. Bahkan orang nomor satu di negeri ini angkat bicara soal wabah Corona. Presiden Joko Widodo meyakini bahwa wabah akan usai di akhir tahun. (detik.com, 06/05/2020)

Tak terasa, waktu bergulir begitu cepat. Tagar di rumah saja sudah lebih dari dua bulan kita laksanakan bersama. Tentunya semua itu dilakukan agar wabah ini segera berakhir, karena realita berbicara bahwa rakyat sudah mulai bosan dengan ini semua. Berbagai saran dari pemerintah sudah pula dijalani oleh masyarakat, walaupun memang masih belum sepenuhnya.

Namun, sampai saat ini belum tampak jelas oleh kita penurunan jumlah korban pandemi. Semakin hari, kian banyak saja korban yang berjatuhan. Sampai pada akhirnya, ada beberapa pakar yang gelah memprediksi kapan akhir dari semua ini. Di tengah harap-harap cemas penantian panjang, ini membuat penyegaran di kalangan masyarakat secara umum. Ibarat mendapatkan air kala sedang kehausan melanda. Sungguh begitu gembira dan penuh suka cita.

Dalam menghadapi berbagai persoalan di dunia ini tentunya manusia harus bersikap optimis. Apalagi kala wabah melanda seperti sekarang ini. Optimis saja tak cukup untuk menghadapi wabah Corona, namun perlu adanya kerja keras manusia secara optimal agar dapat memutus mata rantainya.

Pengamat epidemiologi Tri Yunis Miko Wahyono menyarankan dilakukan intervensi lokal bersama kabupaten sekitar agar cepat ditanggulangi. Selain itu, penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan phisycal distancing secara ketat. Namun, menurutnya wabah Covid-19 tidak bisa dihentikan dalam waktu singkat. (sindonews.com, 07/05/2020)

Semua orang past mengiginkan wabah ini cepat pergi dan berlalu. Tentunya ada usaha maksimal yang harus dilakukan agar pandemi ini berakhir. Kebijakan yang diberlakukan tentunya harus konsisten agar memang benar adanya memutus mata rantai si virus. Namun yang terjadi saat ini adalah tarik ulur kebijakan masih mendominasi.  

Untung rugi menjadi hal utama yang dipertimbangkan oleh para penguasa negeri ini. Rakyat belum lagi menjadi acuan utama dan pertama yang harus dipenuhi. Maka amatlah wajar jika rakyat akhirnya merasa bodo amat terhadap segala sesuatunya. Bahkan mereka akhirnya melanggar dari kebijakan-kebijakan yang ada.

Apalagi bagi rakyat kecil yang hanya mendapatkan recehan uang manakala ia menjemput rezeki tiap hari. Mereka sampai beranggapan, kami tak bisa makan jika tidak bekerja setiap hari. Sungguh ironis melihat kejadian seperti ini. Sungguh menyayat hati, bak terkena sembilu. Pedih dan perih terasa sampai ulu hati.

Berbagai kebijakan yang muncul di negeri ini hanya membuat harapan palsu semata. Seolah-olah peduli terhadap nasib rakyatnya. Namun, fakta sesungguhnya adalah hanya segelintir rakyat yang diurusi. Hal itu muncul karena sistem yang sekarang bercokol hanya mampu mengobral janji manis belaka, tampa ada aksi nyata yang dilakukan. Kebijakan yang ada hanya menuju pada orang-orang tertentu saja (pemilik modal) bukan pada rakyat jelata. Karena sejatinya yang berkuasa atas segalanya adalan para kapital tadi. Ditambah dengan dasarnya sekularisme makin membuat kebijakan yang ada jauh dari tuntunan hidup manusia, yaitu Islam. Dalam persoalan hidup, Islam tidak boleh hadir untuk mengatasinya. Itulah fakta yang terjadi sekarang ini.

Sehingga, bicara tentang akhir dari wabah ini maka tak bisa dipastikan. Karena ini menyoal sistem yang harus diterapkan dalam kehidupan manusia. Solusi yang ditawarkan tidak pada satu ranah kehidupan saja tetapi saling terkait satu dengan yang lainnya.

Pandangan Islam

Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Seluruh lini kehidupan manusia ada aturannya dalam Islam tanpa terkecuali. Islam juga mengatur pola hubungan manusia dengan Rabb, diri, dan sesamanya. Sebagaimana yang tercatat kegemilangannya selama tiga belas abad lamanya Islam pernah berjaya. Islam diterapkan pada dua pertiga dunia ini. Sungguh sejahtera, aman, damai itulah gambaran nyata.

Keimanan menjadikan kaum muslim benar-benar sadar akan amanah yang menjadi tanggung jawabnya. Karena nanti akan dimintai pertanggungjawabannya di Yaumil akhir kelak. Sehingga pemimpin yang terlahir tentunya akan benar-benar dalam menjalankan amanahnya selama ia menjabat.

Dalam Islam, seorang kepala negara (Khalifah) adalah pelayan. Ia bertugas untuk melayani dan mengayomi rakyat yang dipimpinnya. Maka wajarlah jika seorang khalifah akan sangat hati-hati melayani rakyatnya.

Rasulullah menegaskan, “Khalifah itu laksana perisai tempat orang-orang berperang dibelakangnya dan berlindung kepadanya….”(HR Muslim).

Dari hadist di atas didapatkan bahwa seorang khalifah menjadi perisai atau tameng bagi rakyatnya. Ia berkewajiban untuk melindungi rakyat seutuhnya. Sebagai pelindung rakyat, begitu adanya wabah maka khalifah akan membuat kebijakan cepat dan tepat sasaran.

Lockdown wilayah pandemi menjadi keharusan agar wabah tidak menyebar ke seluruh daerah. Tentu dari sisi pemenuhan kebutuhan pokok wajiblah dipenuhi oleh negara. Baik pangan, sandang, papan, keamanan, maupun kesehatan. Tak lupa, negara akan senantiasa menjaga keimanan individu rakyatnya. Mengokohkan aqidah umat agar penyelesaian pandemi cepat diatasi.

Dengan adanya kebijakan yang jelas, cepat, dan tepat tadi tentunya mengatasi suatu wabah tidak menjadi hal yang semu semata. Namun, bisa terealisasikan dengan nyata adanya. Sehingga rakyat akan selalu optimis serta mampu melakukan usaha maksimal di bawah perlindungan negara yang mengayomi mereka dengan baik.

Maka jika ada prediksi wabah akan segera berakhir, tak lagi menjadi fatamogana semata. Sebuah harapan nyata akan kehidupan yang lebih baik dan yakin akan berhasil melewati wabah ini tentunya dengan meningkatnya keimanan. Begitulah gambaran solusi Islam, tak hanya main prediksi namun kejelasan serta langkah yang pasti. Wallahu alam bisshawab. [S]

Editor : azkabaik

Apa pendapatmu?

This site uses User Verification plugin to reduce spam. See how your comment data is processed.
%d blogger menyukai ini: